Cagar Budaya Benteng Putri Hijau Dikhawatirkan Bakal Lenyap

Medanmerdeka.com – Sejarahwan Ichwan Azhari khawatirkan cagar budaya Benteng Putri Hijau akan hilang dan lenyap akibat di buldozer pengembang beberapa waktu lalu dan meminta agar para seniman dan budayawan Sumatera Utara untuk perduli atas kelestarian lokasi yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya yang wajib dilindungi dari kepunahan.

Hal ini dikatakannya kepada Medanmerdeka.com melalui telepon seluler Minggu (21/10/2018) malam, dikatakannya, kemarin petang Selasa (16/10/2018) Situs Benteng Putri Hijau Kembali di Buldozer, pas sisi kiri masuk pintu benteng,”terangnya.

Sedangkan sisi kanannya sudah duluan di lantak pengembang tahun lalu dan kini rumah berdiri aman di situs Cagar Budaya di Kecamatan Namu Rambe Deli Tua itu.

Bupati Deli Serdang yang sudah menetapkan situs itu sebagai Cagar Budaya sejak 2014, tidak berdaya mencegah penghancuran. Kadis Budparnya Deli Serdang yang sudah diberitahu, datang, tapi mungkin lupa melapor ke Bupatinya, tak ada satupun plang bacaan di berbagai sudut batas situs cagar budaya itu, yang menegaskan konsekuensi hukum yang akan dikenai bagi yang merusak situs. tak ada,”paparnya.

Usai menghajar sisi kanan diratakan dan didirikan rumah, mulai kemarin, sisi kiri pintu masuk benteng di hajar buldozer, konon katanya malah ini proyek Pemkab Deli Serdang,”jelasnya.

Pembuldozeran benteng ini pas di depan Galeri Budaya yang sedang dibangun, di sisi luar timur Benteng Putri Hijau. Mereka yang membangun rumah dan membuldozer benteng ini benar benar tidak bermartabat secara budaya, dan benar benar nekat menantang, justru di depan halaman galeri Gubsu yang sedang memperjuangkan Sumut Bermartabat.

Bisakah Pak Edy menghentikan buldozer itu? Bisakah bertanya pada Bupati Deli Serdang yang mengeluarkan SK Cagar Budaya Benteng Putri Hijau No.1863/2014, tapi situs dihancurkan secara masif sejak 2008 sampai kini tanpa bisa dihentikan? Padahal ada konsekuensi hukum dalam undang undang itu, baik yang merusak maupun pejabat yang membiarkan situs Cagar Budaya rusak, akan dikenai pidana,”terangnya.

Sultan Deli dan institusi Istana Maimun yang menarik tautan Deli dengan Situs ini, adakah yang pernah dengar kepeduliannya mencegah hancurnya situs ini? Syukur kalau ada. Para Panglima Talam Melayu, adakah yang pernah lakukan tindak nyata penyelamatan lewat bisikan bisikannya?

Ormas ormas Melayu, tokoh tokoh Melayu yang kini sibuk berdebat soal pemberian gelar Tuanku Seri Indra Utama Junjungan Negeri pada Jokowi dengan segala implikasi politiknya, apakah mereka ini pernah bahas pencegahan hancurnya situs ini?

Dimana suara dan tindakan nyata Mabmi, Gami, Mabin, dan puluhan ormas Melayu lainnya, selama sepuluh tahun belakangan (sejak 2008) situs ini dihancurkan ?

Jika tuan dan puan mau lihat bukti Sumut tidak bermartabat dalam mengelola warisan cagar budayanya, datanglah ke Benteng Putri Hijau sekarang, atau lihat tautan liputan DAAI TV terlampir bertajuk Menjaga Sang Putri,”pintanya.

Bertanyalah pada air mata mengalir, tangisan sang putri, yang berabad abad lamanya sampai kini tetap mengalir di pancuran benteng itu. Air mata kesedihan tiada yang hadir menyelamatkan situs sejarah yang terus dihancurkan,”  ujar Ichwan Azhari.

Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Sumatera Utara Baharuddin Saputra ketika dikonfirmasi medanmerdeka.com Minggu (21/10/2018) mengatakan, diskusi dan duduk bersama itu jalan yang terbaik, agar tidak memvonis bahwa seniman tidak peduli tentang cagar budaya putri hijau ini.

Sebagai Ketua Dewan Kesenian Sumatera Utara, saya terkejut dengan pernyataan sejarahwan sekaliber Ichwan Azhari yang memvonis seniman tidak perduli situs yang di lindungi,mohon pernyataan itu dicabut baik yang di FB ataupun dimana saja,”tegasnya.

Bahar juga menambahkan,  langkah Pemkab Deli Serdang untuk sepakat dengan warga setempat sebenarnya sudah bisa menyelesaikan masalah, apalagi pihak pemkab sudah mengalokasikan dana untuk membayarnya sejak beberapa tahun lalu.

Saya setuju dengan Usul Humas Pempropsu untuk duduk bareng dan buat konferensi pers, tentang masalah ini agar tidak terjadi informasi yang simpang siur,”jelas Bahar.(am/mm)

Comment