Kolom : Choking Susilo Sakeh

Kambing Hitam dan Kualitas Pemimpin

Choking Susilo Sakeh. (Foto: MEDANmerdeka/Ist)

MENJADI rakyat itu mengasyikkan. Mengasyikkan, karena rakyat bisa dijadikan tumbal alias ‘kambing hitam’ di dalam setiap ada kegaduhan. Pada saat pandemi Covid-19 semakin menggila saat ini, misalnya, gampang dicari kambing hitamnya. Tengoklah, banyak pemimpin di pusat dan daerah, ramai-ramai menuding rakyat tidak percaya Covid, rakyat tidak taat Prokes, rakyat membandel tetap mudik lebaran meski dilarang, dan seterusnya, dan seterusnya. Pokoknya, kambing hitamnya adalah rakyat.

Luhut Panjaitan, misalnya, minta masyarakat berkaca dengan melonjaknya Covid-19. Di saat pemerintah habis-habisan melarang masyarakat mudik, namun banyak yang mengabaikannya. (Pikiran Rakyat.com, Selasa 15 Juni 2021). Dan Gubernur Sumut pun ikut-ikutan menuding. (Kompas.com, Rabu 7 Juli 2021). Intinya, rakyat mendapat bagian sebagai kambing hitam penyebab pandemi Covid-19 menjadi semakin menggila.

Padahal, menurut IDI (Ikatan Dokter Indonesia), melonjaknya kasus Covid-19 dikarenakan masuknya virus corona varian Delta, bukan dikarenakan mudik lebaran yang sudah berlalu lebih sebulan. Menurut Wakil Ketua Umum PB IDI, Slamet Budiarto, “Ini karena kita teledor, dari luar negeri. Faktor penyebab utamanya virus Delta.” (Kompas.com, Selasa 29 Juni 2021).

Soal bebasnya warga asing masuk ke Indonesia, bukanlah rahasia lagi dan secara kasat mata kitapun sangat tau persis bagaimana bandara tetap dibuka lebar-lebar untuk orang asing.

Meski demikian, rakyat memang tetaplah mesti menjadi sasaran empuk untuk terus-menerus dijadikan kambing hitam oleh para pemimpin, sebagai biang kerok melonjaknya kasus Covid-19. Dan, sesungguhnya, itulah yang mengasyikkan sebagai rakyat.

Yang pasti, rakyat memang kaum yang tangguh. Pandemi berkepanjangan ini telah membuat banyak rakyat menjadi pengangguran, atau penghasilan mereka menurun drastis. Padahal, selain mesti semakin jungkir balik untuk mencari pengisi perutnya, rakyat pun harus mengeluarkan duit untuk membeli masker dan handsanitizer. Belum lagi untuk meningkatkan immunitas melawan virus Covid-19, dibutuhkan makanan cukup dan bergizi, tak lupa asupan vitamin dan lainnya. Dan kesemuanya itu, membutuhkan duit yang tidak sedikit. Tak bisa disangkal, bahwa sesungguhnya rakyatlah yang paling menderita dari kondisi saat ini.

Sungguh, rakyat memang kaum yang tangguh dan mengagumkan!!!

Kualitas Pemimpin

Hal-hal mengasyikkan lainnya dari pandemi berkepanjangan ini, adalah nyaris tidak ditemui adanya pemimpin yang menjadikan Covid-19 sebagai momen instropeksi. Misalnya, kenapa masih banyak rakyat yang tidak percaya Covid-19 dan tidak taat prokes. Padahal, pemerintah mengaku telah habis-habisan dengan berbagai cara -- dari membujuk, memakai buzzer hingga mengancam dan menangkap -- di dalam mengkampanyekan bahaya Covid-19 ini.

Tentulah kita sangat merindukan, jika kelak kemudian ada pemimpin yang mengakui bahwa sesungguhnya rakyat sudah tidak percaya lagi kepada para pemimpin. Sehingga, apapun yang disampaikan oleh para pemimpin tentang Covid-19 ini, dianggap sebagai angin lalu saja oleh rakyat.

Kitapun nyaris tak pernah mendengar, ada pemimpin yang meminta maaf kepada rakyat, karena sebagai pemimpin mereka tak mampu mengatasi Pandemi ini dengan baik dan benar, misalnya.

Hal yang juga mengasyikkan, adalah bahwa dari pandemi Covid-19 ini -- sebagaimana halnya dengan bencana besar dan lainnya -- kita pun bisa mengukur sejauhmana kualitas seorang pemimpin.

Ada pemimpin yang merasa bagaikan Superman, bekerja sendirian saja dan wakilnya entah berada dimana. Wapres Ma’ruf Amin, misalnya, nyaris tak terdengar saat kasus Covid-19 melonjak. Tak heran, diapun mendapat gelar membanggakan dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (BEM-Unes) : The King of Silent. (Kompas.com, Kamis 8 Juli 2021).

Di daerah, kitapun tidak tau ngapain saja Wakil Gubsu dan Wakil Walkot Medan, misalnya. Mudah-mudahan, ketidakmunculan para wakil pemimpin ini, bukan karena tidak diberi peran oleh pemimpinnya untuk bersama-sama memerangi pandemi Covid-19. Mudah-mudahan, ketidakmunculan para wakil pemimpin ini bukan pula dikarenakan mereka lebih sibuk memikirkan Pemilu 2024 mendatang.

Dari apa dan bagaimana pemimpin dan wakilnya di saat pandemi yang semakin menggila saat ini, kita pun bisa memilah-milah mana sosok pemimpin yang punya empati, simpati dan kepedulian terhadap rakyat, serta mana pemimpin yang sor sendiri dan memanfaatkan Covid-19 sebagai panggung pencitraan.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, misalnya, membatalkan 11 proyek infrastruktur dengan anggaran sebesar Rp 140 milyar. Dana sebesar itu, kemudian di-refocusing untuk penanganan Covid-19. (Tempo.co, Senin 5 Juli 2021).

Bandingkan dengan Gubernur Sumut. Rehab kantor Gubsu tahap kedua dengan anggaran sekitar Rp. 69,9 Miliar tetap dilanjutkan. Alasannya, proyek tidak bisa dihentikan karena direncanakan sebelum ada Covid-19. (RMOL Sumut, Selasa 6 Juli 2021). Bayangkan, jika duit sebanyak itu dibelikan beras untuk rakyat.

Suka atau tidak, pandemi Covid-19 yang berkepanjangan ini, pada akhirnya telah memberitahukan kepada kita banyak hal tentang kualitas pemimpin : tentang empati, tentang kepercayaan, tentang kekonyolan dan banyak hal lainnya.

Oh ya, prihal ketangguhan rakyat, mereka punya cara sendiri yang ampuh di dalam meningkatkan immunitas tubuhnya : paling tidak, dengan cara menertawai diri sendiri…

*Penulis adalah jurnalis utama, menetap di Medan.