Oleh : Prof. Lusiana Andriani Lubis MA, PhD

Komunikasi Informasi dan Edukasi, Parapat Kota Wisata – Budaya di Sumut

Prof. Lusiana Andriani Lubis MA, PhD, mengedukasi masyarakat dalam mengembangkan dan menggali potensi wisata dan budaya di Kota Parapat. (foto/penulis)

PENETAPAN 10 destinasi prioritas berdasarkan surat Sekretariat Kabinet dengan Nomor B 652/Seskab/Maritim/2015 tanggal 6 November 2015, perihal Arahan Presiden pada Sidang Kabinet Awal Tahun pada tanggal 4 Januari 2016.

Program 10 Bali baru yaitu : Mandalika-Nusa Tenggara Barat; Pulau Morotai- Maluku Utara; Tanjung Kelayang-Kepulauan Bangka Belitung; Danau Toba-Sumatera Utara; Wakatobi-Sulawesi Tenggara; Borobudur- Jawa Tengah; Kepulauan Seribu-DKI Jakarta; Tanjung Lesung-Baten; Bromo-JawaTimur; dan Labuan Bajo-Nusa Tenggara Timur.

Bahkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Sandiaga Uno melihat ada lima (5) Destinasi Super Prioritas lainnya yaitu, Danau Toba, Likupang, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo. Pengembangan tersebut mencakup infrastruktur, kesiapan sumber daya, masyarakat, hingga Calender of Event (festival) hingga setahun ke depan. Sandiaga Uno juga mengakui sektor pariwisata mengalami masa yang berat selama pandemi COVID-19. Bahkan beliau juga sudah sampai ke Danau Toba Patapat beberapa pekan yang lalu untuk melihat langsung.

Permasalahan yang perlu disikapi adalah Masyarakat dan Pemerintah sebagai Sumber Daya Manusia (SDM) diharapkan saling mendukung, dimana pemerintah menyediakan sarana dan prasarana yang memadai.

Oleh karena itu, diperlukan pemberdayaan kepada masyarakat di sekitar objek wisata agar masyarakat meningkatkan Sumber Daya Masyarakat yang handal untuk membantu pemerintah mengelola kawasan Danau Toba sebagai destinasi prioritas.

Pada akhirnya sinergitas ini mampu meningkat kankondisi/penghasilan ekonomi keluarga dan meningkatkan sumber pendapatan daerah. Oleh karena pariwisata memiliki nilai ekonomi dalam pengembangan property. Antara lain adalah sumber daya masyarakatnya yang menghasilkan peningkatan pendapatan dan kemampuannya dalam menyediakan keperluan pengunjung yang datang berwisata alam dan budaya lokalnya.

Selain itu adalah sarana dan prasarana yang tercukupi sehingga wisatawan dalam negeri dan mancanegara merasa puas atas pelayanan yang diberikan sesuai dengan apa yang menjadi harapannya sebelum datang berkunjung.

Pengamatan penulis, pantai-pantai yang wajib dikunjungi di kota Parapat di antaranya Pantai Kasih karena kita dapat merasakan sejuknya air Danau Toba dengan wisata airnya, rumah pengasingan/pasanggaraan Sukarno, hotel, penjual pakaian, pernak-pernik, pedagang buah-buahan dan lainnya.

Bahkan Open stage ‘Parapat Square’ merupakan lapangan yang tidak kalah menariknya sebagai lapangan terbuka yang sering digunakan untuk kegiatan-kegiatan seperti pesta Danau Toba, pentas seni budaya dan perlombaan rakyat. Hal ini perlu kerjasama  yang paduh dari semua pihaku ntuk melestarikannya.

Berangkat dari hal di atas, kegiatan Profesor mengabdi bersama tim dari FISIP USU atas nama Lembaga Pengabdian Masyarakat Universitas Sumatera berbagi ilmu pengetahuan pada masyarakat di Kelurahan Tigaraja, Kecamatan Girsang, Simpanganbolon.

Tujuannya adalah memberikan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat yang bergerak dalam bidang parawsisata seperti pedagang, pemilik hotel, tokoh masyarakat, jasa pengangkutan /travel, rumah makan, pengrajin, budayawan dan aparat pemerintah setempat. Kegiatan dilaksanakan pada hariJumat, 20 Agustus 2021, masih dalam suasana HUT Kemerdekaan RI ke 76 tahun.

Kegiatan Profesor mengabdi USU dalam situasi PPKM, namun dapat berjalan lancar dengan tetap mematuhi protokes COVID-19 oleh semua pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Penulis dalam materinya menyampaikan bahwa Danau Toba Parapat Sumatera Utara termasuk dalam 10 destinasi wisata prioritas yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo dalam Kabinet Kerjanya untuk mendongrak pemerataan pariwisata di Indonesia dan menciptnya lapangan kerja baru.

Untuk mewujudkan Danau Toba sebagai destinasi wisata prioritas atau yang disebut dengan Bali baru, maka diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kapabilitas dan akseptablitas untuk mendukung terwujudnya program ini.

Menurut penulis dalam pemaparannya KIE ini disampaikan agar semua peserta yang hadir dapat bertambah pengetahuannya dengan menyadari betapa pentingnya mengubah cara kita berkomunikasi, memberikan pelayan dalam menjual barang dan jasa, memperhatikan kualitas barang dan harga yang harus disepakati sesama pedagang, kebersihan lingkungan sekitarnya.

Selain itu diperlukan Perencanaan, Organisasi, Aksi dan Control (POAC) agar sistem berjalan lancar dan kelihatan kerjasamanya. Ini penting sekali untuk dievaluasi ke depan, kata penulis.

Hal ini diakui oleh pak Nelson S. (tokoh masyarakat) mewakili peserta bahwa kelemahan dari mereka adalah dalam pengorganisasian dan pengawasan yang kurang, misalnya, dalam menentukan barang yang mau dijual, harga barang seperti baju, ulos, dan pernak-pernik untu koleh-oleh mempunyai kekhasan lokal untuk dibawa pulang wisatawan.

Hal ini juga tidak ada kekompakan dalam penentuan harga dan kadang melebihi dari harga pasar yang semestinya. Akhirnya wisatawan enggan untuk belanja di kota Parapat, hanya lihat-lihat dan pegang-pegang saja.

Keputusan membeli malahan ketika berada di Tomok Samosir, harga lebih murah dan sesuai dengan kualitasbarang. Selain itu penjualnya ramah dan sabar menjual dagangannya.

Kemudian saran dari Lurah setempat Darmadonni S, hendaknya Pemerintah Daerah memperhatikan dan membimbing pedagang yang ada di sini dalam menggiatkan Parawisata kota Parapat.

Selain itu pemaparan berikutnya oleh Dian Mayangsari,B,Comm, yang menyampaikan tentang promosi di media sosial. Beliau menyampaikan tentang banyak hal yang bisa digunakan dengan media sosial, bukan hanya untuk posting foto-foto, chating teman, berselancar di WhatsApp (WA) dan lainnya.

Namun media sosial dengan segala fitur yang ada dapat digunakan sebagai media untuk promosi jualan seperti ulos yang sudah dalam bentuk fashion, cendramata khas Parapat, kerajinan dan seni budaya, makanan khas, buah-buahan seperti manga Parapat, hotel dan lain sebagainya.

Tentu saja hal ini sangat membantu sekali, apalagi masa COVID-19 yang belum tentu kapan akan berakhir. Saatnya para peserta pelatihan harus mengubah cara jualan dengan menggunakan media online yang diprattekkan langsung oleh pemateri dengan menggunakan aplikasi.

Kebetulan semua peserta memiliki android, jadi praktek langsung. Ada 4 hal yang menjadi penekanan mbak Dian yaitu harus diingat peserta, yaitu; pastikan aktif dan responsif, menggunakan foto atau gambar yang jelas, kreatif dengan konten yang konsisten, dan jangan lupakan hashtag (#).