Oleh :  Choking Susilo Sakeh

GUBERNUR PEMBUAT GADUH

Choking Susilo Sakeh.(foto:mm)
Choking Susilo Sakeh.(foto:mm)

TELAH lebih setahun Pilgubsu usai, namun kegaduhan masih juga terjadi!

Pada tanggal 27 Juni 2018, pemungutan suara Pilgubsu dilaksanakan dengan dua pasangan calon sebagai peserta. Pemenangnya, Edy Rahmayadi/Musa Rajeckshah, telah dilantik sebagai Gubernur Sumut oleh Presiden Jokowi pada 5 September 2018. Sedangkan pesaingnya, Djarot Syaiful Hidayat/Sihar Sitorus, telah pula dilantiksebagai anggota DPRRI dari Dapil Sumut III dan II,pada 1 Oktober 2019.

Pada Pilgubsu 2018 tersebut, Cagubsu Edy Rahmayadi memperoleh 3.291.137 suara (57,58 %), sedangkan Djarot meraih 2.424.960 suara (42,42 %). Tingkat partisipasi pemilih pada Pilgubsu kali ini, relatif tinggi yakni 61,78 % dari 9.052.529 pemilih tetap.

Namun, jumlah perolehan suara yang diraup Edy Rahmayadi tersebut, sesungguhnya hanyalah sekitar 23 persen jika dibandingkan dengan 14,42 juta jiwa jumlah penduduk Sumatera Utara saat ini.  Dari aspek legitimasi, perolehan suara Edy Rahmayadi pada Pilgubsu 2018 tersebut, jelaslah masih sangat belum meyakinkan.

Dengan demikian, idealnya, Edy Rahmayadi mesti terus berupaya untuk mampu merangkul sekitar 77 persen warga Sumatera Utara yang tidak memilihnya pada Pilgubsu 2018. Sebab, tanpa dukungan mayoritas masyarakat Sumatera Utara, maka visi-misi Edy Rahmayadi tentang Sumut Bermartabat hanya akan menjadi omong kosong belaka,kelak hingga berakhirnya priode kepemimpinannya pada 2024 mendatang.

Jika Edy Rahmayadi hanya bertumpu kepada para pemilihnya semata untuk mendukung visi-misinya, diyakini hasilnya tidak akan maksimal dibanding jika semakin banyak masyarakat Sumatera Utara yang mendukungnya. Pertanyaannya, apakah dalam rentang waktu lebih setahun kepemimpinan Edy Rahmayadi sebagai Gubsu, ada upaya Edy Rahmayadi untuk merangkul sebanyak mungkin warganya?

Saya berandai-andai, jika dalam sebulan Edy Rahmayadi mampu menambah dukungan baru sebesar 5 persen dari rakyatnya, maka saat ini setidaknya Edy Rahmayadi telah didukung oleh mayoritas warganya. Begitukah, atau malah sebaliknya?

Kegaduhan

Namun Edy Rahmayadi adalah satu-satunya gubernur di Indonesia yang kontroversial dan sepertinya gemar membuat gaduh melalui berbagai pernyataannya. Sayangnya, kegaduhannya lebih ditujukan kepada rakyatnya sendiri, juga para wakil rakyat di DPRD Sumut. Bukan  --  misalnya  -- kepada para menteri yang  tidak berfihak kepada warga Sumatera Utara.

Perilaku membuat gaduh itu, sudah dilakukan oleh Edy Rahmayadi sejak masa sosialisasi menjelang kampanye Pilgubsu. Beberapa pernyataan Edy Rahmayadi, bahkan sempat mengundang ‘konflik’ dengan jurnalis.

Kegaduhan terbaru terjadi pekan lalu, yang ditanggapi miring oleh Kajati Sumut, Kapolda Sumut, KPK dan banyak kalangan. Yakni terkait surat edaran kepada ASN Pemprov Sumut,  untuk mendapatkan izin dari Gubsu terlebih dahulu jika diperiksa oleh penegak hukum.

Tentu saja, kegaduhan demi kegaduhan yang timbul dari pernyataan Edy Rahmayadi sebagai Gubernur Sumatera Utara tersebut, sangatlah tidak produktif dan juga bisa menjadi bomerang bagi dirinya dan kepemimpinannya. Apalagi fakta kemudian menyebutkan, belum ada satupun terlihat hasil kerja Edy Rahmayadi selama setahun lebih memimpin Provinsi Sumatera Utara.

Sesungguhnya, perilaku membuat kegaduhan yang ditampilkan Edy Rahmayadi sebagai Gubernur Sumatera Utara tersebut, pada gilirannya akan merugikan masyarakat di provinsi ini. Sesaat setelah mengeluarkan pernyataan yang membuat gaduh, dipastikan Gubsu akan lebih disibukkan dengan membuat klarifikasi. Demikianlah berulang-ulang.

Kita pun kemudian belum melihat Edy Rahmayadi membuatkegaduhanmelalui hasil kerjanya. Dalam durasi waktu selama setahun lebih menjadi Gubsu, kita memang belum melihat apa hasil kerjanya.

Jika dua Gubernur Sumut hasil Pilgubsu berturut-turut berurusan dengan hukum, itu kemudianberdampak kepada pembangunan kesejahteraan di provinsi ini bagaikan berhenti. Dari Pilgubsu 2018 itu, wajar rakyat Sumatera Utara berharap banyak kepada pemenangnya. Tapi yang terjadi, rakyat Sumatera Utara cuma disajikan kegaduhan demi kegaduhan dari Gubernurnya. Artinya, pembangunan kesejahteraan Sumatera Utara bakal akan tetap terganggu selama tiga kali Pilgubsu.

Karenanya, tak salah jika kita berharap kepada Edy Rahmayadi : Berhentilah membuat gaduh! Lebih baik bekerja dalam diam, ketimbang gaduh melulu tanpa sempat bekerja dan memberikan hasil terbaik untuk Sumatera Utara. Kegaduhan demi kegaduhan yang dilontarkan Edy Rahmayadi sebagai gubernur, pasti akan merugikan masyarakat Sumatera Utara.

Nah, tuan gubernur : Mari, berhentilah membuat gaduh…

--------------------------

*Penulis adalah Wartawan Utama, menetap di Jalan Kenari, Medan Petisah, Medan.       
Penulis:
Editor: Redaksi

Baca Juga