Dampak Curah Hujan Tinggi

Petani Palawija Simalungun Terancam Gagal Panen

SIMALUNGUN - Petani palawija di sejumlah sentra produksi sayur mayur di Kabupaten Simalungun mengeluhkan iklim yang tidak menentu sejak sebulan terakhir.

Tingginya curah hujan sejak awal tahun 2019, membuat tanaman muda palawija termasuk tomat dan cabe busuk hingga merugikan petani.

Rijan Irnando Purba,petani palawija di kecamatan Dolog Masagal,seharusnya tanaman palawija yang ditanam 2 atau 3 bulan lalu sudah alan dipanen akhir Januari atau awal Februari nanti ,namun akibat curah hujan tinggi membuat tanaman muda busuk dan tidak bisa dipanen.

"Seharusnya akhir Januari atau awal Februari nanti sudah panen namun akibat musim hujan belakangan ini banyak tanaman yang busuk dan tidak bisa dipanen," kata Nando.

Bila curah hujan terus tinggi bulan ini menurutnya petani palawija bakal mengalami kerugian yang cukup besar karena gagal panen.

Dengan kondisi cuaca yang tidak menentu menurutnya petani palawija yang sudah sempat menanam awal bulan Januari kemarin terancam mengalami rugi besar.

Namun untuk mengantisipasi kerugian yang besar petani juga terpaksa memanen tanaman palawija seperti tomat lebih awal,karena khawatir busuk.

Meski banyak petani yang terancam gagal panen akibat cuaca yang tidak menentu, namun harga sayur mayur di pasar tradisional di Simalungun dan Pematangsiantar masih normal.

Juli pedagang pasar Horas, Pematangsiantar mengatakan, harga kol dan sawi masih normal sejak Natal dan Tahun Baru kemarin di kisaran Rp 4000 hingga Rp 5000 per kilogram.

"Saat ini hanya buncis yang naik sekitar Rp10.000 per kilogram saat ini dari sebelumnya Rp 6000 hingga Rp7000 per kilogram sedangkan kol dan sawi masih normal," kata Juli.(Davis)

Penulis: Davis
Editor: Redaksi

Baca Juga