Kualitas Sarang Burung Walet Sumut Terbaik di Dunia

Produksi sarang burung walet (SBW) Sumatera Utara menjadi primadona di pasar di negara Hongkong, Vietnam, Malaysia dan Taiwan dan Tiongkok.(Foto:MEDANmerdeka/Ist)

MEDAN - Sarang burung walet (SBW) dari Indonesia, khususnya Sumatera Utara (Sumut), menjadi primadona di pasar di negara Hongkong, Vietnam, Malaysia dan Taiwan dan Tiongkok. Bahkan, nilai ekspornya  mengalahkan negara Malaysia dan Thailand.

"Indonesia merupakan eksportir SBW nomor satu dunia. Kualitas SBW mendapatkan penilaian yang terbaik. Ini terlihat dari meningkatnya permintaan pasar. Sehingga, tren ekspor mengalami peningkatan," kata pengusaha SBW, Yogi Pramadani di Medan,  Kamis (12/9/2019).

Total ekspor SBW Sumut Tahun 2018 sebanyak 20,86 ton, memiliki estimasi Rp 41,4 Miliar. PT Ori Ginalnest Indonesia merupakan perusahaan eksportir SBW terbesar asal Sumut, yang dinilai mumpuni dalam kegiatan ekspor. Perusahaan ini memasok sebesar 31 persen dari total ekspor secara nasional.

Chief Executive Officer (CEO) Raflesia Group ini menambahkan, tren ekspor SBW asal Sumut melalui PT Ori Ginalnest ke Tiongkok mengalami peningkatan dari 13,7 ton di tahun 2017, menjadi 20,86 ton pada 2018. Begitu juga secara nasional, yakni 23 ton di tahun 2017 kemudian menjadi 52 ton pada tahun 2018.

Adapun penghargaan yang diterima PT Ori Ginalnest Indonesia dari pemerintah negeri Tiongkok diantaranya, The Best Exporter 2017 BCRC (Bird Nest Credit Alliance of Registration and Certification, red)-China Government, The Best Exporter 2018 BCRC-China Government, The Best Exporter 2018 CAWA (China Africulture Wholesale Market Association, red)-China China Association dan The Best Supplier 2018 EBMC-China Association.

"Tingginya permintaan pasar dunia karena berdasarkan hasil penelitian dunia bahwa SBW dinilai dipercaya memiliki beragam manfaat untuk tubuh karena memiliki kandungan 10 persen sialic acid, sehingga dibutuhkan. Penilaian dunia ini sangat positif, SBW asal Indonesia ternyata paling diakui mancanegara," jelasnya.

Yogi Pramadani mengaku optimistis, ekspor SBW dari Sumut bisa ditingkatkan karena didukung sumber daya alam di daerah tersebut. Optimisme peningkatan ekspor itu didasarkan pada sumber daya alam yang dimiliki Sumut. Apalagi, Kota Medan, Tebingtinggi, Kabupaten Deliserdang dan kawasan Cikampak Kabupaten Labuhanbatu, merupakan sebagai daerah pendukung sentra penghasil SBW di Sumut ini.

Sebelumnya, Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian (Barantan Kementan), Ali Jamil Harahap mengungkapkan, Sumatera Utara memasok sebesar 31 persen dari total ekspor SBW secara nasional. Oleh karena itu, Ali Jamil berharap supaya volume ekspor tersebut bisa meningkat hingga 100 persen di tahun 2019.

"Berdasarkan data dari Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian, enam pintu pengeluaran ekspor SBW melalui Bandara Internasional Kuala Namu (20,86 ton), Soekarno-Hatta (15,96 ton), Juanda Surabaya (14,87 ton), Ahmad Yani Semarang (14,79 ton) dan Supadio Pontianak (18 kilogram) di tahun 2018," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Balai Karantina Pertanian (BKP) Kelas II Medan, Hafni Zahara, mengaku, permintaan SBW asal Sumut sangat banyak dari sejumlah negara importir di dunia. Pada periode 28 Juni 2019, pihaknya memberangkatkan ekspor 674,3 kg SBW tujuan Hongkong, Vietnam, Malaysia dan Taiwan.

"Itu dari wilayah kerja Kantor Induk, sedangkan dari wilayah kerja Kargo Bandara International Kualanamu ada pengiriman sebanyak 1.251 kg. Bila ditotal, volume ekspor sarang burung walet periode 28 Juni 2019 mencapai 1.925,3 kg dengan nilai Rp19,253 miliar," sebutnya.

Penulis: Rara
Editor: Redaksi

Baca Juga