oleh

Edy dan Karakter Anak Medan

Hari-hari terakhir ini, Edy Rahmayadi menjadi trending topic. Publik menghujat Edy seusai wawancaranya dengan sebuah station tv swasta, lalu mengaitkannya dengan perilaku Edy lainnya ketika ‘menampar’ seorang penonton bola di Stadion Teladan Medan, ‘mengusir’ seorang ibu pengunjukrasa nelayan di kantor Gubsu, dan seterusnya. Adakah yang salah dari Edy Rahmayadi?

Tidak ada yang salah!

Saya sungguh tak punya kompetensi, kapasitas dan kepentingan untuk membela Edy Rahmayadi. Yang akan saya bela adalah “Karakter Anak Medan”. Hujatan banyak masyarakat terhadap perilaku Edy tersebut, saya anggap sesungguhnya adalah hujatan terhadap karakter Anak Medan, yang oleh para penghujat dinilai berbeda dengan ‘kelaziman’ pemimpin di negeri ini. Dan karenanya, karakter Anak Medan itu mereka anggap tidak layak diterapkan ketika seorang Anak Medan menjadi pemimpin.

Saya tegaskan, suka atau tidak, Anak Medan adalah bagian dari masyarakat Indonesia. Apa dan bagaimanapun Anak Medan dan karakternya, itu nyata adanya dan semestinya bisa dipahami oleh komunitas masyarakat lainnya di Indonesia. Sejak belasan tahun lalu, saya sudah beberapa kali menulis prihal karakteristik Anak Medan ini, agar komunitas masyarakat lainnya bisa memahaminya.

Yang saya maksudkan dengan ‘Anak Medan’ adalah anak-anak yang lahir dan besar di Kota Medan minimal generasi kedua, dimana kedua orangtuanya atau salah satu dari kedua orangtuanya juga lahir dan besar di Medan. Jika dia generasi ketiga dan seterusnya, maka kedua pasangan kakek/neneknya baik dari garis ayah ataupun ibunya, atau salah satu dari kakek/neneknya juga lahir, besar dan menetap di Medan.

Para Anak Medan ini, bisa saja masih menetap di Medan hingga kini, atau bisa juga setelah dewasa menetap di daerah lain. Dengan demikian, orang-orang yang menetap di Medan di saat telah berusia dewasa, tidak termasuk dalam kategori ‘Anak Medan’ yang saya maksudkan.

Bagi para ‘Anak Medan’, pasti sepakat dengan saya : bahwa tak ada yang salah dari perilaku Edy. Hujatan terhadap perilaku Edy itu muncul karena para penghujatnya tidak memahami karakteristik Anak Medan. Bahkan lebih ekstrim lagi, mereka memakai nilai moral yang lazim berlaku pada komunitasnya untuk menilai karakteristik Edy, Anak Medan yang kini menjadi Gubernur Sumut.

Beragam dan Unik

Berbeda dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia, Kota Medan tak semata beragam. Namun juga unik. Keputusan DPRD Medan pada Maret 1975, menetapkan Kota Medan bermula pada 1 Juli 1590, saat Guru Patimpus membuka perkampungan di sebuah kawasan pertemuan dua buah sungai yang membelah Kota Medan, yakni Sungai Deli dan Sungai Babura. Namun Sejarahwan muda Dr. Pjil Ichwan Azhari dkk., meyakini awal berdirinya Kota Medan jauh lebih tua seiring penemuan situs Kota Cinna di Marelan tahun 1986, saat penggalian tanah untuk pembangunan jalan tol Belmera. Berdasarkan temuan beberapa artefak, Kota Cinna itu telah berdiri pada abad 12-14 M.

Sebagai Bandar pelabuhan laut pada abad ke 12 tersebut, Kota Medan sudah dihuni oleh etnis beragam, dan demikian seterusnya saat dibukanya perkebunan tembakau pada abad ke 18. Pada tahun 1918, tercatat dari 43.826 jiwa penghuni Kota Medan saat itu, ada 409 orang keturunan Eropa, 35.009 orang Indonesia dari berbagai etnis, 8.269 keturunan Tionghoa, dan 139 berasal dari ras Timur lainnya.

Tahun 1930, Kota Medan tercatat dihuni oleh etnis Jawa sebanyak 24,9 %, Batak 10,7 %, Tionghoa 35,6%, Mandailing 6,43%, Minangkabau 7,3%, Melayu 7,06%, Karo 0,12%, dan beberapa etnis lainnya. Jumlah penduduk Kota Medan kini sekitar 2,4 juta jiwa, terdiri dari sedikitnya 25 etnis, dengan komposisi etnis yang tidak jauh berobah dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Keunikan Kota Medan dibanding kota-kota besar lainnya di Indonesia, adalah kenyataan bahwa di Medan tidak ada satupun etnis yang mendominasi etnis lainnya. Padahal Melayu dan Karo, adalah etnis tempatan, Jawa adalah etnis mayoritas, dan Tionghoa adalah etnis yang menguasai bidang perdagangan di Kota Medan.

Sebagai sebuah wilayah yang sangat terbuka terhadap para pendatang sejak abad ke 12, maka pergaulan sosial antaretnis berlangsung sangat cair, hangat dan sangat toleran. Begitupula dengan perkawinan antaretnis, telah berrlangsung sejak ribuan tahun lalu. Hal-hal tersebut, ditambah lagi dengan tidak adanya etnis yang mendominasi, telah membentuk sebuah komunitas masyarakat baru dengan karakteristik baru dan khas pula, berikut dengan berbagai produk budayanya.

Beberapa karakter Anak Medan yang mudah dikenali, diantaranya terbuka, spontan dan tidak suka berbasa-basi; sangat percaya diri; memiliki rasa kesetiakawanan yang tinggi, dan sangat benci terhadap sikap pengkhianatan dan selingkuh; tidak suka dengan kesewenang-wenangan baik yang dilakukan karena pengaruh jabatan maupun pengaruh massa; tegas, konsisten, gigih dan pantang menyerah; sangat perasa dan mudah merasa hiba, sangat menghormati orang lain terutama yang lebih tua; adakalanya terkesan nekat, dan lainnya.

Salah satu karakter populer Anak Medan adalah “Pantang Tak Hebat”. Dalam konotasi kritik, kalimat ini bermakna bahwa : kaleng-kaleng sekalipun seorang Anak Medan, dia tetap merasa hebat dan harus masuk hitungan untuk dihargai. Jika tidak, yang bersangkutan akan melakukan berbagai upaya untuk masuk hitungan dan dihargai.

Jika kemudian di Kota Medan banyak dihuni oleh para ‘ketua’, ‘katuo’, ‘ketua besar’, dan seterusnya, itu adalah salah satu dampak dari karakteristik Pantang Tak Hebat-nya Anak Medan. Maka, bisalah kemudian kita membayangkan : bagaimana jadinya jika ada seorang Anak Medan yang bukan kaleng-kaleng namun diperlakukan sewenang-wenang; baik oleh seorang pengunjukrasa, seorang penonton bola maupun seorang presenter tv.

Bagi siapapun yang bisa memahami makna filosofi “Pantang Tak Hebat” ini, maka dia akan dengan gampang ‘menundukkan’ Anak Medan. Namun, jika yang terjadi adalah sebaliknya, maka siapapun anda akan ‘dilahap’ Anak Medan.

Tidaklah mengherankan, jika karakter Anak Medan dari etnis Jawa misalnya, akan sangat jauh berbeda karakternya dengan warga Jawa dari Pulau Jawa. Anak Medan dari etnis Melayu, jauh berbeda karakternya dengan warga Melayu di wilayah lainnya. Begitu pula Anak Medan dari etnis Batak, dan etnis lainnya.

Karakter Anak Medan tersebut juga tercermin dalam bahasa Anak Medan yang spontan dan ceplas-ceplos apa adanya. Misalnya, ada kalimat yang sering dilontarkan Anak Medan secara spontan dalam menghadapi sebuah peristiwa : “Cak ko apakan itu, apa kali kutengok”. Kalimat semacam ini hanya bisa difahami oleh sesama Anak Medan.

Begitu pula kuliner khas Medan, dikenal enak dan enak kali karena kenekatan dan keterbukaan sang juru masaknya dalam mencampuradukkan berbagai rempah sebagai bumbu masakannya. Tak heran jika kemudian Rendang Padang Medan jauh lebih enak dibanding rendang yang dijual di Sumbar, Mie Aceh Medan juga jauh lebih nikmat daripada Mie Aceh yang dijual di Aceh, Gudeg Jogya Medan terasa lebih maknyos dibanding gudeg-nya Jogya, dan seterusnya.

Sayangnya belum pernah ada survei berapa jumlah populasi ‘Anak Medan’ saat ini, baik yang masih menetap di Medan maupun menetap di luar Medan. Namun, di dalam pergaulan sosial, sangat gampang menentukan mana ‘Anak Medan’ dan mana ‘Warga Medan’.

Bahasa Politik

Beberapa tahun lalu — setidaknya sebelum ada musim pilkada langsung — masalah identitas etnis bukan sesuatu yang penting bagi Anak Medan. Saya sangat sering menyebutnya, Anak Medan adalah sebuah ‘etnis baru’. Dan para Anak Medan jauh lebih bangga menyebut dirinya sebagai ‘Anak Medan’ ketimbang menyebut etnisnya. Namun kini, identitas etnis sepertinya seperti menjadi kebutuhan wajib, seiring dengan dominasi aspek politik dan kekuasaan dalam mengaduk-aduk kehidupan masyarakat.

Diberlakukannya sistim pemilu langsung dalam 15 tahun tahun terakhirnya ini, mengakibatkan hampir setiap tahun kita menyelenggarakan kegiatan politik baik pilkada kab/kota, pilkada provinsi, pileg dan pilpres. Untuk Pilpres tahun depan misalnya, sejak setahun sebelumnya telah menimbulkan kehebohan.

Disadari atau tidak, semua aspek kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara, nyaris dikuasai oleh aroma politik. Ribuan kosa kata politik setiap hari menyerbu gendang telinga kita melalui media mainstream dan media sosial. Semua aspek kehidupan dibahas dalam bahasa politik dan kekuasaan. Harga telor, demo anarkis, suara adzan, kalimat tauhid, bencana, pesta perkawinan, olahraga, seni dan sebagainya dibicarakan berulang-ulang dalam bahasa politik dan tentunya untuk kepentingan kekuasaan.

Karena legitimasi kekuasaan dan politik diperoleh dari suara rakyat, maka politik dan kekuasaan telah menciptakan sebuah frame tentang bagaimana idealnya seorang pemimpin dalam meraih suara rakyat. Tanpa terasa, kita kini terjajah dengan frame tersebut, bahwa pemimpin harus bergaya bahasa yang santun, perlahan-lahan — bila perlu sedikit cengegesan — meski materi yang disampaikan penuh dengan kebohongan dan kelicikan. Pada akhirnya, kitapun lebih melihat ‘bagaimana cara seorang pemimpin berbicara’, ketimbang ‘apakah materi yang dibicarakan pemimpin itu benar adanya atau bohong belaka’.

Penjajahan politik dan kekuasaan yang sedemikian besarnya terhadap segala aspek kehidupan kita, tanpa terasa telah menggiring kita menyepakati bahwa nilai moral yang diciptakan dalam dunia politik tersebut adalah nilai yang benar.

Dalam politik kekuasaan, segala yang berbeda adalah lawan, dan lawan harus dihabisi. Warna yang berbeda adalah lawan, karenanya harus dihujat. Harga beras yang berbeda adalah lawan, dan karenanya harus dihujat. Maka, jika seorang Edy Rahmayadi berbicara dan berperilaku sebagaimana karakteristiknya sebagai Anak Medan, maka itu adalah kesalahan. Sebab, itu berbeda dengan frame nilai yang telah dibangun oleh politik dan kekuasaan tentang bagaimana perilaku yang layak bagi seorang pemimpin.

Itulah kemudian yang menyebabkan Edy Rahmayadi jadi bahan hujatan. Padahal, Edy telah benar ketika mengusir seorang ibu peserta unjukrasa nelayan di halaman kantor Gubsu. Si Ibu itu tidak berupaya menghargai Gubsu, yang meski baru dilantik dua hari namun sudah bersedia menerima para pengunjukrasa. Di saat Edy sedang berbicara di atas podium, si ibu asyik ribut mengajak teman-temannya berbicara dan tidak mendengarkan apa yang dibicarakan Edy. Si ibu telah bersikap sewenang-wenang karena berada di dalam kerumunan massanya yang banyak. Karakter Anak Medan pastilah membenci si Ibu semacam itu.

Edy juga benar ketika ‘menampar’ seorang penonton bola di Stadion Teladan. Sesuai peraturan, penonton dilarang misalnya meneriakkan kata-kata anarkis atau menyalakan kembang api. Dan PSMS sebagai tuan rumah, terlalu sering dikenakan denda akibat ulah penonton yang tidak mengindahkan aturan tersebut. Si penonton, tidak mengindahkan larangan itu, dan telah bersikap sewenang-wenang karena berada di dalam kerumunan massanya yang banyak. Sebagai Ketum PSSI, juga Pembina PSMS, Edy wajar marah terhadap sekelompok penonton tersebut. Dan karakter Anak Medan memang benci terhadap kesewenang-wenangan yang diperlihatkan penonton semacam itu.

Sama halnya saat wawancara di tv swasta itu. Saya punya pengalaman menjalani profesi sebagai jurnalis selama lebih dari separoh umur saya, baik sebagai jurnalis di media cetak, jurnalis tv di beberapa tv swasta, jurnalis radio dan kini jurnalis media online; dari jenjang paling bawah, hingga sampai jenjang tertinggi di perusahaan pers. Saya tau persis bagaimana cara terbaik mewancarai narasumber. Dan Edy tak salah, sebab karakteristik Anak Medan memang tak suka terhadap perilaku sewenang-wenang yang dilakukan oleh siapapun.

Kalaupun kemudian Edy Rahmayadi menjadi viral karena hujatan, saya pastikan karena para penghujatnya tidak memahami karakteristik Anak Medan. Lebih ekstrim lagi, para penghujatnya mempergunakan frame nilai moral yang diciptakan dunia politik kekuasaan Indonesia saat ini tentang bagaimana perilaku seorang pemimpin, yakni : Jika berbicara Pemimpin mesti memakai bahasa yang teratur, perlahan-lahan, sedikit cengengesan; meski materi yang dibicarakannya adalah bohong dan omong kosong. Andai seorang pemimpin berperilaku berbeda, sebagaimana halnya Edy Rahmayadi, itu adalah salah dan karenanya layak dihujat.

Terakhir, saya sungguh tak berniat membela Edy Rahmayadi. Tapi, keberadaan Anak Medan dengan karakteristiknya, bahasanya, kulinernya dan produk budaya Anak Medan lainnya, adalah nyata, sah dan bagian dari NKRI. Jadi, kalau anda mengaku Pancasilais, jangan lecehkan keberadaan Anak Medan!

——————

* Penulis adalah Wartawan Utama anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Ketua Majelis Kesenian Medan, Kordinator Tim Penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Kota Medan Thn 2018, Sekjen Pujakesuma (2005-2017), Sekum Pengprov PSSI Sumut (2009-2011), lahir dan hingga kini menetap di Medan.

Komentar