Oleh : Choking Susilo Sakeh

Samosir, Kepingan Surga

"Pada kunjungan saya ke Samosir beberapa waktu lalu, di saat berolahraga pagi di jalanan sekitar tempat penginapan, saya menyapa beberapa orang yang saya temui. Hanya sebahagian kecil yang menjawab sapaan saya, dan tidak ada satupun yang lebih dahulu menyapa saya. Tadi, saat saya berolahraga pagi di sekitar penginapan, semua orang yang saya sapa menjawab sapaan saya. Bahkan banyak diantaranya yang lebih dahulu menyapa saya. Benar-benar ini sebuah perubahan besar," kata Wagub Sumut, Musa Rajeckshah, saat mengawali arahannya pada puncak acara ulang tahun ke 15 Kabupaten Samosir, di Pangururan, Rabu (27/2/2019).

Menurut Wagub Sumut, bersikap ramah menjadi sangat penting bagi warga Samosir yang mengandalkan pariwisata sebagai salah satu potensi Pendapatan Asli Daerah. Selain itu, aspek kebersihan juga harus menjadi prioritas bagi Samosir sebagai daerah tujuan wisata. “Kenyamanan harus menjadi faktor utama dalam pembangunan sektor pariwisata di Samosir,” ujar Wagubsu yang akrab dipanggil Ijeck tersebut.

Selain menghadiri HUT Kabupaten Samosir, kunjungan kerja selama dua hari di daerah tersebut dimanfaatkan Wagubsu meninjau ke beberapa destinasi wisata di Pangururan, Simanindo, Tuktuk, Parapat, juga menjajal Kapal Wisata Sigale-gale milik Pemkab Samosir. “Masih banyak yang harus ditata, agar Samosir menjadi destinasi wisata yang menarik minat wisatawan,” ujar Wagubsu, didampingi Kadisbudpar Sumut yang juga GM Geopark Toba, Wan Hidayati, dan Dirut Bank Sumut, Budi Utomo,

Menurut Wagubsu, Danau Toba adalah anugrah Tuhan kepada manusia. Karenanya, masyarakat di sekitar Danau Toba tidak saja harus bisa memanfaatkan anugrah tersebut sebagai sumber kehidupan. Tetapi lebih penting, adalah menjaga kelestarian Danau Toba. “Bukan semata-mata untuk kita saat ini, tetapi untuk anak cucu kita kelak,” ujar Ijeck.

***

Pulau Samosir terletak persis di tengah Danau Toba. Sejak 15 tahun terakhir ini, Samosir menjadi sebuah wilayah Kabupaten berdasarkan UU No. 36/2003 tentang Pembentukan Kabupaten Samosir dan Kabupaten Serdangbedagai. Memiliki luas sekitar 1.49,5 KM2, Samosir berbatasan dengan Kabupaten Karo dan Simalungun di sebelah Utaranya, Kabupaten Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan di sebelah Selatan, di sebelah Timur dengan Kabupaten Toba Samosir serta sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan Pakpak Bharat.

Dihuni sekitar 150.187 jiwa penduduk, Kabupaten Samosir terdiri dari sembilan kecamatan, dimana enam kecamatan berada di Pulau Samosir di tengah Danau Toba dan tiga kecamatan lainnya di daerah lingkar luar Danau Toba tepat pada punggung pegunungan Bukit Barisan. Yakni Kecamatan Harian, Sianjur Mula Mula, Nainggolan, Onan Runggu, Palipi, Pangururan, Ronggur Nihuta, Simanindo dan Sitiotio.

Meski dikelilingi oleh Danau Toba, Samosir bisa dicapai melalui jalur darat dengan melewati jembatan Tanah Ponggol, sebuah terusan (kanal) memisahkan Pulau Samosir dengan Pulau Sumatera yang dibuat oleh Pemerintah Belanda. Jalur darat ini bisa ditempuh melalui Karo-Tele. Sedangkan jalur kapal, Samosir bisa didatangi dari banyak lokasi diantaranya Parapat, Tigaras, Muara dan lainnya.

Dengan kondisi geografis sedemikian itu, wajarlah jika Samosir memiliki banyak potensi wisata alam, sejarah dan budaya yang tersebar di semua wilayah kecamatan. Beberapa objek wisata sejarah diantaranya di Kecamatan Simanindo terdapat Makam Raja Sidabutar, makam yang terbuat dari batu utuh tanpa persambungan yang dipahat sebagai tempat peristirahatan Raja Sidabutar pengusa kawasan Tomok pada masa itu; Batu Parsidangan berada di desa Siallagan, susunan batu sedemikian rupa pada masa pemerintahan Raja Siallagan untuk tempat mengadili dan mengeksekusi para penjahat; juga Museum Huta Bolon, tempat penyimpanan benda-benda kuno orang Batak.

Beberapa objek wisata sejarah di Kecamatan Pangururan diantaranya Terusan Tano Ponggol, terusan yang memisahkan Pulau Samosir dengan Pulau Sumatera; Pesanggarahan, bangunan peninggalan kolonial Belanda di Kota Pangururan dan saat ini digunakan sebagai rumah dinas Bupati Samosir; juga
Patung Liberty Malau, tugu peringatan perjuangan seorang pejuang angkatan 45 dari Pulau Samosir yang membantu kemerdekaan Republik Indonesia.

Di Kecamatan Sianjur Mula-Mula ada Batu Parhusipan, tempat pertemuan Si Boru Pareme; Batu Pargasipan, Batu Nanggor, Bukit martil, batu tempat Seribu Raja menempa senjata; Batu Hobon, batu tempat penyimpanan barang pusaka; Sigulatti, tempat di pegunungan Pusuk Buhit yang diyakini asal mula orang Batak.

Di Kecamatan Nainggolan ada Batu Guru, sebuah batu yang mempunyai tiga pondasi yang diyakini menjadi slogan orang Batak yaitu “dalihan Natolu “. Di Kecamatan Sitio-Tio, ada Mata Air Datu Parngongo, sekitar 4 Km dari Dermaga Tamba, mata air bertuah yang dibuat oleh seorang Datu Parngongo di lereng bukit yang sangat curam. Di Kecamatan Palipi ada Batu Rantai, di Kota Mogang ada Piso Somalim.

Akan halnya objek wisata alam, sungguh jauh lebih banyak lagi jumlahnya. Hampir di semua tempat di Samosir, sesungguhnya sangat potensial sebagai objek wisata. Pun demikian pula potensi seni dan budaya Samosir yang sangat mengagumkan.

Namun dari semua itu, adalah potensi geopark Danau Toba yang sangat besar dan belum banyak disosialisasikan kepada masyarakat lokal dan dunia. Dan Samosir sebagai bagian dari geopark Danau Toba tersebut, tentu memiliki banyak potensi dari Geopark Danau Toba tersebut.

***

Kepingan Surga?

Dengan demikian, tak berlebihan lah jika kemudian Pemkab Samosir memilih kalimat “Negeri Indah, Kepingan Surga” sebagai tagline dari kabupaten yang kini berusia 15 tahun itu. Sesungguhnya Samosir adalah negeri nan indah, bagaikan kepingan sorga yang ada di bumi. Semua ini adalah anugrah Tuhan nan tiada terhingga bagi masyarakat Samosir.

Anugrah tiada terhingga ini mesti disikapi oleh masyarakat agar menjadi berkah kini dan kelak. Dan saya yakin, Pemkab Samosir sudah punya perencanaan matang agar bagaimana kalimat “Kepingan Surga” itu tidak hanya tercetak dalam brosus dan baliho, tetapi lebih dari itu, tercetak juga di dalam pikiran dan perilaku seluruh warga Samosir.

Beberapa tahun lalu, setiap kita memasuki wilayah Tapanuli, sejak dari Tobasa hingga Tapteng, selalu sering ditemui papan-papan bertuliskan “Poda Na Lima” di tepi jalan. Poda Na Lima adalah sebuah filsafat hidup masyarakat Batak yang bermakna sangat luas, dan merupakan nasihat turun temurun dari nenek moyang etnis Batak.

Poda Na Lima (Lima Nasihat) itu dimulai dari “Paias Rohamu” (Bersihkan hatimu), yang bermakna agar dapat memelihara hal-hal baik dalam pikiran dan membuang jauh segala pemikiran negatif; Paias Pematangmu (Bersihkan badanmu), bermakna pentingnya menjaga kebersihan tubuh agar tetap sehat jasmani; Paias Paheanmu (Bersihkan pakaianmu), bermakna pentingnya menjaga penampilan yang tentunya berpengaruh terhadap pandangan orang-orang terhadap kita; Paias Bagasmu (Bersihkan Tempat Tinggalmu), bermakna pentingnya menciptakan kenyamanan tempat tinggal baik rumah maupun kantor tempat beraktivitas; dan terakhir, Paias Alamanmu (Bersihkan halaman sekitar rumahmu), bermakna bagaimana pentingnya menjadi kebersihan lingkungan tempat tinggal kita.

Kini, saya jarang menemukan tulisan tersebut. Meski demikian, saya sangat yakin, Poda Na Lima ini adalah jawaban menuju suksesnya Samosir menjadi “Negeri Indah, Kepingan Surga”. Sebab, Poda Na Lima akan menghasilkan rasa nyaman. Dan, sungguh, yang dibutuhkan para wisatawan adalah kenyamanan!

-------------
*Penulis adalah Jurnalis Utama, penggemar jalan-jalan.
Penulis:

Baca Juga