PPKS Sumut Hadirkan Minyak Makan Merah, Pengganti Minyak Goreng Kuning

Ahmad Gazali Sofwan Sinaga S.Farm., M.Si., Apt, Peneliti Pusat Peneltian Kelapa Sawit (PPKS) Indonesia, Sumatera Utara.(Foto/MEDANmerdeka)

MEDAN - Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Indonesia, Sumatera Utara, berhasil “melahirkan” minyak sawit merah (Red Palm Oil/RPO). RPO sudah sejak lama diteliti oleh PPKS, terutama digunakan sebagai fortifikasi nutrisi pada beberapa produk pangan olahan, Kamis (4/7/2019).

RPO nantinya, bakal menggantikan minyak goreng yang beredar luas di pasaran, dan menjauhkan pemakainya dari berbagai penyakit. Hal tersebut juga menghindari beberapa isu negatif pangan dari minyak goreng sawit yang dianggap sebagai penyebab kolesterol dan pemicu kanker.

Salah satu peneliti bidang kesehatan di PPKS Sumut, Ahmad Gazali Sofwan Sinaga,S.Farm, M.Si, Apt, mengatakan Crude palm oil (CPO) kaya dengan fitonutrien yang berfungsi sebagai nutrisi alami berkhasiat dalam bidang kesehatan.

Umumnya senyawa fitonutrien ini hilang selama pengolahan CPO lanjut menjadi minyak goreng. Pada minyak goreng hanya tersisa karoten dengan kadar minimum 30 ppm serta tokoferol dan tokotrienol (50-100 ppm).

Produk alternatif dari CPO yang masih mempertahankan kandungan fitonutrien adalah minyak sawit merah (Red Palm Olein, RPOl) yang dihasilkan oleh PPKS dengan modifikasi teknologi terbarukan.

RPOl hampir serupa dengan RPO biasa, yaitu mengandung fitonutrien yang tinggi yaitu karoten 600-700 ppm, vitamin E 300-400 ppm, fitosterol 500-600 ppm.

RPOl berasal dari buah kelapa sawit special dengan varietas unggulan PPKS yang diproses secara low thermal dengan waktu yang singkat sehingga mampu mempertahankan semua nutrisi dari buah kelapa sawit.

“Pembuatan minyak sawit merah dilakukan dengan proses pemurnian secara kimia dan fisika, meliputi proses degumming, netralisasi, filtrasi, low thermal deodorisasi, dan freezing process guna menghilangkan bahan-bahan yang tidak diinginkan atau merugikan dalam bentuk rasa, stabilitas atau keamanan serta menjauhkan pemakainya dari penyakit kanker,” papar Gazali.

Oleh karena itu, RPOl merupakan pilihan yang sangat ideal untuk beberapa negara berkembang dengan defisiensi vitamin A.“PPKS juga sudah mengembangkan kapsul suplemen makanan RPOl untuk penyakit diabetes dengan asupan 4000 mg/KgBB (250 mg/kapsul) untuk dapat menurunkan kadar glukosa darah selama 2 minggu pemakaian,” ujar Gazali.

Selain itu, RPOl juga dapat digunakan sebagai antihiperkolesterol. Konsumsi kapsul RPOl sebanyak 4000 mg/kgBB (250 mg/kapsul) setiap hari dapat menurunkan kadar kolesterol hingga normal selama 12 hari pemakaian.

Pengembangan produk RPOl ini dapat menjadi solusi agresif dalam mendukung ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat Indonesia, untuk lebih baik lagi ke depannya.

Saat ini, sambung Gazali, PPKS Sumatera Utara akan meluncurkan RPOl ke pasaran, sembari menunggu hasil uji Balai Besar POM. “Sudah kita ajukan, masih menunggu hasilnya. Jika sudah keluar, maka RPOl akan menambah jenis minyak goreng nabati yang selama ini telah beredar di pasaran,” jelasnya.

Harga RPO diperkirakan sebesar Rp30.000 hingga Rp35.000 per kilogram. Harga ini tentunya lebih tingggi dari harga minyak goreng kuning di pasaran yang mencapai Rp.12.000 per kilogram.

“Tidak ada pilihan lain, kesehatan merupakan harga yang tidak ternilaikan. Dari hasil pengujian, RPOl memang minyak goreng yang sehat yang dapat digunakan berulang-ulang serta menghindarkan masyarakat Indonesia dari penyakit,” jelasnya.

Penulis: Ahmad Rizal
Editor: Redaksi

Baca Juga