Oleh : Choking Susilo Sakeh

MENTANG-MENTANG vs PANTANG DIOGAP

Choking Susilo Sakeh.(Foto:MEDANmerdeka)

CUACA sedikit dingin. Matahari masih enggan menyembul. Sisa air hujan tadi malam yang belum mengering, terlihat membasahi beberapa bagian jalanan. Rasa sejuk, seakan enggan melepas pelukannya kepada pagi hari itu.

Bapak Walikota terhormat itu, masih berada di rumahnya. Diambilnya HP, lalu dihubunginya Bapak Gubernur terhormat yang memimpin di provinsi pak wali. Keduanya saling memberi salam, sedikit basa-basi, bla-bla-bla-bla, lantas Bapak Walikota itu pun tau persis dimana saja tempat-tempat yang digunakan sebagai karantina WNI yang baru datang dari luar negeri masuk ke Sumatera Utara.

Atau, Bapak Walikota terhormat sedang sibuk. Maka, dia memerintahkan Nasution, Plt Kadis Kesehatan yang baru diangkatnya menggantikan Edwin yang dicopotnya, untuk berkordinasi ke Dinas Kesehatan provinsi. “Bapak Uda, kordinasikan ke provinsi, dimana saja lokasi karantina itu. Biar kita bisa ikut membantu,” kira-kira seperti itu perintahnya.

Suasana Kota Medan pun semakin sejuk.

Di saat rakyat pusing menghadapi covid-19 yang seakan dijadikan sebagai media teror, maka kesejukan di penghujung Ramadhan semacam ini, bisa terasa bagaikan mendapat undangan berbuka puasa dari pemerintah Arab Saudi.

***

Sikap Walikota Medan, Bobby Nasution, yang memprotes Gubsu melalui media karena merasa tidak diberi tahu dimana lokasi karantina WNI yang baru datang dari luar negeri masuk ke Sumatera Utara, mengundang reaksi geram Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi. Berita prihal protes dan geram ini, tentu saja menghiasi media massa dan media sosial selama tiga hari terakhir ini.

Aku mau bilang, apa yang dilakukan Bobby itu adalah perilaku mentang- mentang. Mestinya, Bobby yang lebih muda dari segi usia, juga jabatannya sebagai Walikota Medan, sangatlah bermartabat jika dia menelpon langsung Gubernur Sumut Edy Rahmayadi ketimbang memprotes melalui media.

Oh ya, sesungguhnya mentang-mentang itu bukan karakter anak Medan, kecuali yang mengaku-aku sebagai anak Medan. Anak Medan asli, sangat tidak suka bersikap mentang-mentang!

Beberapa karakter anak Medan itu antara lain adalah spontan, terbuka, sangat hormat kepada senior/orangtua, dan ‘pede’-percaya diri tampil apapun adanya.

Dan menyikapi perilaku mentang-mentang Bobby tersebut, Gubsu Edy Rahmayadi pun memperlihatkan salah satu karakter anak Medan : Pantang di-‘ogap’ (gertak). Terkesan, Edy menganggap protes Bobby tersebut adalah upaya meng- ogapnya. Dan Edy yang tak mau terlihat kalah dengan ogap Bobby itu, tampil dengan pernyataan yang garang : “nggak peduli aku, siapa pun dia!”

Namun demikian, akan terasa bermartabat jika Gubsu Edy bisa menyikapi protes Bobby secara lebih bijak. Sebagai sosok yang lebih senior, tentunya Edy tau bagaimana cara menghadapi perilaku mentang-mentang Boby tersebut.

***

Maka, agar ibadah puasa kita bisa tetap khusuk, marilah kita anggap prihal protes dan geram ini sebagai adegan lawak-lawak.

Di saat rakyat pusing memikirkan berbagai kebutuhan lebaran yang tinggal hitungan jari lagi; di saat rakyat bingung melihat penjagaan arus mudik bagaikan darurat perang; dan di saat rakyat nyaris lunglai terus-menerus diteror covid-19 ini; mudah-mudahan lawakan Walikota Medan dan Gubernur Sumut ini bisa meningkatkan imunitas tubuh kita bersama.

Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan ini, memang telah memperlihatkan bagaimana kualitas sesungguhnya dari para pemimpin nasional dan lokal. Selain itu, juga telah memperlihatkan bagaimana sesungguhnya kualitas roda organisasi pemerintahan nasional maupun di daerah.

Dan, menjadi pemimpin itu tak perlu berperilaku mentang-mentang. Sebab, perilaku semacam itu bisa membuat rakyat menjauhi sang pemimpin, kecuali segelintir para penjilat!

*Penulis adalah jurnalis utama, mentang-mentang gemar menulis.