Oleh : Choking Susilo Sakeh

BAJU JAS WALIKOTA

“SAYA sudah menjajal (Bahasa Jawa : mencoba memakai) baju jas Gubernur, ternyata tidak pas dengan tubuh saya”.

Selepas waktu Ashar, sekitar setahun menjelang Pilgubsu 2008, saya sebagai Sekjen Paguyuban Keluarga Besar Pujakesuma Pusat bersama beberapa sesepuh berkunjung ke rumah sesepuh Pujakesuma Bapak Arifin Kamdi (almarhum), di seputaran Taman Gajah Mada Medan Baru. Tujuannya, meminta kesediaan tuan rumah untuk ikut maju pada Pilgubsu 2008.

Saat itu, Sumut memang sudah hiruk pikuk soal Pilgubsu. Sudah delapan bulan sebelumnya, Dato’ Seri Syamsul Arifin (Bupati Langkat saat itu) gencar mensosialisasikan dirinya sebagai Cagubsu pada Pilgubsu 2008. Syamsul pun memutuskan, akan mencari wakilnya dari etnis Jawa. Dan saya yang kebetulan ditunjuk sebagai komandan tim Syamsul, punya beban untuk mencari tokoh Jawa yang layak mendampingi Syamsul pada Pilgubsu tahun itu.

Pilihan pertama, tidak bisa tidak, jatuh pada Pak Arifin Kamdi. Beliau adalah pengusaha perkebunan yang sukses (PT Paya Pinang), aktif di berbagai organisasi ummat diantaranya Al Washliyah, MUI dan beberapa lainnya. Beliau tak sekedar mapan dari aspek ekonomi, tapi juga Muslim yang taat, pribadi yang matang   dan beliau adalah panutan bagi etnis Jawa di Sumut.

Dan jawaban Pak Arifin Kamdi di sore itu, cukup menghentakkan kami : “Saya sudah menjajal  baju jas Gubernur, ternyata tidak pas dengan tubuh saya”.

Kalimat sederhana itu beliau ucapkan dengan datar dan ringan. Tapi, buat saya  --  hingga kini  --  itu sesungguhnya bukan kalimat ringan, melainkan sarat makna. Hanya orang-orang yang mempunyai akal sehatlah yang bisa memahami makna kalimat tersebut.

Menurut pemahaman saya, pada baju jas gubernur itu ada tantangan kepada pemakainya untuk : dengan tepat memahami apa tupoksi seorang kepala daerah sebagaimana ketentuan yang ada, berikut apa tantangan dari aspek peraturan; memahami apa masalah daerah yang ada, serta apa solusi yang disiapkan untuk menyelesaikan masalah yang ada.

Tak kalah pentingnya  --  mengingat pilgubsu adalah salah satu model pemilu di di Indonesia  --  maka harus pula dihitung dan disiapkan biaya politik yang dibutuhkan : dari biaya mendapatkan tiket sebagai peserta pilkada, biaya membentuk dan merawat tim pemenangan, termasuk juga biaya untuk “sesuatu yang diharamkan oleh peraturan”.

Sosok yang siap memakai baju jas Gubernur itu, berarti dengan ikhlas telah mewaqafkan dirinya untuk kemashlahatan ummat yang dipimpinnya. Pemakai Jas Gubernur, mestilah memiliki kewaskitaan kelas empu. Dan selebihnya, sosok itu tau persis bahwa tingkat popularitas dan elektabilitasnya cukup merangsang.

Menjelang Maghrib kami mengorak sila dari rumah pak Arifin Kamdi. Bahwa sesungguhnya, menurutku, semua tantangan pada Baju Jas Gubernur itu ada dan melekat pada sosok Arifin Kamdi. Namun beliau tetap menganggap, jas gubernur itu tidak pas dengan tubuhnya.

Semakin besar rasa hormatku pada almarhum Arifin Kamdi. Al Fatihah untukmu!

Pilkada Medan

Maka, setiap datang perhelatan pilkada, termasuk Pilkada Medan yang rencananya dijadwalkan pada September 2020 nanti, saya pasti teringat almarhum Arifin Kamdi. Kalimat beliau beberapa tahun lalu itu, menjadi alat untuk mengukur tentang keberadaan akal sehat.

Meski masih ada waktu setahun lebih, saat ini sudah beredar banyak nama yang, konon, mengaku siap menjadi Walikota Medan priode 2020-2025. Ada yang  langsung berterus terang, ada yang tampil malu-malu, dan banyak pula yang muncul melalui mak comblang. Apapun itu, semua sah-sah saja dan jelas bukan perbuatan makar.

Saya cuma mau bilang  -- ecek-eceknya diskusi lah  --  bahwa untuk menjadi Walikota Medan priode 2020-2025, pertama, anda harus memahami dengan benar apa tupoksi walikota dan dimana posisinya di dalam sistim pemerintahan  negara kesatuan Indonesia, sebagaimana ketentuan yang telah diatur. Dengan demikian, kelak anda pun akan tahu dengan persis apa masalah dan tantangan yang bakal dihadapi seandainya anda terpilih menjadi walikota.

Kedua, anda pun harus tepat memahami apa masalah Kota Medan serta apa solusi penyelesaian masalah tersebut. Anda mesti memahami dengan benar tentang banjir, macet, sampah, byar-pet listrik, air bersih, PKL dan tetek bengek lainnya, juga tentunya upaya mengatasinya. Anda pun harus tau persis bagaimana mendongkrak PAD, dimana bocornya PAD dan seterusnya.

Ketiga, anda pun harus mempersiapkan dana cukup besar, terserah mau dana sendiri atau dana dari pemodal. Di saat perekonomian semakin sulit akhir-akhir ini, saya memperkirakan jumlah kelompok pemilih cerdas akan semakin mengecil, sedangkan kelompok pemilih wani piro akan semain membesar. Begitu pula harga sewa perahu akan semakin menggila. Anda harus siap mengikuti perhelatan yang kemungkinan berlangsung brutal.

Keempat, anda pun telah siap mewaqapkan diri anda untuk memimpin dan meningkatkan taraf hidup kota dan sekitar dua juta warga Kota Medan. Anda siap untuk tidak melakukan politik balas budi, apalagi balas dendam, jika kelak terpilih. Bagaimana Medan yang merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia ini, kelak harus mampu menjadi kota besar sebagaimana mestinya.

Lalu, berdasarkan semua itu, anda pun yakin dan pasti tau persis, bahwa tingkat popularitas dan elektabilitas anda di mata para pemilih Kota Medan cukup menggairahkan. Anda tau persis, bahwa sosok anda adalah sosok yang dibutuhkan oleh masyarakat Medan, bukan malah sebaliknya.

Okey : Anda mengaku pintar, kreatif dan inovatip, punya persediaan duit yang relatif cukup siap, ta’at beragama, ikhlas, tingkat popularitas maupun tingkat elektabilitas anda memang jempol, serta anda punya akal sehat; maka, silahkan maju sebagai Calon Walikota Medan. Sebab, Baju Jas Walikota Medan memang membutuhkan sosok semacam itu untuk menjadi pemakainya.

Sebaliknya, modal anda cuma berani bertindak gila dan cenderung nekat, silahkanlah menepi. Tak usah repot ikut mematut-matutkan sosok anda dengan baju jas walikota tersebut. Lagipula, perilaku anda itu, hanya mengotori halaman media saja, khususnya halaman medsos!

----------------------

*Penulis adalah Jurnalis Utama, warga Kota Medan.

Penulis:
Editor: Redaksi

Baca Juga