Pukat Trawl Merajalela, Ribuan Nelayan Belawan Akan Demo

BELAWAN - Akibat merajalelanya kapal - kapal pukat trawl mencari ikan di perairan Belawan dan Selat Malaka, ribuan nelayan dari Medan, Kabupaten Deliserdang, Serdang Bedagei dan Langkat, akan melakukan aksi demo besar-besaran di Belawan.

Forum Nelayan Kecil Bersatu Sumut Rahman Gafiqi kepada Wartawan Kamis (31/10/2019) di Gabion Belawan, menyebutkan aktivitas kapal-kapal pukat trawl tersebut sangat berpengaruh terhadap kehidupan ribuan nelayan kecil yang bermukim di sekitar perairan Belawan.

Penghasilan nelayan tradisionil sangat minim karena pukat trawl berskala besar tersebut menangkap  semua jenis ikan berskala kecil dan besar. "Jangankan ikan kecil dan ikan besar, plankton saja terangkut dalam pukat trawl tersebut," ujar Rahman.

Aktivis dari komunitas nelayan ini menambahkan, keberadaan pukat trawl selain menyengsarakan nelayan tradisional juga akan merusak habitat, biota dan eksosistem laut.

Selain itu, tambah Rahman, selain pukat trawl, ada juga pukat bukemi dan pukat teri yang ikut berperan dalam menyengsarakan ribuan nelayan tradisional yang bermukim di perairan Belawan, Deliserdang, Serdangbedagai dan Langkat.

Rahman mensinyalir aktivitas kapal-kapal pukat trawl milik etnis Tionghoa tersebut sepertinya tidak tersentuh oleh aparat keamanan di laut sehingga pemerintah terkesan tidak berpihak atau melindungi nelayan tradisional.

Ironisnya, kapal-kapal pukat trawl setiap harinya sandar bebas di kawasan Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan. "Usai menangkap ikan di tengah laut, kapal-kapal pukat trawl langsung disandarkan di kawasan Gabion Belawan," jelas Rahman didampingi Putro (40), seorang nelayan tradisional yang bermukim di Kelurahan Bagan Deli Kecamatan Medan Belawan.

Dijelaskan Rahman, dalam aksi demo tersebut, massa nelayan akan mendatangi sejumlah instansi terkait di kawasan Belawan, karena selama ini, dari sejumlah kapal pukat trawl yang ditangkap, aparat keamanan hanya menangkap para anak buah kapal (ABK) dan tekong saja sementara para pemilik atau pengusaha kapal pulat trawl tidak tersentuh oleh aparat keamanan di laut.

Rahman menambahkan, selama ini pihaknya menilai pemerintah dan aparat keamanan dinilai tidak berpihak kepada nelayan tradisional.

Pasalnya, aktivitas pukat trawal di perairan Selat Malaka dan perairan Belawan semakin merajalela hingga menyengsarakan kehidupan nelayan tradisional. Bahkan pukat trawl banyak bersandar di kawasan Gabion Belawan usai mencari ikan. "Instansi yang berwenang sepertinya tidak berani menindak tegas terhadap pengusaha atau pemilik kapal pukat trawl," tegasnya.

Rahman menyebutkan , selama ini aparat keamanan yang menangkap kapal-kapal pukat trawl hanya menahan para anak buah kapal (ABK) atau tekong namun tidak pernah menangkap pemilik atau pengusaha kapal-kapal pukat trawl tersebut.

Dijelaskan Rahman, keberadaan kapal-kapal pukat trawl tersebut selain melanggar amanat Undang Undang No 45 tahun 2009 tentang perikanan juga terindikasi memanipulasi data.

Sebagai contoh, tambah Rahman, kapal penangkap ikan yang menggunakan surat izin alat tangkap apung dan bukeami namun pada prakteknya menggunakan pukat trawl sehingga 'meraup' seluruh ikan berskala besar, mulai dari ikan kecil hingga ikan besar.

Rahman berharap agar aparat keamanan di laut bertindak secara tegas dan profesional memberantas praktek kapal-kapal pukat trawl sehingga bisa membuat nelayan leluasa mencari ikan lebih banyak sehingga bisa mensejahterahkan kalangan nelayan.

"Badan Keamanan Laut (Bakamla) yang terdiri dari berbagai intstansi penegak hukum selama ini hanya menangkap kapal-kapal asing yang mencuri ikan di perairan NKRI namun tidak menangkap kapal-kapal pukat trawl yang meresahkan nelayan tradisional," sebut Rahman.

Rahman menambahkan, masih beroperasinya ratusan kapal pukat trawl saat ini, akan berdampak merugikan nelayan sehingga ribuan nelayan tradisional di Medan,  Kabupaten Deliserdang dan Langkat.

Dalam aksi demo nanti, tambah Rahman,  meminta agar pemerintah merespon 3 poin di antaranya, tegakkan amanat UU no 45 2009 tentang perikanan, sikat habis kapal trawl, bauke ami (fisher), pukat teri lingkung, serta pukat Hela (pukat tarik gandeng 2) sekaligus membentuk tim terpadu melibatkan instansi penegak hukum.

"Semua persiapan sudah rampung dan Jumat (1/11) kami akan mendaftarkan surat pemberitahuan aksi demo ke Poldasu," akhir Rahman.

Penulis: Awal Yatim
Editor: Redaksi

Baca Juga