Oleh : Choking Susilo Sakeh

PILKADA KOK TIBA-TIBA

Choking Susilo Sakeh.(Foto;MEDANmerdeka)

SETIAP musim pilkada,pasti disertai dengan ‘Musim Tiba-tiba”.

Ini negeri gemah ripah loh jinawi, negeri nan penuh keajaiban. Kedatangan musim kemarau, dipastikan akan disertai dengan musim asap. Kehadiran musim hujan akan selalu disertai dengan musim banjir. Jika datang musim liburan, dipastikan akan diiringi dengan musim selfie.Begitu pulalah musim pilkada, mestiselalu disertai dengan “musim tiba-tiba”.

Tiba-tiba (bahasa Jawa, ujug-ujug), menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti sekonyong-konyong, dengan mendadak. Maknanya, lebih kurang, pekerjaan, sikap, perilaku yang sekonyong-konyong dilakukan, padahal selama ini tak ada tanda-tanda yang bersangkutan peduli terhadap apa yang dilakukannya secara tiba-tiba tersebut.

Yak, tiba-tiba muncul beberapa hingga belasan orang yang seakan telah mematut-matut dirinya serta merasa tepat dan pas memakai jas kepala daerah. Seorang wakil kepala daerah yang selama ini terlihat nyaris bego, tiba-tiba mendadak garang menyatakan siap menjadi kepala daerah. Seseorang yang nyaris tanpa prestasi dan tanpa pengalaman, namun karena dia anak, menantu, ipar, besan dari seorang petinggi,  tiba-tiba mendadak paling pintar dan tak gentar melamar menjadi kepala daerah.

Tiba-tiba, pensiunan atau menjelang pensiun, ulama, wakil rakyat, pengusaha dan entah siapa lagi, rame-rame menjajakan visi-misinya untuk menjadi kepala daerah.

Prihal ‘musim tiba-tiba’ yang seperti ini, tak perlulah disikapi dengan sinis. Mari kita sambut dengan sorak-sorai kegembiraan. Tokh, undang-undang memang membolehkan siapapun menawarkan diri untuk dilamar menjadi bakal calon kepala daerah. Lagipula, sambutan kita yang penuh sukacita ini, mudah-mudahan mampu menyenangkan hati mereka.

Namun sangat banyak ‘perilaku tiba-tiba’ lainnya,yang bisa membuat perut jadi mual karena kita tak sanggup menahan geli. Yakni menyangkut “perilaku tiba-tiba” yang diperagakan para pelamar kepala daerah, seakan-akan seperti itulah perilaku aslinya. Tiba-tiba baik budi, seakan-akan memang berkarakter baik budi. Tiba-tiba ramah dan luwes, seakan-akan perilakunya memang ramah dan luwes. Tiba-tiba paham dan peduli, seakan-akan memang benar-benar paham dan peduli.

Pilkada Medan

Menurut para pelamar bakal calon Walikota Medan, apa sih sesungguhnya masalah Kota Medan?

Entahlah. Karena, sampai saat ini, tak ada satupun para pelamar yang dengan sengaja secara serius memaparkan apa sesungguhnya masalah Kota Medan, sekaligus menawarkan cara penyelesaian masalah, untuk kemudian menjajakan dirinya adalah orang yang tepat untuk menyelesaikan masalah Kota Medan tersebut.

Yang ada, adalah rame-rame ber-“perilaku tiba-tiba”!

Ada yang tiba-tiba peduli dengan sejarah, cagar budaya, seni dan tradisi. Dengan kapasitasnya sebagai Plt. Walikota :  segera akan merobah wajah Kesawan menjadi seperti Malioboro; segera akan merobah pendopo Lapangan Merdeka bernuansa sejarah dan keragaman budaya; menyambut hangat seniman mural; ceria membuka festival dangdut; bangga berbahasa daerah Jawa, dan seterusnya-dan seterusnya.

Haddeh,  selama empat tahun ini anda ngapain saja?Protes berbagai elemen masyarakat terhadap kemerdekaan Lapangan Merdeka, pernahkah anda simak? Peran apakah yang sudah anda berikan kepada Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Medan yang telah anda bentuk? Pernahkah anda mengevaluasi kinerja Disbud Kota Medan yang semestinya mengurusi hal-hal semacam ini?

Lalu, seorang anak muda yang kebetulan menantu petinggi, tiba-tiba bicara tentang perlunya kearifan lokal dalam pembangunan Kota Medan,seakan dia faham sekali bahwa kearifan lokal diabaikan selama ini; kolaborasi etnis sebagai modal kemajuan Kota Medan, seakan dia faham benar warga Kota Medan tidak pernah akur;Tiba-tiba nonton pagelaran kesenian Pak Pung, seakan-akan dia adalah penggemar seni bahkan seakan bagian dari komunitas seni.

Lho, apakah selama ini anda cuma bermimpi? Apa peran yang sudah anda berikan kepada kesenianselama ini? Apa pula peran anda selama ini dalam memberdayakan kearifan lokal dalam lingkungan anda?

Ada pula yang tiba-tiba peduli dengan pedagang kecil, tiba-tiba peduli dengan masyarakat kecil, tiba-tiba peduli kepada yang kecil-kecil, seakan-akan dia adalah sosok yang peduli dengan kalangan bawah. Huh, selama ini anda dimana saja?

Nongkrong di warung kaki lima, tiba-tiba menyatakan peduli kepada kuliner dan pedagang kecil. Jalan masuk ke gang sempit dan padat, tiba-tiba menyatakan peduli kepada pemerataan pembangunan. Ngobrol dengan tukang becak dan supir angkot, tiba-tiba menyatakan peduli kepada penyediaan lapangan kerja.

Semakin banyak jumlah para pelamar Bakal Calon Walikota Medan, akan semakin banyak dan beragam pula model“perilaku tiba-tiba” ini. Dan karena perilaku tiba-tiba ini memang bukan muncul dari nuraninya, maka perilaku tiba-tiba tersebut, nyaris semuanya berkualitas kacangan. Tak ada yang layak diberi tepuk tangan, karena sejatinya malah membuat geli dan mual.

Tapi, biarkan sajalah. Paling tidak, “perilaku tiba-tiba”semacam ini bisa meramaikan media massa atau media sosial. Akan halnya apa sesungguhnya masalah yang ada di Kota Medan, tak usahlah diperbincangkan karena bakalan tak menarik perhatian.

Maka, agar tak mual berkepanjangan, mari kita hitung mundur pemungutan suara Pilkada Medan 23 September 2020, sembari berdo’a : Semoga Kota Medan tidak mendapatkan “Walikota tiba-tiba”.

------------------

*Penulis adalah Jurnalis Utama, Ketua Panwas Pemilu Sumut tahun 2004.

Komentar

Loading...