Redam Konflik Usai Pemilu, Ini Pesan MUI

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia, Prof Din Syamsuddin.(foto:int)
Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia, Prof Din Syamsuddin.(foto:int)

JAKARTA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Tausiah Kebangsaan, untuk meredam dan mencegah konflik horisontal di tengah-tengah masyarakat pasca Pemilu 17 April, kemarin.

Ada tujuh seruan yang disampaikan MUI untuk seluruh komponen bangsa, yang merupakan hasil rapat khusus Dewan Pertimbangan bersama Dewan Pimpinan MUI, terkait perkembangan dinamika politik nasional setelah pelaksanaan pemungutan suara Pemilu 2019.

Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Prof Din Syamsuddin mengatakan Tausiah Kebangsaan dikeluarkan setelah mendengarkan informasi langsung dari pimpinan ormas, sekaligus melihat fakta di lapangan terkait situasi pasca-Pemilu 2019. "Dari pemikiran-pemikiran yang masuk, dirumuskan menjadi Tausiah Kebangsaan," kata Din, Jumat malam (19/4/2019).

Tujuh imbauan dalam Tausiah Kebangsaan ini dibacakan oleh Ketua MUI Yusnar Yusuf, yaitu pertama, mengajak seluruh keluarga besar bangsa, khususnya umat Islam, untuk bersyukur ke hadirat Allah SWT bahwa suatu tahapan penting Pemilu, yakni pencoblosan surat suara Pemilu 2019, berlangsung dengan lancar dan terkendali, walaupun di sana-sini masih terdapat kekurangan dan kelemahan.

Kedua, mengajak seluruh keluarga besar bangsa untuk mengikuti dan mengawal tahapan-tahapan lanjutan Pemilu hingga penetapan presiden dan wakil presiden terpilih oleh KPU secara definitif berdasarkan konstitusi dengan sikap tahap berkonstitusi.

"MUI meminta kepada semua pihak untuk tidak mengganggu proses konstitusi tersebut melalui cara-cara langsung ataupun tidak langsung," kata Yusnar.

Yusnar menyebut, tiga cara yang dapat mengganggu proses konstitusi seperti melalui pemberitaan hasil hitung cepat (quick count) karena bersifat menggambarkan sesuatu yang belum pasti, tapi dapat dan telah menimbulkan euforia berlebih dari rakyat pendukung, yang pada gilirannya dapat mengundang reaksi dari pihak lainnya.

Cara berikutnya, melalui klaim kemenangan oleh kedua pasangan capres dan cawapres, yang dapat dan telah menimbulkan euforia dari pendukung masing-masing, hal mana berpotensi menimbulkan konflik di kalangan rakyat.

Berikutnya, melalui pemberitaan media massa, baik cetak, elektronik, maupun media sosial secara tidak berimbang, yang menimbulkan kebingungan di kalangan masyarakat.

Tausiah ketiga, MUI menyerukan kepada semua pihak baik tim sukses, relawan, dan pendukung masing-masing pasangan capres dan cawapres, untuk dapat menahan diri tidak bertindak anarkis dan main hakim sendiri, namun menyerahkan penyelesaian setiap sengketa melalui jalur hukum berdasarkan prinsip taat konstitusi.

Keempat, mendesak kepada penyelenggara Pemilu sesuai amanat konstitusi yaitu (bahwa) Pemilu diselenggarakan berdasarkan asas "Luber dan Jurdil", untuk melaksanakan tahapan-tahapan berikutnya dengan senantiasa berpegang teguh kepada asas-asas tersebut khususnya jujur dan adil.

"Maka KPU, Bawaslu, DKPP dan pihak keamanan beserta jajarannya masing-masing untuk berlaku profesional, objektif, transparan dan imparsial, non partisan," kata Yusnar.

Kelima yakni, secara khusus mendesak lembaga penegakan hukum dan keamanan (Mahkamah Konstitusi, TNI dan Polri) untuk mengemban amanat dan tanggungjawab dengan tidak mengedepankan kepentingan kecuali kepada bangsa dan negara.

Keenam, menyerukan kepada umat Islam khususnya agar dapat menyatukan hati, pikiran dan langkah, untuk menegakkan persaudaraan keislaman (ukhuwah Islamiyah) dan persaudaraan kebangsaan (ukhuwah wathoniyah) dalam koordinasi MUI.

Ketujuh, mengajak seluruh umat beragama, khususnya umat Islam, untuk senantiasa memanjatkan doa kepada Allah SWT agar bangsa Indonesia aman dan sentosa, rukun, damai, serta terhindar dari malapetaka perpecahan.

Tausiah Kebangsaan itu ditandatangani oleh Ketua dan Sekjen masing-masing Dewan Pertimbangan dan Dewan Pimpinan MUI.

Din mengatakan, Tausiah Kebangsaan ini sangat kuat dan tinggi posisinya. Menurutnya, MUI sebagai lembaga keagamaan memiliki panggilan moral untuk mengoreksi yang salah, tidak secara partisan.

Din menyebut, MUI yang merupakan tempat berhimpun puluhan ormas Islam pusat dan daerah, mengimbau masyarakat menyatukan pikiran dan hati dalam menegakkan persaudaraan dan kebangsaan.

"Jangan ada melangkah sendiri. Kami akan memantapkan koordinasi mengawal NKRI, menjaga keutuhan bangsa," tegas Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin.(int/mm)

Penulis: Amri
Editor: Redaksi

Baca Juga

ca-pub-5353671782241986