Oleh : Choking Susilo Sakeh

PILKADA MEDAN, MALES AH…

Choking Susilo Sakeh.

JIKA tidak ada perubahan pada hasil Pilkada Medan 2020 yang telah dihitung KPU Medan (Selasa, 15/12), maka idealnya ada banyak hal yang mesti dipikir ulang oleh semua fihak. Sebab, tingkat partisipasi pemilih Kota Medan yang relarif rendah -- mengulang Pilkada 2015 -- semestinya adalah sesuatu yang mencemaskan

Perolehan suara kedua peserta Pilkada Medan 2020, berdasarkan perhitungan KPU Medan, masing-masing adalah Bobby Nasution/Aulia Rahman (BERKAH) sebanyak 393.327 suara (53,45 persen dari suara sah), sedangkan Akhyar Nasution/Salman Alfarisi (AMAN) sebanyak 342.580 suara (46,55 persen dari suara sah). Total suara sah sebanyak 735.907 suara, suara tidak sah sebanyak 12.915 suara, dan total yang menggunakan hak pilih sebanyak 748.882 orang.

Jumlah Pemilih Kota Medan (DPT) sendiri adalah sebanyak 1.635.846 orang. Artinya, ada sekitar 886.964 orang (54,22 % dari DPT) yang tidak menggunakan hak pilihnya. Angka ini memang membaik dibanding Pilkada 2015, yakni jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya lima tahun lalu sebesar 74,44 persen.

Jika membaca angka-angka perolehan suara pada Pilkada Medan 2020 ini, maka legitimasi pasangan BERKAH memimpin Kota Medan hanya sekitar 24,04 persen dari total jumlah pemilih Kota Medan. Atau hanya sekitar 13,18 persen dari total jumlah penduduk Kota Medan, yang saat ini berjumlah sebanyak 2.983.868 jiwa.

Angka-angka ini tak jauh berbeda dengan hasil Pilkada Medan tahun 2015. Saat itu, pasangan BENAR (Bang Eldin/Achyar) hanya memperoleh 346.406 suara, sedangkan pasangan REDI (Ramadhan Pohan/Edy Kesuma) memperoleh 136.608 suara. Dibandingkan dengan jumlah daftar pemilih tetap (DPT) sebesar 1.985.096 pemilih, maka tingkat partisipasi pemilih pada Pilkada Medan lima tahun lalu hanya sebesar 25,56 persen.

Tingkat legitimasi pasangan BENAR sebagai pemenang Pilkada Medan 2015, hanyalah sekitar 17,45 persen dibanding jumlah DPT. Atau cuma sekitar 15,67 persen dari jumlah penduduk Kota Medan sebanyak 2.210.624 jiwa.

Kaleng-kalengkah?

Prihal kecilnya jumlah perolehan suara pasangan Bobby/Aulia selaku pemenang Pilkada Medan 2020 ini, wajar membuat kita tercengang. Lho, kok?

Pertama, Bobby Nasution adalah menantu Presiden Jokowi. Posisi ini, mestinya sangat menguntungkan Bobby dari aspek popularitas dan elektabilitas. Akan halnya Aulia Rahman adalah anggota DPRD Medan dari Gerindra, yang tentunya juga memudahkannya pada Pilkada Medan kali ini.

Kedua, pasangan Bobby/Aulia didukung oleh delapan partai perkasa pada Pemilu 2018 yakni PDIP, Golkar, Gerindra, PPP, PAN, Nasdem, Hanura, dan PSI, serta partai baru Gelora. Mestinya, mesin partai politik ini jauh lebih perkasa pula di dalam menyedot minat pemilih Kota Medan.

Ketiga, banyak pejabat terlibat dalam mensosialisasikan pasangan Bobby/Aulia di Medan. Diantaranya Wakil Gubernur Sumut Musa Rajeckshah, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Menpora selaku petinggi Golkar dan banyak lainnya. Seyogianya, keterlibatan publik-figur ini mampu merangsang gairah pemilih Kota Medan untuk mencoblos Bobby/Aulia.

Keempat, alat peraga baik berupa baliho, spanduk, mobil branding dan lainnya, termasuk pemanfaatan media massa dan media sosial sebagai sarana sosialisasi, secara kasat mata terlihat jumlahnya sangat atraktif dibandingkan dengan pasangan AMAN yang alakadarnya.

Belum lagi hal-hal lainnya yang bagaikan ‘kentut’ : baunya ada, tapi tak terlihat. Tapi, kenapa Bobby/Aulia cuma mampu meraih suara pemilih hanya sebanyak itu? Ataukah pemilih Kota Medan kini telah menjadi pemilih yang cukup cerdas?

Saya tak hendak menduga-duga, perihal kenapa pasangan Bobby/Aulia memenangkan Pilkada Medan 2020 hanya mampu meraih suara dengan tingkat legitimasi yang minim tersebut. Saya sangat yakin, kalaupun perolehan suara Bobby relatif kecil, itu bukan dikarenakan kualitas Bobby yang kaleng-kaleng.

Saya pun sangat berharap, kelak pemilih Kota Medan tidak ada yang menganggap pemenang Pilkada Medan adalah kaleng-kaleng. Adalah jamak, bahwa secantik apapun kemasan sebuah produk serta kemudian dijajakan oleh figur-figur ternama dengan tawaran bonus yang menggiurkan, tetap saja kurang menggugah minat pembeli, kalau kualitas produk itu cumalah kaleng-kaleng.

Sungguh, saya percaya Bobby/Aulia bukanlah kaleng-kaleng. Karenanya, saya pun sangat berharap, sebagai pemenang Pilkada Medan 2020, kelak Bobby/Aulia mampu memimpin Kota Medan dengan kualitas yang aduhai.

Ayo, kamu pasti bisa…

*Penulis adalah Wartawan Utama, Ketua Panwas Pemilu 2004 Prov. Sum. Utara.