Oleh : Choking Susilo Sakeh

BUKAN GUBSU KALENG-KALENG

Choking Susilo Sakeh.(Foto;MEDANmerdeka)

JUMLAH pasien terus bertambah!

Untuk Sumatera Utara, data terakhir Posko gugus tugas percepatan penanganan covid-19 Sumut, Sabtu sore mencatat pasien positif 14 orang, pasien ODP (orang dalam pemantauan) sebanyak 4.064 orang, Pasien dalam pengawasan (PDP) sebanyak 77 orang, PDP negatif namun masih dirawat 18 orang, pasien meninggal dunia sebanyak tiga orang.

Setiap hari, data tersebut meningkat tajam dari data sehari sebelumnya. Dan saya sampai kepada satu keyakinan, data tersebut akan terus meningkat jika kebijakan Pemprov Sumut masih seperti sekarang ini, masih menerapkan strategi konvensional melawan virus covid-19.

Gubsu, seperti kebanyakan pemimpin tingkat nasional maupun pemimpin di tingkat provinsi dan kab/kota, terkesan bekerja apa adanya. Rapat demi rapat, lalu mengeluarkan pernyataan standar. Belum terlihat ada langkah signifikan, berani dan kreatif di dalam menggempur covid-19 yang semakin merajalela di daerahnya. Lebih dari itu, bahkan terkesan hanya menunggu ‘instruksi’ dari pusat, menunggu sesuatu yang tak pasti karena pusat sedang dilanda ‘kepanikan massal”.

Tidak bisa tidak, Gubernur Sumut harus berani keluar dari gelombang ‘kepanikan massal pemimpin’ di dalam menghadapi serangan covid-19. Pengalaman dan jam terbang Edy Rahmayadi  sebagai pensiunan jenderal bintang tiga yang pernah memimpin pasukan komando strategis TNI AD maupun pemimpin territorial, harus segera diperlihatkannya untuk memimpin rakyat Sumut ‘berperang’ melawan covid-19.

Tidak Panik, Kreatif dan Transparan

Saya menawarkan tiga kunci saja kepada Gubsu, didalam menghempang laju virus covid-19 di Sumut. Yakni, tidak panik, kreatif dan transparan.

Pertama, tidak panik apalagi ikut-ikutan panik. Pemimpin yang panik, cuma akan melahirkan kebijakan yang gagap. Dan kebijakan pemimpin yang gagap, tidak akan dipatuhi oleh rakyat dan bahkan hanya akan ditertawakan belaka.

Pemimpin yang panik tidak bakalan memenangkan pertempuran. Prajurit yang mendapat perintah dari pemimpin yang panik, akan gampang terceraiberai dan terbunuh. Dan Edy Rahmayadi semestinya sangat faham soal ini. Karenanya, Gubsu jangan panik dan jangan menunggu perintah dari atasan yang panik.

Kedua, transparan, jujur dan terbuka apa adanya. Gubsu harus berani mengakui, misalnya, bahwa jumlah pasukannya  --  terkhusus Pejuang Kemanusiaan  --  saat ini sangat terbatas bahkan setengah lumpuh, termasuk semangat juang para stafnya yang menurun; bahwa Pemprov Sumut tidak punya dana cukup untuk membeli peralatan perang, terkhusus untuk tenaga medis Pejuang Kemanusiaan seperti APD, obat-obatan, alat test dan lain sebagainya; bahwa Pemprov Sumut kesulitan membangun semangat kebersamaan dengan seluruh elemen masyarakat; dan lain sebagainya.

Kejujuran Gubsu semacam ini, sesungguhnya akan sangat bermanfaat bagi seluruh masyarakat Sumut untuk ikut mengambil peran dan posisi di dalam memenangkan peperangan melawan virus covid-19 ini. Sebab, covid-19 bukanlah cuma masalah Pemprov Sumut semata, melainkan masalah kita semua. Dan Pemprov Sumut tidak akan bisa memenangkan peperangan ini, tanpa melibatkan semua elemen masyarakat.

Ketiga, adalah kreatif. Di tengah kondisi yang semakin mengkhawatirkan saat ini, Gubsu harus mampu berpikir dan bertindak kreatif. Tidak Cuma menunggu, sembari bekerja apa adanya.

Gubsu bisa menjadikan “Salus Populi Suprema Lex Esto” (Keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi) sebagai perangsang untuk bersikap kreatif di dalam kancah peperangan ini. Bersikap kreatif mengatasi keterbatasan pasukan dan dana, bersikap kreatif menggugah semangat dan minat seluruh elemen masyarakat bahwa ini adalah pertempuran bersama.

Pada akhirnya, pendemi virus covid-19 ini telah memperlihatkan kepada rakyat : mana pemimpin sejati yang berjuang untuk kepentingan rakyatnya, dan mana pemimpin pecundang yang lebih mementingkan syahwat mempertahankan kekuasaan para tokenya. Covid-19 telah memperlihatkan kepada kita, mana pemimpin yang berkelas dan mana pemimpin yang kaleng-kaleng.

Satu hal lagi, jika selama sekitar 18 bulan kemaren saya banyak mengkritisi perilaku Gubsu karena saya anggap tak sejalan dengan visi Sumut Bermartabat, maka menghadapi virus covid-19 di Sumut saat ini, saya akan dukung anda sepenuhnya, apapun yang anda lakukan.

Dengan catatan : anda tidak panik, transparan dan kreatif, serta kebijakan anda itu berdasarkan semangat “Salus Populi Suprema Lex  Esto”. Ayo, tunjukkan Gubsu bukan kaleng-kaleng! (*)


*Penulis adalah Jurnalis Utama.

Komentar

Loading...