Oleh: Sunarji Harahap, M.M.

PERJUANGAN GURU DI MASA PANDEMI COVID-19

Sunarji Harahap,M.M,(Foto/Istimewa)

PANDEMIi COVID-19 juga berdampak pada dunia pendidikan. Hampir seluruh dunia melakukan penutupan sekolah, dan pembelajaran tatap muka beralih ke pembelajaran daring, termasuk Indonesia. Di era pandemi ini guru benar benar dituntut harus terus belajar mengenai cara pembelajaran jarak jauh secara (daring/virtual) dengan memanfaatkan berbagai fasilitas aplikasi yang dapat dimanfaatkan (zoom, google meet, google classroom, dan mengajarkannya kepada peserta didik.

Dalam peralihan menjadi pembelajaran daring, guru dihadapkan dengan tantangan baru yang mengharuskan mereka beradaptasi dengan cepat. Kreativitas, kepedulian, pemikiran strategis, dan sikap kepemimpinan para guru ditantang ketika mereka harus secara cepat memodifikasi kurikulum dan mengadaptasi rencana pelajaran untuk dapat dilakukan secara daring. Menciptakan suasana belajar baru yang memastikan sistem pembelajaran tetap berjalan dan melibatkan setiap murid, jadi tanggung jawab besar para guru di seluruh dunia di masa pandemi ini. Tentu ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan.

Para pejuang garis depan sektor pendidikan telah berhasil menunjukkan kapasitas dan kreativitas yang luar biasa dalam beradaptasi dengan situasi krisis yang masih belum berakhir ini. Mereka masih terus berjuang melakukan inovasi dalam mendidik anak-anak dan remaja untuk bisa tetap memperoleh pendidikan yang seharusnya mereka dapatkan. Pembelajaran daring yang diberlakukan akibat pandemi, situasi ini tidaklah mudah, terutama untuk murid-muridnya yang masih usia prasekolah.

Guru harus lebih aktif, lebih energik, lebih ekspresif, dan yang pasti lebih kreatif dalam melakukan kegiatan daring untuk anak-anak. Penggunaan berbagai material seperti boneka, dan kostum menjadi salah satu strategi dari para guru untuk membuat pembelajaran menjadi lebih menarik lagi. Murid dapat menangkap energi guru meski daring, saat guru tidak semangat maka mereka pun akan kehilangan semangat untuk memperhatikan. Meski teknologi di era modern mempermudah pembelajaran daring, namun kunci keberhasilan pembelajaran tetaplah berada di tangan guru. Tetapi selamanya profesi guru tidak akan tergantikan oleh teknologi. sebagai apresiasi perjuangan guru yang sangat luar biasa di tengah pandemi COVID-19.

Tepat tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional hari lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Memperingati Hari Guru Nasional (HGN). Peringatan Hari Guru tersebut sebagai bentuk eksistensi pendidik yang dengan tulus, ikhlas memberikan ilmu pengetahuan yang dipunyai untuk mencerdaskan bangsa. Guru adalah seseorang yang mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik, baik secara formal (guru dan dosen) maupun nonformal (guru ngaji, guru pencak silat, guru les, dll).

Hari Guru Nasional dirayakan untuk memberikan penghargaan kepada para pahlawan tanpa tanda jasa. Guru telah dan masih terus mencerdaskan anak bangsa sehingga sudah sepatutnya diapresiasi satu tanggal yang khusus didedikasikan bagi guru. Sebagai penghormatan kepada guru, Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 78 tahun 1994 menetapkan 25 November sebagai Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tahunnya.

Tujuan diperingatinya Hari Guru Nasional adalah untuk memberi dukungan kepada semua guru di Indonesia dan meyakini bahwa nasib bangsa Indonesia ke depan dipengaruhi oleh peran para guru. Kita bisa melihat di fakta sejarah bagaimana para guru pada zaman pra kemerdekaan menanamkan jiwa patriotisme pada setiap anak didiknya di madrasah atau sekolah-sekolah yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda. Jiwa patriotisme ini lah yang menjadi cikal bakal membaranya semangat para pemuda untuk terus berjuang menuju Indonesia merdeka.

Tak hanya pada era kemerdekaan, hingga kini pun jasa-jasa mereka tak pernah tergantikan. Sepintar apapun seseorang, baik ia seorang pejabat pemerintahan maupun mereka yang bergerak di sektor privat, pastilah mereka pernah menjadi seorang murid. Diajari baca, tulis, berhitung, dan banyak ilmu lainnya yang rasanya tak bisa didapatkan sendiri tanpa bantuan para guru.

Setidaknya, mereka pernah duduk di bangku bersama puluhan siswa lain yang ikut mendengarkan penjelasan guru di kelas. Guru juga mengajarkan kita baik dan buruk serta bagaimana menjadi seseorang yang berakhlak mulia. Guru mengajar dan mendidik dengan ikhlas, mereka mendedikasikan hidup mereka untuk berbagi ilmu kepada orang lain. Bahkan, honor yang mereka dapatkan belum tentu sepadan dengan berharganya ilmu yang mereka miliki. Oleh karena itu, pantaslah jika guru diberikan gelar ‘Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’.

Di era pandemi ini, sepertinya cobaan yang dihadapi para guru lebih berat. Mungkin mereka tidak harus berhadapan dengan tentara Hindia Belanda atau tentara Jepang seperti dulu. Namun, perilaku generasi sekarang yang terkadang nyeleneh membuat mereka harus mengeluarkan tenaga ekstra dan strategi-strategi baru untuk mengajar. Peran guru di era ini juga rentan tergeser dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat.

Internet dengan variasi informasinya kadang dijadikan acuan utama oleh generasi Z dan generasi Alpha dibandingkan dengan perkataan para guru. Lahirnya platform-platform pendidikan virtual pun turut menggeser posisi guru di era ini. Bahkan, di beberapa sekolah dan universitas sudah menerapkan sistem belajar online dimana tatap muka dengan antara guru dan murid tak lagi dibutuhkan.

Kini, guru lah yang harus mengikuti perkembangan zaman dan menikmati proses bergesernya peran tersebut. Sebagai contoh, dewasa ini kita sudah tak asing lagi mendengar istilah ‘start-up’, dan banyak juga ‘start-up’ yang lahir di bidang pendidikan. Guru harus memulai mengubah cara mereka mengajar, meninggalkan cara-cara lamanya serta fleksibel dalam memahami hal-hal baru dengan lebih cepat.

Meski demikian, profesi guru tetap tak akan tergantikan meski perkembangan teknologi yang bertambah pesat setiap harinya. Setiap orang bisa menimba ilmu dari teknologi yang kini serba digital. Namun, peran guru tetap dibutuhkan karena tugas mereka tak sebatas mentransfer ilmu pengetahuan, tapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan dan kebaikan, serta keteladanan yang tidak bisa dipelajari dari saluran informasi apapun.

Kegiatan belajar mengajar di tahun ini memang tak seperti sebelumnya. Karena, harus dilaksanakan secara virtual. Meskipun begitu, perayaan Hari Guru Nasional 2020 sebaiknya tak dilewati begitu saja. Pasalnya, momen tersebut bisa jadi salah satu bentuk apresiasi kita kepada pahlawan tanpa tanda jasa yang tetap berjuang di tengah pandemi, posisi guru yang dulu sebagai sumber primer pengetahuan, hari ini perannya terasa tergantikan oleh derasnya teknologi dan informasi.

Hadirnya internet mau tidak mau menjadi kompetitor terhadap guru. Internet dengan segala kecanggihannya mampu menampilkan keinginan pengguna terhadap aneka konten baik berbentuk naratif, foto, dan video. Sehingga keserbacanggihannya mampu memanjakan peserta didik untuk kemudian “lebih percaya” hasil informasi di google dari pada informasi guru.

Alhasil, guru tanpa jasa akan selamanya menjadi merek paten yang jasa kepahlawanannya tidak dikenang dan mudah lapuk diingatan peserta didik. Hanya kenangan “galak” itulah yang membekas untuk mengingat akan guru semasa di sekolah.Di era keniscayaan teknologi dan informasi, cita-cita menjadi guru yang berjasa di zaman now adalah suatu keniscayaan.

Guna meneguhkan guru sebagai pahlawan yang berjasa, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan  seseorang guru:  pertama, memiliki profesionalisme tinggi. Artinya, guru dengan gelar akademik yang dimiliki perlu punya jiwa haus akan pengetahuan sebagai bekal mendewasakan bentuk tranformasi pengetahuan yang adaptif. Bisa dengan menambah jenjang strata pendidikan, atau memiliki jiwa literasi yang tinggi baik terhadap diri sendiri maupun sosial. Sehingga keberadaan intelektualitas guru sebanding dengan kuantitas informasi yang cukup searching di dunia maya.

Dengan semakin profesional guru dari sisi akademik, peserta didik tentu akan sangat memuliakannya sebab kekayaan pengetahuan yang dimiliki. Oleh karena itu, membaca, meneliti (membuat PTK) dan mengikuti seminar bagi guru mutlak dilakukan seiring dengan kecanggihan teknologi dan informasi yang terus berkembang. Tidak lain agar keberadaan guru tetap melekat dihati peserta didik sebagai sarana transformasi pengetahuan yang humanis.

Kedua, punya kompetensi tambahan. Artinya guru dituntut untuk mempunyai kompetensi (kemampuan atau kecakapan) tambahan di luar tugas sebagai seorang guru. Contoh kompetensi menulis. Bila guru memiliki kompetensi tambahan semisal “menulis” tentu secara martabat akan bertambah statusnya, dari guru biasa menjadi guru penulis produktif.

Adapun yang ketiga, guru perlu memiliki karya. Karya itu bisa berupa inovasi pembelajaran hingga kemudian berhasil menjuarai perlombaan, hingga karya cetak dalam bentuk buku, PTK, artikel populer, puisi, cerpen, yang tayang di media cetak atau online. Karya tersebut juga sebagai bukti bahwa profesi guru yang diemban tidak setagnan, melainkan dioptimalkan guna melahirkan karya inovatif untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.

Adapun yang keempat, guru juga seorang peneliti di samping praktisi pendidikan. Penelitian yang dilakukan guru bersifat internal, hal ini berdasarkan permenegpan no. 16 tahun 2009 menyatakan bahwa guru harus memenuhi publikasi ilmiah dan pengembangan diri sebagai syarat kenaikan pangkat. Motivasi sebagai peneliti seharusnya sudah menyatu dengan diri seorang guru. Seorang guru menghadapi siswa dengan berbagai macam karakter, keterampilan dan pengetahuan yang berbeda.

Bukanlah hal yang mustahil bagi seorang guru untuk menemukan masalah. Penelitian adalah sarana bagi pengembangan diri guru sebagai seorang pengajar. Ketika seorang guru melakukan evaluasi dari hasil pembelajaran di kelas dan menemukan masalah, disitulah seorang guru mulai mencari jalan keluar dari masalah tersebut.Rasa ingin tahu dari seorang guru akan mengarah pada pertanyaan penelitian dan menemukan pendekatan yang sesuai dengan bahan ajar di kelas. Sehingga akan timbul rasa untuk mencoba pendekatan yang baru dalam mengajarkan materi yang sama.

Akhirnya, harapan kita semoga pandemi ini segera berakhir dan Penulis mengucapkan selamat Hari Guru Nasional 2020 kepada guru-guru di seluruh Indonesia.

Penulis Sunarji Harahap, M.Mm Dosen FEBI UIN Sumatera Utara / Ketua Dewan Penasehat Forum Guru IPS Seluruh Indonesia (FOGIPSI) Sumatera Utara.