Pengakuan Sri Astuti, Ibu Kandung Balita yang Tewas di Tangan Ayah Tirinya

Tersangka Sri Astuti (Foto:MEDANmerdeka/Ist)

LANGKAT - Penyiksaan yang menewaskan bayi berusia 2 tahun, Muhammad Ibrahim alias Akil, oleh ayah tirinya Riki Ramadhan Sitepu (30), menyisakan cerita memilukan.

Penganiayaan yang terjadi di Dusun Batu III, Desa Guru Ponco Warno, Kecamatan Salapian, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut), itu ternyata sudah berlangsung lama.

"Penganiayaan oleh suami saya sejak awal menikah tahun lalu. Awalnya, dia mencubit dan menjewer telinga anak saya. Kemudian, anak itu tanpa mengenakan pakaian dijemur di luar rumah sampai lewat tengah hari. Saya tidak bisa berbuat untuk membantu," kata ibu kandung korban, Sri Astuti kepada petugas saat menjalani pemeriksaan di Markas Polres Langkat.

Wanita berusia 28 tahun ini menambahkan, bayi malang itu sampai lemas saat dihukum Riki Ramadhan Sitepu. Bayi itu hanya menangis dan buang air di halaman rumah.

Meski demikian, anak itu tidak mau memberanikan diri masuk ke dalam rumah. Bayi mungil itu hanya terdiam dan membisu seperti patung, menjalani hukuman dari ayahnya itu di luar rumah. Akil diperbolehkan masuk setelah selesai menjalani hukuman.

Itu pun setelah ayah tirinya itu memberikan izin. Setelah itu, Akil kembali mendapatkan perlakuan kekerasan. Dia kembali dicubit, telinganya dijewer sampai bayi malang itu menangis lagi. Akil kembali terdiam setelah dibentak keras oleh ayah tirinya tersebut. Sang ibu pun hanya terdiam tanpa memberikan pembelaan.

"Suami saya yang bekerja sebagai pengumpul tandan buah kelapa sawit (TBS), kerap memukuli, mencubit dan menjewer Akil. Saya tidak mengetahui alasan dia sampai sering melakukan pemukulan. Setiap melakukan kesalahan kecil saja tidak pernah terlepas dari hukuman penganiayaan. Saya sudah sering meminta suami supaya tidak kejam dengan anak itu," kata Sri Astuti.

Namun, sambung Sri, suaminya itu tidak menghiraukannya. Sebaliknya, Sri mengaku justru dimarahi suaminya. Sehingga, ibu beranak satu ini hanya bisa terdiam, dan tidak berani lagi mengingatkan suaminya.

Sri pun mengaku ikut merasakan kesedihan saat melihat anak tak berdosa itu kembali mendapatkan penganiayaan oleh suaminya tersebut. Ia pun hanya terdiam karena takut dimarahi.

Puncak dari kemarahan Riki kepada Akil saat pulang kerja dari kebun, 27 Agustus 2019 kemarin. Dia mendapatkan rumah dalam kondisi berantakan. Pakaian berserakan. Saat itu, Sri Astuti belum merapikan dalam rumah.

“Riki kemudian berteriak memanggil anak tirinya, dan melampiaskan kemarahannya. Riki kembali memukul Akil, bahkan menyundut api rokok ke anak saya," ungkapnya.

Tidak hanya itu, Riki mencekik kuat leher Akil sambil mengangkatnya keluar rumah. Setelah itu, Akil dibanting ke tanah, bahkan ditendang sangat kuat. Bantingan dan tendangan itu pun membuat tulang rusuk bayi itu menjadi patah (hasil visum).

Seketika Akil tidak bersuara lagi. Bukannya menyesal, Riki justru masih menaruh rasa amarahnya. Akhirnya, Sri memohon agar pnganiayan itu dihentikan.

Riki kemudian mengambil sebuah karung dari dalam rumah. Saat itu, belum ada kepastian Akil sudah tiada. Riki memasukkan Akil ke dalam karung, kemudian digantung di belakang gubuk rumahnya.

Berkelang satu hari, persisnya 28 Agustus 2019, Riki mengajak Sri Astuti ke lereng perbukitan. Mereka membawa karung berisikan bayi yang sebelumnya tergantung di belakang rumah.

Riki juga membawa cangkul. Jenazah Akil dikuburkan secara diam - diam. Tidak ada warga setempat yang melihat kejadian tersebut. Sepekan kemudian, warga mencium aroma tidak sedap.

Warga menemukan sebuah gundukan yang menjadi sumber bau tersebut. Mereka tidak berani membongkar gundukan. Kasus ini pun dilaporkan ke aparat kepolisian, Rabu 4 September 2019.

Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Langkat, AKP Teuku Fathir Mustafa menyampaikan, pihaknya langsung menurunkan tim forensik atas temuan jenazah bayi tersebut.

Polisi kemudian mengevakuasi jenazah itu ke Rumah Sakit Bhayangkara di Medan. Berdasarkan hasil visum ahli forensik kemudian terungkap, bahwa bayi tewas akibat disiksa, termasuk luka patah tulang rusuk, sundutan api rokok dan bekas cekikan.

Polisi juga mengorek keterangan dari sejumlah warga. Kecurigaan pun menyasar ke pasangan Riki Ramadhan dan Sri Astuti, orangtua dari bayi malang itu. Sebab, sepekan belakangan, bayi bijak itu sesuai pengakuan warga, tidak pernah kelihatan. Polisi mendatangi tempat tinggalnya. Namun, orang bersangkutan sudah tidak berada di rumah tersebut.

"Keduanya kita tangkap dari kawasan Jalan Binjai - Bukit Lawang Kabupaten Langkat. Saat itu, pasangan ini diduga hendak melarikan diri. Keduanya mengakui perbuatannya. Mereka masih menjalani pemeriksaan. Kita dalami penyebab penganiayaan," jelasnya.

Hasil pemeriksaan sementara, Riki terlebih menganiaya Akil sejak Senin (19/8/2019) hingga Minggu (25/8/2019) di rumahnya. Korban akhirnya tewas, Selasa (27/8/2019) sekitar pukul 17.00 WIB. Dalam kasus ini, Sri Astuti juga turut dijadikan tersangka. Peranan wanita itu pun masih terus didalami.

Dalam kasus ini, polisi menjerat Riki dengan Pasal 340 junto Pasal 338 KUHPidana sub Pasal 80 ayat (3) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukuman dari pelanggaran pasal itu, maksimal hukuman mati.

Penulis: Yohana
Editor: Redaksi

Baca Juga