Oleh : Choking Susilo Sakeh

GUBERNUR DENGAN DENDAM 

Choking Susilo Sakeh. (Foto:Dok)

UNTUK Sumutbermartabatkah?

Seusai  ‘perdebatan’ antara presenter sebuah TV swasta dengan Ketum PSSI yang juga Gubsu tentang PSSI (24/9/2018), esok paginya secara mendadak dilaksanakan acara coffee morning antara Gubsu dengan kalangan wartawan, di Binagraha Pemprov Sumut Medan.

Gubsu yang datang terlambat sekitar satu jam dari jadwal, langsung naik ke pentas, ambil mike dan ngomong panjang lebar tentang karakter anak Medan, tentang visi-misi Sumut Bermartabat, bla, bla, bla… dan seterusnya, dan seterusnya. Di sebelahnya, Wagubsu Musa Rajekshah ikut mendampingi.

Setelah Gubsu ngomong hampir satu jam, para wartawandiberi kesempatan untuk bertanya. Dan saya, kebagian sebagai penanya keempat.

Ada empat point yang saya sampaikan kepada Gubsu saat itu. Tapi pada tulisan kali ini, saya hanya ingin mengulangi dua point saja dari penyampaian saya saat itu.

Pertama, bahwa pasangan Eramas (Edy Rahmayadi/Musa Rajeckshah)menjadi Gubsu terpilih pada Pilgubsu 2018 setelah meraih total suara sebanyak 3.291.137 suara. Sedangkan rivalnya, Djoss(Djarot Syaiful Hidayat/Sihar Sitorus)meraih 2.424.960 suara. Total suara sah berjumlah 5.716.097, suara tidak sah 90.770, dan jumlah DPT sebesar9.052.529 pemilih.

Saya sampaikan di acara coffee morning itu, apakah Edy Rahmayadipernah menghitung-hitung :  dari 3.291.137 suara perolehan Eramas pada Pilgubsu tersebut, berapa persenkah yang memilih karena sosok Edy Rahmayadi, berapa persen yang memilih karena sosok Musa Rajeckshah, berapa persen yang memilih karena partai pengusung,  dan berapa persen pulakah yang memilih karena Ustadz Abdul Somad?

Saya khawatir, bahwa perolehan suara Eramas tersebut sebahagian besar karena Ustadz Abdul Somad dan jama’ahnya. Sebab, dari amatan saya di beberapa daerah di Sumut, banyak kawasan yang tidak terpasang atribut Eramas, namun Eramas bisa menang meski di kawasan tersebut. Banyak pemilih Eramas di kawasan-kawasan itu menjelaskan, mereka memilih Eramas setelah menyaksikan salah satu video ceramah Ustadz Abdul Somad.

Kedua, jika dibandingkan dengan 12 juta total jumlah penduduk Sumut, maka perolehan Eramas sebanyak 3.291.137 suara pada Pilgubsu 2018 itu, artinya Eramas hanya dipilih oleh sekitar 37 persen dari penduduk Sumut. Selebihnya, sebanyak 63 persen warga Sumut tidak memilih Eramas.

Saya katakan, visi-misi Sumut Bermartabat hanya akan menjadi konsep di atas kertas semata  --  cuma koyok-koyok  belaka  --   jika Gubsu tidak mampu merangkul 63 persen penduduk Sumut yang tidak memilihnya.

Karenanya, Edy Rahmayadi harus mampu menjadi pemimpin untuk 12 juta masyarakat Sumut, baik yang memang memilihnya maupun dari kubu sebelah. Edy Rahmayadi harus menjadi Gubernur Sumut tanpa rasa dendam!

Gubernur dengan Dendam

Jika dihitung sejak dilantik pada 5 September 2018, berarti Edy Rahmayadi telah memimpin Sumut sekitar 15 bulan. Dan selama itu pula, ada banyak kontroversial dari sosok Edy Rahmayadi.

Yang paling terbaru adalah perseteruannya dengan PW Ansor Sumut dan perseteruannya dengan Bupati Tapanuli Tengah, Bahtiar Sibarani, di penghujung akhir tahun 2019.

“Tak cocok jadi bupati, gimana tak miskin rakyatnya? Tak ada sayangnya sama rakyat, kok dia jadi pemimpin”, kata Edy di Aula Raja Inal Siregar kantor Gubernur, Medan, Selasa (17/12/2019), mengomentari Bupati Tapanuli Tengah, Bahtiar Sibarani.

Tak mau kalah, esok harinya Bupati Tapanuli Tengah mengingatkan gubernur untuk sopan dan beretika dalam berbicara. "Kami tidak bisa mengajari, tetapi mengingatkan bahwa belajar sopan dan beretika jauh lebih baik," kata Bahtiar Sibarani.  di Kantor Bupati Tapteng di Sibolga, Rabu (18/12/2019).

Bakhtiar  Sibarani juga mengkritik balik Gubsu. Bakhtiar meminta Edy memberi arahan bukan sekadar marah-marah. "Saya selaku Bupati membutuhkan arahan bukan cakap-cakap saja, bukan marah-marah saja tapi solusi. Bupati, wali kota membutuhkan solusi percepatan pembangunan, bukan marah-marah, bukan cakap-cakap saja," kata Bakhtiar.

"Tolong tanya gubernur, selama beliau menjabat kurang lebih satu tahun apa yang dilakukannya untuk Sumatera Utara. Kami minta diadakan survei independen dilakukan dari pusat atau dari universitas di Sumatera Utara atau tim lain secara independen. Apa yang dilakukan gubernur selama dia menjabat, apa yang kami lakukan selama menjabat," ucapnya.

"Kami lagi bangun infrastruktur Tapanuli Tengah. Sudah ratusan miliar kami bangun untuk jalan dan sebagainya tanpa ada bantuan keuangan dari Provinsi selama Edy Rahmayadi menjabat Gubernur Sumatera Utara," sambungnya.

Dan publik pun kemudian faham, bahwa konflik Gubsu dengan Bupati Tapteng tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dampak dari Pilgubsu 2018.  Saat itu, Bahtiar Sibarani tidak mendukung pasangan Eramas, tetapi mendukung pasangan Djoss. Di kabupaten ini,Eramas kalah telak dan hanya meraih 32.592 suara. Sedangkan Djoss meraih 109.732 suara.

Semua perseteruan Edy Rahmayadi dengan berbagai fihak, jika dirunut pun kemudian bisa dikenali sebagai sikap ‘balas dendam’ Edy dengan fihak-fihak yang tidak mendukungnya saat Pilgubsu 2018. Namun, perseteruannya dengan Bupati Tapteng menjadi paling menarik, karena Bupati Tapteng memperlihatkan perlawanan yang telak.Dan perseteruannya dengan Bupati Tapteng, adalah satu contoh dari sekian banyak kegaduhan berlatar dendam yang dibuat Edy sebagai Gubernur Sumut.

Kita pun kemudian maklum, bahwa Edy sepertinya adalah tipikal sosok yang menganggap Pilkada Sumut adalah segala-galanya.  Kemenangannya pada pilkada tersebut,  sepertinya dianggap sebagai kerja kerasnya sendiri. Karenanya, saat memimpin Sumut dia tidak membutuhkan orang lain, terutama fihak-fihak yang tidak mendukungnya pada pilkada.

Saya cuma ingin katakan, memimpin Sumut dengan rasa dendam hanya akan menghasilkan kesia-siaan. Selain itu, adanya kesadaran bahwa gubernur bukan Superman dan bukan pemilik kebenaran, setidaknya bisa menjadi penuntun agar tidak mendapat cap sebagai gubernurkaleng-kaleng, gubernurkoyok-koyok, gubernur pembuat gaduh, dan gubernur penuh dendam.

Sebab, jika visi-misi Sumut Bermartabat itu hanya dikerjakan seorang diri, dipastikan cuma akan menjadi koyok-koyoksaja!


*Penulis adalah jurnalis senior, menetap di Medan.

Komentar

Loading...