oleh

Mahathir Dilantik Sebagai PM ke 7 Di Usia 92

Medanmerdeka.com – Anwar Ibrahim berdiri, matanya menatap lekat layar televisi. Di kamar sebuah rumah sakit di Cheras, masih mengenakan baju pasien, ia menyaksikan detik- detik pelantikan Mahathir Mohamad sebagai Perdana Menteri Malaysia, Kamis 10 Mei 2018.

Pria berjuluk ‘Little Sukarno’ itu kembali terpilih sebagai pimpinan Negeri Jiran di usianya yang sepuh, 92 tahun. Ia adalah pemimpin tertua di dunia yang terpilih secara demokratis. Mahathir sebelumnya pernah memimpin Malaysia selama 22 tahun, sebagaimana liputan6.com.

Hubungan Anwar dan Mahathir berlangsung panjang dan penuh gejolak. Adalah Mahathir yang meyakinkan mantan pemimpin gerakan pemuda Islam itu untuk bergabung di UMNO pada 1982.

Kedekatan dengan Mahathir pula yang membuat karier Anwar melesat di jajaran UMNO, jadi menteri keuangan, kemudian memegang jabatan deputi perdana menteri Malaysia.

Namun, krisis keuangan yang melanda Asia pada 1997 menjadi duri dalam daging dalam hubungan mereka. Secara dramatis, Mahathir memecat wakilnya pada September 1998. Anwar kemudian meresponsnya dengan memimpin aksi demonstrasi yang menuntut reformasi.

Sebulan kemudian, Anwar ditangkap berdasarkan UU Keamanan Dalam Negeri (Internal Security Act)yang kontroversial. Ia kemudian divonis penjara atas kasus korupsi dan sodomi. Setelah bebas pada 2004, Anwar Ibrahim kembali dibui dalam kasus sodomi yang berbeda, di bawah pemerintahan PM Najib Razak – bekas anak didik Mahathir.

Dengan kata lain, bagi Anwar, Mahathir Mohamad musuh bebuyutan. Namun, tak ada lagi ekspresi dendam saat Anwar melihat Mahathir kembali berkuasa. Justru senyuman yang terbit di bibirnya.

Dua seteru belakangan bersatu demi menghadapi musuh bersama: Najib Razak. Mereka menyatukan kekuatan dalam koalisi Pakatan Harapan. Sebelumnya, mata Anwar Ibrahim basah. Ia menangis haru saat menyaksikan kabar bahwa Pakatan Harapan menang telak dari koalisi berkuasa, Barisan Nasional.

Ini adalah kali pertama dalam sejarah Malaysia, koalisi berkuasa kalah di tangan oposisi. Mahathir Mohamad kini sedang mengupayakan pengampunan untuk Anwar Ibrahim. Suami Wan Azizah Wan Ismail itu hingga kini masih dipenjara dalam kasus sodomi. Ia baru dijadwalkan bebas pada 8 Juni 2018.

“Raja mengindikasikan akan memberi pengampunan pada Anwar secepatnya,” kata Mahathir dalam konferensi pers di Petaling Jaya, seperti dikutip dari The Guardian, Jumat (11/5/2018). “Kita akan memulainya…proses yang tepat untuk mendapatkan pengampunan. Ini berarti grasi penuh. Ia harus dibebaskan segera setelah mendapatkan pengampunan.”

Dalam waktu dekat, Mahathir akan membentuk kabinet, mulai dari 10 menteri kunci, untuk memulai proses pengajuan pengampunan. Namun, Anwar Ibrahim harus memenangkan pemilu atau terpilih menjadi senator agar dia bisa mengambil alih jabatan perdana menteri.

Setelahnya, Mahathir Mohammad kemungkinan akan mundur. “Saya tak bisa menjabat dalam waktu lama. Paling saya hanya bisa bertahan selama dua tahun,” kata dia dalam wawancara dengan media Jepang, Mainichi. Selama masa penantian itu, istri Anwar, Wan Azizah Wan Ismail akan berada di samping Mahathir Mohamad. Ia disebut-sebut akan menjadi perempuan pertama yang akan menjabat sebagai Deputi Perdana Menteri Malaysia.

Mahathir: Mereka Menderita Selama 20 Tahun…

Sejak berpisah haluan, Anwar Ibrahim dan Mahathir Mohamad tak pernah bersua selama 18 tahun. Pada September 2016, keduanya akhirnya bertemu. Pertemuan berlangsung di ruang pengadilan. Dua tokoh Negeri Jiran itu saling bersalaman.

Mahathir belakangan mengungkapkan, tak mudah bagi Anwar untuk memaafkan dirinya. “Saya tahu bagaimana perasaan Anwar. Di bawah pemerintahan saya, ia dikirim ke penjara. Sama sekali tak mudah baginya untuk menerima dan menyambut uluran tangan saya,” kata Mahathir, seperti dikutip dari The Malaysia Insight. “Tak hanya Anwar, tapi juga keluarganya yang merasakan tekanan besar ketika ia dipenjara. Mereka telah menderita selama 20 tahun.”

Baik Anwar dan Mahathir memutuskan untuk melupakan masa lalu. Masa depan Malaysia, menurut keduanya, lebih penting dari perasaan mereka. “Ayah saya selalu mengajarkan pada kami untuk memaafkan,” kata Nurul Izzah Anwar, putri Anwar Ibrahim seperti dikutip dari situs ABC Australia.

“Fakta bahwa ayah saya menjabat tangannya dan tersenyum hangat melambangkan pentingnya bergerak maju untuk memperkuat demokrasi Malaysia, daripada berfokus pada penderitaan diri sendiri.” Di sisi lain, Wakil Perdana Menteri Malaysia Zahid Hamidi, yang kini sudah mantan, menyebut bahwa pertemuan Mahathir dan Anwar sebagai “tindakan putus asa”. Kata-katanya itu kini terbukti salah…(int/amri/mm)

 

News Feed