Oleh : Choking Susilo Sakeh

GUBERNUR KOYOK-KOYOK (KAH?)

Choking Susilo Sakeh.(Foto:MEDANmerdeka)

BAH, koyok-koyok…

Alkisah, dalam percakapan Anak-anak Medan,  kata ‘koyok’ punya beragam makna, namun pemahamannya nyaris sama. Kalimat seperti ini, misalnya: “Banyak kalipun koyok ko…”, maka kata koyok itu bisa bermakna ‘cakap’ (omongan), juga bisa bermakna ‘bohong’. Dengan demikian, kalimat tersebut bisa bermakna : “Banyak kalipun omongan kau…” atau “Banyak kalipun bohong mu…”.

Demikianlah pula halnya dengan kata ‘koyok-koyok’. Kata ini bisa bermakna ‘ecek-ecek’ (bohong-bohongan, omong kosong), bisa ‘omong doang’ atau ‘banyak omong’, seperti kalimat ini : “Koyok-koyoksajanya si Didiitu”.

Para Anak-anak Medan yang kini sudah berusia di atas 40-an tahun dan masih menetap di Medan pada pusaran tahun 1970-1980 an, pasti mengenal kata “Tukang Jual Koyok”. Satu tokoh terkenalnya adalah Bung Jamal, meski bertubuh kecil namun sangat kaya dengan tekhnik muncul yang jitu. Ada juga ‘Jango’, bertubuh kekar dengan tampilan topi cowboy dan pistol mainan di pinggang, bagaikan aktor Franco Nero dalam film “Janggo” buatan tahun 1966 itu.

Tukang jual koyok ini sebenarnya adalah profesi penjual obat yang membuka praktek di tempat-tempat umum. Kalau di Medan, tempat favorit mereka adalah di Lapangan Merdeka, sebuah alun-alun di kawasan titik nol Kota Medan. Kemampuan orasi, akting, teknik munculdan penguasaan arena yang sangat luar biasa, bisa merobah kualitasobat-obat  yang mereka jual dari kualitas ‘biasa-biasa saja’ menjadi ‘luar biasa’.

Predikat “Tukang Jual Koyok” dilekatkan kepada mereka, dikarenakan kemampuan mereka bercakap-cakap (berkoyok) yang maha luar biasa, sekaligus kualitas obat yang ditawarkannya pun sebenarnyabohong (koyok) belaka karena tak sesuai dengan faktanya.

Awak tak bisalah membayangkan, bagaimana meriahnya jika para penjual koyok ini ikut jadi caleg atau pilkada. Pasti pemilunya semakin seru dan menggairahkan. Sayangnya, pada masa itu belum masuk musim pileg dan pilkada.

Tetapi di Medan ada juga ‘obat koyok’. Tapitak ada hubungannyasama sekali dengan tukang jual obat koyok Lapangan Merdeka. Obat koyok ini semirip plaster, berasa panas, ditempelkan di bagian tubuh yang ngilu. Entah bagaimana produk ini bisa dinamai obat koyok. Padahal, fungsinya jelas-jelas bisa membantu meredakan rasa ngilu yang ada di tubuh kita.

Lantas, “Gubernur Koyok-koyok”, apa pula itu?

* * *

Idealnya, seorang gubernur itu ucapannya membumi (realistis, tidak mengada-ada),namun hasil kerjanya selangit. Maka, Gubernur Koyok-koyok bisa dimaknakan sebagai seorang gubernur yang ucapannya selangit, namun hasil kerjanya di telan bumi (karena memang tak ada hasil kerjanya!).

Gubernur Koyok-koyok adalah gubernur yang omongannya panas berapi-api (selalu menimbulkan masalah baru), tapi hasil kerjanya meleleh berair-air. Gubernur Koyok-koyok adalah gubernur yang setiap berbicara penuh semangat, namun rakyatnya malah tertawa geli mendengar omongan sang gubernur. Gubernur Koyok-koyok adalah gubernur yang gila pencitraan, namun dilakukan secaraasal-asalan dan tidak masuk akal.

Misalnya, rekruitmen untuk pengisian jabatan direksi dan badan pengawas BUMD, maupun kepala OPD. Sesungguhnya adalah lumrah, jika jabatan tersebut diisi oleh orang-orang dekat yang dianggap berjasa membantu kandidat pada saat pemilu. Menjadi aneh, adalah saat Gubernur Koyok-koyok ngomong berapi-api tentang kualitas rekruitmen, namun pada akhirnya tokh juga memilih orang-orang dekatnya mengisi jabatan tersebut.

Seorang gubernur semestinya pun tau secara benar tentang hak, wewenang dan hubungannya dengan bupati/walikota. Berbagai permasalahan yang ada di kab/kota, secara teknis tidak bisa ditangani langsung oleh gubernur. Meski begitu, gubernur tetap siap mendukung kab/kota untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

Namun, Gubernur Koyok-koyok adalah gubernur yang tidak tau dan/atau tidak mau tau tupoksi, hak, wewenang dan hubungannya dengan kab/kota. Dia merasa bisa dan berhak menyelesaikan semua permasalahan yang ada di kab/kota.

Misalnya permasalahan banjir di sebuah kota atau limbah di kawasan wisata. Gubernur yang  cerdasakan mendesak, mendorong dan membantu secara penuh bupati/walikota bersangkutan,  agar permasalahan tersebut bisa diatasi. Tetapi Gubernur Koyok-koyok merasa berhak menyelesaikan langsung permasalahan yang --  sesungguhnya --  secara teknis merupakan wewenang bupati/walikota.

Gubernur, pun adalah pemimpin untuk semua rakyat di daerahnya. Tidak peduli, apakah mereka memilihnya atau tidak pada saat pilkada. Tentu saja rakyatnya yang beragam etnis, agama, usia, profesi dan sebagainya itu, harus mampu dirangkul dan diayomi secara sama. Tidaklah elok jika ada dendam pilkada.

Akan halnya Gubernur Koyok-koyok adalah gubernur yang memimpin dengan rasa dendam. Dia hanya mementingkan kelompoknya sendiri, dan lebih fatal lagi, malah mementingkan diri dan keluarganya sendiri. Kelompok masyarakat lainnya, tak masuk ke dalam skala prioritasnya.

Seorang gubernur yang bijak, akan mendahulukan menyelesaikan program-program untuk kepentingan rakyatnya, sebagaimana visi-misi yang dijualnya saat pilkada. Namun Gubernur Koyok-koyok mendahulukan membangun taman milik pribadinya, walau kemudian menyatakan taman tersebut dibuka untuk kepentingan umum.

Hal paling penting lainnya, adalah kesediaan seorang gubernur secara priodik memeriksa apakah emosinya,juga daya ingatnya, masih tetap stabil atau malah naik turun. Gubernur Koyok-koyok adalah gubernur yang emosi dan daya ingatnya seringkali tidak stabil. Dampaknya, omongannya lebih banyak koyoknya, bahkan dia pun lupa apa yang sudah dikoyokkannya kemaren.

Stabilitas emosi dan daya ingat adalah hal penting, sebagai upaya pengendalian diri. Sebab, seorang gubernur harus mampu menjaga komitmen awalnya dengan rakyat. Meski di dalam perjalanannya kemudian, lumrah jikadia mendapat tekanan bertubi-tubi, baik tekanan politik, isteri dan anak, terutama tekanan syahwat kekuasaan yang tiba-tiba membesar.

Dan Gubernur Koyok-koyok adalah gubernur yang kalah dengan tekanan politik, tekanan isteri dan keluarga, juga tekanan syahwat kekuasaan yang tiba-tiba membesar itu. Sampai-sampai kemudian dia melupakan komitmen awalnya pada saat bertekad maju sebagai gubernur melalui pilkada.

Pada akhirnya, dari seorang gubernur dituntut kemampuan untuk membaca, menyusun dan menganalisa peta masalah yang ada secara akurat. Untuk kemudian, dituntut pula kemampuannya mencari jalan keluar terbaik dari masalah yang ada tersebut. Ketidakmampuan membaca masalah secara tepat, akan menimbulkan masalah baru. Dan Gubernur Koyok-koyok, tidak mempedulikan semua tuntutan tersebut.

* * *

Pada 5 September, setahun lalu di Istana Negara, Presiden Jokowi melantik sembilan gubernur hasil Pilkada 2018. Mereka adalah Gubernur Jabar, Jateng, Sulsel,  Sulteng, NTT, Bali, Kalbar, Papua dan Sumatera Utara. Kesembilan gubernur tersebut, dilantik bersama pasangan wakil gubernurnya.

Artinya, terhitung hari tersebut, mereka telah genap setahun menjadi gubernur, pemimpin tertinggi di provinsinya. Setahun itu berarti 365 hari atau 20 persen dari masa jabatannya. Ini sebuah jangka waktu yang relatif panjang. Agaknya, sudah layaklah di-pirit (cakap Anak Medan, dilirik) : apa saja yang sudah dikerjakan gubernur.

Tapi awak cuma rakyat kecil, tak berani dan tak punya kapasitas untuk mem-pirit.Awak hanya berharap :  mudah-mudahan tak adalah Gubernur Koyok-koyok!!!

--------------------------------

  • Penulis adalah Jurnalis Utama, menetap di Jalan Kenari, Medan Petisah.
Penulis:
Editor: Redaksi

Baca Juga