Balita yang Disiram Air Panas di Sidimpuan Meninggal Dunia, Siapa Pelakunya?

Permadi Tambunan (37) dan istrinya Fitri Jamia Siregar (36) menjaga putrinya Silmi Rindu br Tambunan 19 bulan yang disiram air panas. (Foto:MEDANmerdeka/dok)

SIDIMPUAN – Setelah menjalani perawatan selama dua pekan, Silmi Rindu boru Tambunan(19 bulan), mengembuskan nafas terakhir di ruang Tulip 4 RSUD Kota Padangsidimpuan, Kamis (19/3/2020).  Luka bakar 80 persen akibat air panas hingga kini masih misteri.

Informasih dihimpun medanmerdeka.com, bocah malang warga Jalan BM Muda, Gang Sejahtera, Kelurahan Padangmatinggi, Sidimpuan, itu meninggal dunia Kamis sekira pukul 07.00 WIB. Oleh kedua orang tuanya, Silmi Rindu dikebumikan di Desa Sisundung, sekira pukul 14.00 WIB.

Sepeninggalnya Silmi Rindu, Polres Kota Padangsidimpuan dikabarkan memanggil sejumlah saksi-saksi, termasuk jiran tetangga orang tua korban.

Hal itu diakui Kasat Reskrim AKP Bambang Herianto. “Iya benar, sekarang sudah tahap pemanggilan saksi-saksi,” kata Bambang, tanpa menjelaskan siapa yang dipanggil.

Informasi diperoleh, hingga malam ini sejumlah saksi sudah diambil keterangan oleh penyidik Satreskrim.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Kedua orang tua Silmi Rindu, Permadi Tambunan (29) dan Fitri Jamia Siregar (27) merasa terpukul atas peristiwa yang menimpa putrinya. “Enggak taulah pak, entah siapa yang begitu kejam sama anak kami,” kata Fitri, sembari menahan tangis kepada medanmerdeka, pada Kamis (5/3/2020).

Diceritakan Permadi, kasus yang menimpa putrinya Silmi Rindu terjadi Rabu (4/2/2020) sekira pukul 11.00 WIB. Hari itu, Permadi yang berprofesi sebagai buruh bangunan sedang berada di tempat kerjaan. Sedangkan istrinya membantunya mencari nafkah menggosok pakaian ke rumah-rumah warga.

Saat ditinggalkan istrinya, Silmi Rindu bersama kakaknya, Nurhabibah boru Tambunan (7) yang masih duduk di kelas 1 SD. “Menurut Habibah dia dan adiknya bermain di halaman rumah,” ujarnya.

Pada saat bermain, Habibah di panggil tetangga untuk membelikan handiplas di salah satu warung yang berjarak 30 meter. Habibah lalu bergegas pergi, meninggalkan adiknya di halaman rumah.

Sekembalinya Habibah ke rumah, ditemuinya adiknya sudah berada di dalam rumah menangis-nangis karena kesakitan.

Oleh Habibah dibuka baju adiknya, ternyata badanya sudah basah terkelupas tersiram air panas. “Semua tetangga berdatangan. Saya yang diberitahu lalu pulang membawa Rindu ke rumah sakit,” jelas Permadi, warga Jalan BM Muda, Gang Sejahtera, Kelurahan Padangmatinggi, Kota Padangsidimpuan.

Kasus yang menimpa putrinya membuat pasangan suami istri ini binggung. Keduanya menduga, ada orang yang sengaja menyiramkan air panas ke tubuh putrinya.

“Di rumah tidak ada air panas. Kompor gas dan gelas saja pada saat itu tidak ada. Semua sudah saya perhatikan, bahkan pada saat ditinggalkan kakaknya di berada di halaman rumah,” kata Permadi, dengan nada heran.

Oleh karena itu, Kamis pagi Permadi Tambunan melaporkan kasus ini ke Mapolres Kota Padangsidimpuan. “Kami berharap polisi bisa mengungkap kasus kejahatan ini. Knapa ada orang yang begitu tega terhadap putri kami yang tidak berdosa ini,” ujarnya Permadi, yang berharap keadilan.

Kini Permadi berharap doa seluruh warga Kota Padangsidimpuan untuk kesembuhan purinya Rindu Tambuhan. “Semua harus kulakukan untuk membiayai perobatan putriku. Biarlah aku letih mencari uang untuk berobatnya,” kata Permadi yang tidak masuk kepesertaan BPJS karena tidak mampu membayar bulanannya.

Komentar

Loading...