Oleh : Choking Susilo Sakeh

MEDIA DARLING dan MENTANG-MENTANG

Choking Susilo Sakeh. (foto:mm/ist)

RELATIF minim prestasi saat maju sebagai Calon Walikota Medan, membuat sosok Bobby Nasution tidak menjadi pilihan yang seksi bagi warga Medan. Meski telah mengerahkan berbagai siasat, Bobby hanya mampu meraih sebanyak 393.327 suara dari total suara sah sebanyak 735.907 suara. Jika dibandingkan dengan jumlah pemilih tetap (DPT) Kota Medan sebanyak 1.635.846 jiwa, maka perolehan suara Bobby ini berarti hanya sekitar 24,04 persen dari DPT.

Atau, jika dibandingkan dengan total jumlah penduduk Kota Medan yang saat ini berjumlah sebanyak 2.983.868 jiwa, maka Bobby hanya dipilih oleh sekitar 13,18 persen warga Medan. Itu artinya, Bobby memimpin Kota Medan dengan legitimasi minim.

Fakta-fakta ini, mau tak mau mengharuskan Bobby sebagai Walikota Medan harus bekerja keras meraih sebanyak mungkin simpati warga kota. Apalagi jika dikaitkan dengan kelangsungan masa depan politik Bobby, terutama menghadapi Pilkada serentak tahun 2024 -- apakah masih ingin bertahan sebagai Walikota Medan dua priode atau ingin maju pada Pilgub Sumut -- memaksa Bobby untuk meningkatkan kinerjanya. Salah satu caranya, adalah meningkatkan legitimasinya dengan merangkul sebanyak mungkin elemen masyarakat Kota Medan. Sebab, Bobby -- siapapun dia! -- pada akhirnya tak kan mampu menyelesaikan berbagai masalah Kota Medan tanpa dukungan seluruh warganya.

Dan salah satu cara yang kini sedang ditempuh Bobby, adalah berupaya menjadi ‘media darling’. Apakah itu memanfaatkan media sosial binaannya, sekaligus tentunya berharap bisa menjadi media darling bagi media mainstream.

Istilah ‘media darling’ yang pertama kali diperkenalkan oleh Koran The Washington Post tahun 1970-an, adalah tentang konsep ‘newsmaker atau ‘name makes news’. Makna sederhananya kurang lebih, adalah sosok yang mampu menyedot perhatian dan sangat dibutuhkan oleh media.

Bagi seorang pemimpin yang tidak bijak, upaya paling gampang untuk bisa menjadi sosok ‘media darling’ adalah dengan melakukan kegiatan dan kebijakan yang dianggap mampu menyentuh emosi masyarakat banyak. Kebijakan tersebut, pun diharapkan akan mampu mengundang minat media untuk menjadikan sosoknya sebagai media darling, karena kebijakannya tersebut diperkirakan akan mampu meningkatan rating media bersangkutan. Andai pun media belum tergugah, maka sang pemimpin bisa terlebih dahulu mem-viral-kannya melalui media sosial binaannya.

Bagi media yang lebih memerankan fungsinya sebagai sarana sosial kontrol, tidaklah mudah ‘dirayu’ untuk menjadikan seseorang pemimpin sebagai media darling. Media-media semacam ini akan mengkaji secara cermat, apakah kebijakan seorang pemimpin itu bermanfaat untuk kelanjutan pembangunan daerah, atau cuma sekedar pencitraan belaka.

Begitu pula dengan masyarakat Kota Medan. Semakin hari akan semakin cerdas menyimak, apakah semua kegiatan Bobby hanya sekedar pencitraan atau memang bermanfaat untuk pembangunan Kota Medan.

Pertanyaannya kemudian adalah, berbagai kegiatan dan kebijakan Bobby diantaranya membedah dua rumah, ‘membongkar cantik’ bangunan di depan gedung Warenhuis, mengajak isterinya ‘menikmati’ banjir, mencopot Kadis Kesehatan karena, konon katanya, telah berkali-kali diperingatkan untuk bekerja maksimal mencegah covid, memviralkan pencopotan lurah Sidorame Timur dan seterusnya dan seterusnya, apakah memang mampu memecahkan berbagai masalah yang ada di Kota Medan? Apakah memang berdampak positip untuk kelanjutan pembangunan Kota Medan? Ataukah cuma sekedar pencitraan semata?

Mentang-mentang

Seorang pemimpin yang minim pengalaman kepemimpinan, cenderung mudah gagap dan tak bijak saat menghadapi beragam masalah yang datang bertubi-tubi. Dan cara paling gampang mengatasi masalah-masalah tersebut, adalah dengan bersikap mentang-mentang.

Namun sikap mentang-mentang seorang pemimpin, sesungguhnya tidak akan menyelesaikan akar masalah yang ada. Pencopotan Kadis Kesehatan Medan misalnya, malah mengundang perdebatan dengan politisi Gerindra Romo Raden Syafi’i. Terlepas bahwa kadis kesehatan yang dicopot itu adalah besan Romo, kritik Romo adalah pernyataan bohong Bobby yang katanya telah berkali-kali memperingatkan sang kadis.

Belum lagi beragam pertanyaan publik : apakah Medan kembali ke zona merah karena kadis kesehatannya lamban? Apakah kadis kesehatan lamban menangani ‘banyak manusia’ di arena kitchen kesawan? Dan seterusnya dan seterusnya.

Begitu pula pencopotan Lurah Sidorame Timur dan mem-viral-kannya. Selain tak menyelesaikan akar masalah, juga mengundang polemik tentang etika dan aturan yang ada di organisasi pemerintahan. Beragam pertanyaan publik, misalnya: apakah tidak ada cara yang lebih etis saat mencopot lurah yang telah berusia separuh baya dan sudah puluhan tahun mengabdikan dirinya di Pemko Medan?

Belum lagi aksi pengusiran beberapa jurnalis di halaman Kantor Walikota Medan, saat mereka akan melakukan wawancara doorstop dengan Bobby. Meski puluhan jurnalis sempat melakukan unjukrasa berjilid-jilid di halaman kantor Walikota Medan, Bobby tak berminat meminta maaf kepada jurnalis atas kasus pengusiran jurnalis tersebut.

Ketiga hal tersebut di atas, adalah cerminan perilaku mentang-mentang yang sudah diperlihatkan Bobby kepada warganya. Disadari atau tidak, bahwa sesungguhnya perilaku mentang-mentang Bobby tersebut sangat bertolak belakang dengan impiannya untuk menjadi media darling.

Alkissah, adalah langkah terpuji jika Bobby berniat menjadi pemimpin Kota Medan yang bijak. Mampu bersikap bijak, akan sangat membantu Bobby merangkul 86,22 persen warga Medan yang tidak memilihnya pada Pilkada Medan 2020 untuk ikut berkolaborasi membangun Medan yang Berkah. Andai Bobby tak berniat menjadi Walikota yang bijak -- bahkan masih tetap berperilaku mentang-mentang -- maka kata ‘kolaborasi’ yang diusungnya hanya bagaikan ‘tong kosong nyaring bunyinya’.

E’eh, mumpung di bulan penuh berkah ini, agaknya tak salah kita semua bermohon kepada Sang Maha Penguasa -- Allah SWT -- kiranya menurunkan hidayah Nya, agar kolaborasi Bobby bisa terwujud membawa berkah bagi Kota Medan…

*Penulis adalah jurnalis utama, warga Medan yang gemar menulis.

Komentar

Loading...