Catatan Perjalanan Ibadah Haji

Selamat Tinggal Baitullah

Penulis Ketua TPHD Sergai, Ir.H.Soekirman

Perjalanan ibadah haji di tanah suci Mekkah bagi jamaah haji asal Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) tinggal menghitung hari, terutama jamaah Kloter VII Mes Medan (Sergai, Tebing Tinggi, Nias) sudah melaksanakan tawaf wa'dah di Masjidil Haram.

Para jamaah dipimpin Ketua Kloter H.Syarif Husin Al Banjári, TPIHI Drs.H.Safaruddin Daulay, MPd, para Karom dan Karu (1) Iskandar Zulkarnain, Karu (2) H.OK.Sugiàrto, serta dr Hj.Nuraili Hafni, Hj.Sri Astuti dan Paramedis H. Amir B Siregàr S.Kep, Hj. Hafni Lubis, Amkeb. Sesuai jadwal, jamaah haji asal Serdang Bedagai akan bertolak ke tanah air pada 29 Agustus mendatang.

Proses akhir dari rangkaian ibadah haji ini adalah penghormatan sekaligus ucapan selamat tinggal ke Baitullah. Dengan berurai air mata dalam tingkat ketauhidan yang tinggi jamaah berdoa seraya memohon keampunan dari sang pencipta Allah SWT.

“ Ya Allah…….sudah waktunya kami untuk pulang, bekali kami dengan sehat wal-afiat, tetap menjaga agama kami, berilah kami rasa taat dan setia selama-lamanya”.

Selain itu, banyak juga para jamaah yang berdoa agar diberi kesempatan untuk kembali, baik anak dan cucu keturunannya. Perlahan tanpa berpaling, usai tujuh putaran tawaf jamaah pun meninggalkan Ka'bah di tengah Kota Makkah Al-Mukkaramah.

Hari ini situasi maktab dihampir semua sektor ditinggalkan jamaah. Ada yang pulang ke tanah air, dan ada pula yang melanjutkan perjalanan ke Masjid Nabawi di Madinah.

Kampung Indonesia di Sysiah mulai kosong. Masjid Jamek yang selama ini penuh sesak dan hampir tak muat menampung jamaah sekarang mulai sepi. Shaf belakang 3 sampai 5 baris sudah kosong. Itulah kondisi menjelang berakhirnya musim haji.

Ziarah Naik Gunung dan Jamarat

Kawasan kampung Indonesia di sektor I dikelilingi kaki gunung yang berkait dengan Jabal Nur. Para jamaah haji asal Sergai telah memanfaatkan kesempatan untuk ziarah ditempat pertama kali Rasulullah Muhammad SAW menerima wahyu dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril.

Ziarah seperti ini selain uji nyali untuk peregangan otot dalam gerak mendaki dan turun gunung, juga untuk menghayati beratnya perjuangan Nabi Muhammad SAW diawal masa kenabiannya.

Gua Hira berada di atas Jabal Nur dengan ketinggian 700 mdpl dan berjarak sekitar 5 km dari kota Mekkah. Cukup melelahkan dan mendebarkan, apalagi untuk jamaah usia diatas 60 tahun.

Tapi begitulah falsafah para pendaki. Gunung terlihat tinggi sebelum didaki, jika sudah didaki, ternyata puncaknya akan berada di bawah telapak kaki. Subhanallah….

Melihat Jamarat

Betapa mencekam perasaan semua jamaah pada hari tasrik. Jutaan umat Islam melakukan pelontaran jumrah di Jamarat. Tempat yang sakral dan jadi tumpuan umat itu ternyata pada hari biasa cukup lengang. Walaupun setiap hari tetap ada saja pejiarah yang mendatangi jamarat hanya untuk mengenang kembali saat mendebarkan ketika melontar 7 butir batu seraya berharap terlemparlah sifat-sifat syaitan yang ada pada diri jamaah.

Ziarah seperti ini juga dalan rangka mempertebal tauhid masing-masing jemaah. Bahwa tidak mudah melewati rukun dan wajib haji yang menuntut fisik yang prima. Namun kemabruran haji hanya akan di uji seberapa mulia sifat-sifat tabliq, siddik, amanah dan fatonah pasca ibadah haji dilakukan.

Akhir Perjalanan Ibadah Haji

Jam-jam akhir dari prosesi perjalanan haji adalah mempacking barang bawaan, dan mengingat apakah ada pesanan keluarga, teman yang belum dibeli untuk dibawa pulang ke tanah air.

Petugas haji sektor I Sysiyah sudah melakukan ceramah tentang apa yang boleh dan tidak boleh dibawa, agar jamaah terhindar dari kerugian akibat kelebihan bagasi over weight.

Besok malam jamaah akan mengalir ke bandara King Abdul Azis Jeddah dalam rangka check in pesawat. Selamat kembali ke tanah air Indonesia, semoga mendapat Haji Mabrur. (penulis adalah Ketua TPHD Sergai, Ir.H.Soekirman).

Penulis: Rasum Santarwi
Editor: Redaksi

Baca Juga