Cerita Macan Putih Penjaga Makam Keramat Panjang

MAKAM Keramat Panjang, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat.
MAKAM Keramat Panjang, Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat.

PULAU KAMPAI, Kecamatan Pangkalan Susu Kabupaten Langkat memiliki  peninggalan sejarah yang menyimpan beragam kisah. Dari sisa bangunan zaman Belanda, sumur tua hingga makam keramat.

Menjejakkan kaki di Pulau Kampai, kita masih dapat menemukan sisa-sisa bangunan zaman Belanda.  Bila kita menyusuri jalan desa, kita masih dapat melihat sisa-sisa tiang pondasi rumah panggung  ditaksir berusia ratusan tahun. Pemandangan tiang-tiang beton yang cukup kokoh itu terdapat di depan rumah beberapa warga di pulau itu. Pondasi rumah panggung itu terbuat dari batu bata dan adukan semen yang kuat.

Salah seorang warga bernama Yogi,37, menuturkan,  zaman dulu rumah penduduk Pulau Kampai merupakan rumah panggung. “Tapi sekarang rumah sudah modern, berlantai di bawah,” katanya.

Selain sisa pondasi rumah panggung, tak jauh dari dermaga Pulau Kampai, juga terdapat dua sumur tua yang letaknya berdekatan. Warga menyebutkan, dua sumur umum yang dibangun sejak zaman Belanda itu merupakan sepasang sumur pria dan wanita yang berdekatan.  Satu sumur pria dan satunya lagi sumur wanita. Mungkin pada zaman dulu pemanfaatannya dibedakan menurut jenis kelamin. “Sumur ini tidak pernah kering dan airnya jernih,” terang Yogi.

Sejarah sumur tua itu sendiri masih misteri. Tidak diketahui siapa yang membangunnya. Sumur itu berdinding batu semen yang kuat. Sampai sekarang warga setempat masih memanfaatkannya untuk keperluan sehari-hari.

Misteri Macan Putih

Selain sisa  bangunan kuno dan sumur tua, di Pulau Kampai terdapat sejumlah makam kuno. Dari sekian banyak makam terdapat dua pasang makam yang sering diziarahi dan dikeramatkan warga. Salah satunya sepasang makam Keramat Panjang. Makam kuno ini panjangnya kira-kira 8 meter dan 6 meter. Warga setempat menyebutnya makam Keramat Panjang dan hingga kini masih misteri  tentang identitas yang terkubur dalam makam itu.

Tidak sulit menemukan makam keramat itu. Dari dermaga Pulau Kampai, kuburan  tersebut hanya berjarak sekitar 300 meter. Kuburan itu berada dalam sebuah bangunan berpagar kayu bercat putih. Di dalam bangunan berjejer dua buah nisan. Yang satu memiliki ukuran sekitar 6 meter dan yan satunya lagi 8 meter. Di kedua nisan tersebut tidak ada  satu pun identitas yang bisa dijadikan bukti kuburan siapa sebenarnya.

Masyarakat di sini percaya jika kuburan ini sudah ada sebelum zaman penjajahan Belanda. Hingga saat ini, kuburan keramat panjang ini masih sering dikunjungi oleh masyarakat untuk berdoa.

Kabarnya,  kuburan ini sebelumnya pernah diteliti ilmuan dari Belanda. Namun hasilnya nihil. Ukiran di batu nisan yang mirip dengan tulisan China, sempat diyakini masyarakat jika kuburan ini adalah kuburan etnik Tionghoa. Tapi lagi-lagi, teori tersebut masih belum bisa  dipercayai seratus persen masyarakat sini.

Kemisteriusan kuburan Keramat Panjang ini bukan hanya ini saja. Pasalnya,  kuburan ini menurut warga memiliki penjaga khusus, yakni seekor macan  berwarna putih. Dulu penampakan macan putih itu masih sering dilihat oleh warga.  Ada cerita lain,  dulu pernah ada orang yang meninggal,  gara-gara memindahkan batu pusara yang ada di atas kuburan ini. Kejadian itu semakin menguatkan anggapan warga akan kekeramatan kuburan Keramat Panjang.

Hingga saat ini kuburan ini tetap masih menyimpan misteri. Namun meski  begitu, dari beberapa data didapat penjelasan bahwa sesuai dengan namanya, Kuburan Keramat Panjang, kuburan ini mengacu pada nama Teuku  Keramat Panjang. Nama Keramat Panjang sudah dilafal sejak dari tiga generasi penduduk Pulau Kampai. Nama Teuku Keramat Panjang memiliki hubungan erat dengan ulama besar dari Langsa.

Nama asli dari Teuku Keramat Panjang adalah Teuku Sulthan Muhammad. Ia berasal dari Pakistan dan seorang ulama besar. Saat tiba di Pulau Kampai, ia berusia 13 tahun dan menetap di Pulau Kampai sampai akhir hayatnya. Di Pulau Kampai ia bekerja menjadi pedagang, seperti jual-beli emas, kain dan lain-lain. Di samping sebagai pedagang, ia juga membuka perpustakaan seraya menulis buku-buku agama, bahan-bahannya beliau ambil dari Mesir. Mengingat ilmu agama beliau sangat luas, beliau juga berdakwah di Pulau Kampai.

Teuku Sulthan Muhammad menikah dengan seorang wanita berumur 14 tahun di Pulau Kampai, istri beliau bernama  Siti Bahara Silalahi. Ayah Siti  Bahara Silalahi berasal dari Kabanjahe yang semasa hidupnya ayah Siti Bahara Silalahi juga seorang pedagang Sedangkan ibu Siti Bahara  Silalahi, berasal dari tanah Deli.

Ihwal macan putih penjaga makam Keramat Panjang, masih sering memperlihatkan penampakan sampai sekarang. Dari berbagai sumber diperoleh informasi, terakhir kali penampakan Maret 2015 ketika rombongan keluarga besar Padepokan Ki Mbowo Rekso berziarah ke makam keramat itu.

Tujuan para rombongan  kesana tidak lain ialah hanya untuk berziarah kemakam tersebut dikarenakan banyaknya para pasien dari padepokan tersebut yang ingin mengetahui secara langsung bagaimana dan seperti apa makam tersebut. Para rombongan disambut dengan baik oleh juru kunci makam, Ibrahim bin Daud.

Selepas senja, rombongan di antar sang juru kunci ke makam untuk melakukan ziarah dan berzikir. Sebelum memasuki  ruangan makam tersebut ternyata para rombongan disambut dengan penampakan macan putih yang diyakin warga sebagai panjaga makam Keramat Banjang. Fenomena sosok penampakan berhasil diabadikan oleh Ki Mbowo Rekso.

Makam Mas Merah

Selain makam Keramat Panjang, di Pulau Kampai terdapat kuburan sepasang suami isteri yang dikenal sebagai makam “Mas Merah” yang legendaris.  Terletak di belakang rumah penduduk, kuburan yang pernah dipugar mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi di Medan itu, masih dipelihara masyarakat karena memiliki kisah yang tidak terpisah dari sejarah Pulau Kampai.

Pusara Mas Merah, merupakan makam suami isteri yang berdampingan. Sang suami bernama Salam, merupakan seorang seniman berjuluk pendekar biola karena kepiawaiannya memainkan alat music gesek itu. Sang isteri, bernama Salamah, kembang desa yang memilih sang pendekar biola ketimbang saudagar kaya. Di luar Pulau Kampai, Emas Merah populer dan diabadikan dalam sebuah lagu Melayu “Engkaulah Mas Merahku”. Konon lagu itu diciptakan Salam untuk sang kekasih yang menjadi isteri setianya itu. Dari Kepala Desa Pulau Kampai Muhamad Buyung Amir dan beberapa sumber lainnya, kami mendapat kisah Mas Merah yang syahdu itu.

Alkisah, pada tahun 1890 seorang pemuda yang juga seniman musik yang ahli memainkan biola bernama Salam.  Pemuda itu tinggal di Serawak Malaysia dan mempunyai abang bernama Amran. Salam telah menjalin hubungan secara diam-diam dengan gadis pujaannya di Serawak bernama Rukiah. Hubungan ini tidak diketahui  oleh orangtua Salam. Rukiah adalah seorang gadis baik dan berparas  cantik.

Di lain pihak, ayah Salam ingin menikahkan Amran dengan seorang gadis. Amran pun tak menolak dijodohkan orangtuanya. Konon pada jaman dahulu, pasangan hidup  diatur oleh orangtua. Persoalannya,  Amran dijodohkan dengan Rukiah yang tidak lain kekasih Salam.

Salam sangat terpukul, tapi ia tidak ingin menyakiti abangnya dan orangtua. Memang salahnya, menjalin cinta diam-diam tanpa sepengetahuan mereka. Singkat cerita, dinikahkanlah Amran dengan Rukiah. Saat pernikahan mereka, Salam menjadi putus asa. Beberapa waktu kemudian Salam menjumpai Rukiah, dan berkata, "Kalau memang abangku yang menjadi  jodohmu, ya sudah, apa yang bisa kita perbuat. Itu sudah kemauan orang  tua. Daripada nantinya aku melihat kau bersenang-senang dengan abangku,  lebih baik aku pergi dari sini," katanya.

Salam merantau ke Belawan hingga takdir kemudian mempertemukan kembali alam dan Salmah pujaan hatinya di Pulau Kampai sampai dua sejoli ini meninggal dunia akibat serangan penyakit cacar. Cerita ini secara turun-temurun dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai sejarah terjadinya perkampungan di Pulau Kampai. (nasib ts)

Penulis:

Baca Juga