Oleh : Choking Susilo Sakeh

GUBERNUR KALENG-KALENG

Choking Susilo Sakeh.(Foto:MEDANmerdeka)

TIBA-tiba  --belum masuk musim asap, pun  tak ada angin puting beliung-- gubernur awak mengeluarkan statemen : “Saya bukan Gubernur kaleng-kaleng”.

Peristiwa itu terjadi pada Selasa (27/8), saat bapak gubernur itu menerima perwakilan mahasiswa pengunjuk rasa yang menuding dua kadis di Pemprov diduga korupsi.Dua kadis yang dituding korupsi, yakni Kadis Pendidikan Arsyad Lubis dan Kadis Perhubungan Abdul Haris Lubis. Keduanya ikut menerima pengunjuk rasa.

Pengunjuk rasa menuding Arsyad Lubis dan Haris Lubis diduga melakukan korupsi, berdasarkan audit BPK RI Perwakilan Sumut.Arsyad Lubis dituding korupsi dari pengelolaan dan sisa dana BOS tahun 2012-2016 sebesar Rp 2,695 miliar. Sedangkan Haris Lubis dituding korupsi sebesar Rp 4,7 miliar dari kekurangan volume pekerjaan atas 16 paket proyek tahun anggaran 2017,saat Haris menjabat Kadis Bina Marga dan Bina Konstruksi Sumut.

Saat menerima pengunjuk rasa itu, gubernur awak  berang jika para anak buahnya dituding korupsi tanpa dasar dan bukti secara hukum. "Ini Pemprov bukan abal-abal ini. Dan saya bukan gubernur kaleng-kaleng," tegasnya, kala itu.

Awak tak ingin mengulas, benar atau tidaknya kedua kepala dinas itu melakukan korupsi. Sebab, awak memang tak faham soal itu, sekaligus tak punya kompetensi untuk membahasnya.

Pun, awak tak ingin membahas, kenapalahbapak gubernur itu gampang sekali menggeram. Selain awak tak kenal dan tak faham dengannya, awak pun cumalah kaleng-kaleng dan tak level membahas geram-menggeram tersebut.

Maka, awak hanya ingin berolah tulisan, khususnya tentang kalimat “kaleng-kaleng” yang diucapkan bapakgubernur itu dengan geram. Tulisan ini diupayakan tak ditulis dengan penuh geram, sebab memang awak tak layak ikut-ikutan geram.

* * *

Kaleng, menurut buku Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah besi tipis berlapis timah. Benda ini biasa dipakai untuk membuat atau rumah (seng), talang air, atau juga ceret tempat memasak air.

Adapun kata kata “kaleng-kaleng”adalah bahasa non-baku, merupakan salah satu bahasa gaul di kalangan anak-anak muda  --  khususnya anak muda  Medan  --hingga menyebar luas menjadi kata yang sering kita gunakan.

Kata ‘kaleng-kaleng’ kemudian dipahami sebagai sebuah istilah yang menunjukkan sesuatu yang tidak berkelas, tidak jelas, abal-abal dan sejenisnya. Misalnya pada kalimat : “Memanglah si Amat ini, dasar kaleng-kaleng”, atau “Hape mu ini  kaleng-kaleng”.

Jika kata kaleng-kaleng ditambahkan dengan kata “bukan” atau menjadi “Bukan kaleng-kaleng”, maka kata ini bermakna sebagai kebalikan dari kata “kaleng-kaleng”. Misalnya : “Wah, si Amat ternyata bukan kaleng-kaleng”, atau “Hape mu ini bukan kaleng-kaleng ya”.

Kalimat ‘Bukan kaleng-kaleng’ menjadi popular saat ini, ketika Maell Lee mengenalkan kalimat ini melalu Instagram dan channel YouTube-nya. Maell Lee menggunakan ‘Bukan kaleng-kaleng’ sebagai ciri khasnya.

Maell Lee yang memiliki nama asli Haris Saputra, adalah anak Medan kelahiran Aceh. Tahun 2005 ia merantau ke Jakarta, mengalami masa-masa sulit, pernah menjadi sopir pribadi seorang komedian, Dicky Chandra, hingga ia melihat sebuah peluang melalui Instagram dan channel YouTube. “Bukan kaleng-kaleng” kemudian menjadikan Maell Lee sebagai salah seorang selegram popular.

* * *

Bro, kalau ada seorang gubernur mengaku, bahwa dia bukan gubernur kaleng-kaleng, maka hak rakyat hanyalah menunggu : apa yang sudah dan akan dibuatnya untuk rakyat yang dipimpinnya.

Dan menunggu itu, boleh setahun dan boleh pula sampai selesai priode kepemimpinannya selama lima tahun. Kalau kemudian ternyata hasil kerjanya cumalah kelas kaleng-kaleng, maka gubernur tersebut adalah gubernur koyok-koyok dan dari jenis kaleng-kaleng.

Kalau cuma koyok-koyok, maka semestinya tak perlulah berkantor di gedung mewah, apalagi digaji pula oleh rakyat melalui APBD. Sebab, koyok-koyok bisa dilakukan di tempat-tempat yang sangat sederhana, semisal di warung kopi pinggir jalan…

---------------------------------

  • Penulis adalah Wartawan Utama, menetap di Jalan Kenari, Sekip, Medan Petisah.
Penulis:
Editor: Redaksi

Baca Juga