oleh

Sirungguk Tradisi Temurun Tapsel, Penghibur Jelang Buka Puasa

PULUHAN anak-anak yang bermain menjelang waktu berbuka puasa tiba-tibsa saja berlarian sembari tertawa riang. Ada sebagian takut karena belum pernah melihat, dan lainnya tampak  tertawa begitu  Sirungguk (manusia pohon) berjalan-jalan keliling Kelurahan Paraosrat, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel).

Permainan Sirungguk manusia pohon merupakan tradisi hiburan masyarakat Sipirok selama bulan Ramadhan. Si manusia pohon biasanya muncul sore hari menjelang buka puasa.

Menurut warga, Sirungguk diadopsi rumput atau belukar yang biasa digunakan membalut orang atau gerbang (gaba gaba) untuk kepentingan adat atau pesta.

Karena dibalut rumputan itu maka trasdisi tersebut dinamakan tradisi Sirungguk. Bagi warga setempat, khususnya yang sedang menjalankan ibadah puasa mempunyai arti tersendiri, bagaimana tidak, tradisi tersebut dapat menghibur. Sehingga kondisi tubuh yang lemah dari menahan haus dan lapar sedikit terlupakan.

Sore itu, sejumlah remaja dari Parausorat berangkat menuju Batu Olang untuk mengambil rumput Sirungguk. Dengan kebersamaan, sesuai dengan ciri khas asli masyarakat Sipirok,  sekitar 10 anak remaja tersebut bergotong royong mengumpulan rumput membuat Sirungguk.

Empat diantara mereka dibalut dengan menggunakan tali plastik sebagai pengikat agar rerumputan tidak mudah lepas dari tubuh. sedangkan pelepah bambu dijadikan topeng yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan lucu dan menghibur.

Setelah selesai dibalut, mereka bersama-sama berjalan menuju perkampungan.  Spontan, warga yang melihat langsung berlari dan mendekat badut-badut Sirungguk itu. Namun, kehadiran Sirungguk membuat anak kecil takut tapi tetap ingin menyaksikan langsung hiburan rakyat tersebut.

Sobirin (31) salah seorang warga menyebutkan, keberadaan Siringguk merupakan hiburan rakyat secara turun temurun.Hingga kini masih dipertahankan sekalipun telah banyak enis hiburan yang lebih modern yang masuk ke kampong.

’’Dinamakan Sirungguk karena dibalut dengan rumput Sirungguk. Tujuannnya untuk menghibur warga yang berpuasa terutama menjelang berbuka,”tuturnya, Jumat (8/6/2018).

Dijelaskannya, seiring dengan perkembangan zaman, keberadaan Sirungguk di Parausorat memang mulai mengalami perobahan. Sebab, badut tidak hanya dibalut dengan jenis rumput Sirungguk tetapi juga dengan ijuk.”Setiap puasa keberadaa Sirungguk akan menjadi hiburan bagi rakyat disini,”tuturnya.

Lain lagi pengakuan salah seorang tokoh masyarakat Amran Pohan (49). Menurutnya, tradisi Sirungguk akan tetap dilestarikan oleh masyarakat.

Tradisi ini merupakan khas dari kampong tersebut. Tradisi ini menjadi salah satu ikon budaya yang ada di kampong itu, karena hanya di kampung itu yang ada tradisi Sirungguk,”Hanya di kampung ini yang ada, kalau di kampong lain tidak ada. Makanya, kami buat juga tradisi ini untuk penyambut tamu,”ujarnya kepada ketika ditemui.(thoriq/mm)

Komentar

News Feed