Catatan : Choking Susilo Sakeh

Setengah Priode Eramas : Ngapain Aja?

Choking Susilo Sakeh. (Foto: MEDANmerdeka/Ist)

IYA ya, ngapain aja ya?

Tepat pada 5 April 2021 nanti, genaplah pasangan “Eramas” (Edy Rahmayadi/Musa Rajeckshah) memimpin Provinsi Sumatera Utara selama dua setengah tahun, setelah dilantik Mendagri sebagai Gubernur/Wakil Gubernur Sumatera Utara pada 5 September 2018. Dua setengah tahun, itu berarti setengah dari priode kepemimpinan Eramas di Sumut, yakni dari tahun 2018 sampai dengan tahun 2023. Pertanyaannya kemudian, dan semoga akan menjadi pertanyaan yang menggairahkan:Selama setengah priode ini, Eramas ngapain aja?

Aku tak berniat dan tak punya kapasitas untuk menghakimi, apakah selama setengah priode ini Eramas memang tampil keren atau Eramas memang cuma kaleng-kaleng. Sebagai salah seorang warga Sumatera Utara pembayar pajak dan - - tentunya -- sebagai salah seorang yang ikut membayar gaji Gubernur Sumut/Wagub Sumut, aku cuma ingin mengingatkan bahwa masa bakti Eramas memimpin Sumatera Utara hanya tinggal setengah priode lagi. Dan sisa dua setengah tahun, itu bukanlah waktu yang panjang.

Yang ingin aku ingatkan, adalah prihal Visi Eramas : “Sumatera Utara yang Maju, Aman dan Bermartabat". Sungguh, ini adalah sebuah susunan kalimat yang wow dan membanggakan.

Begitu pula halnya dengan Misi Eramas, yakni : Pertama, Mewujudkan Masyarakat Sumatera Utara yang Bermartabat dalam Kehidupan karena memiliki iman dan taqwa, tersedianya sandang pangan yang cukup, rumah yang layak, pendidikan yang baik, kesehatan yang prima, mata pencaharian yang menyenangkan, serta harga-harga yang terjangkau.

Kedua, Mewujudkan Masyarakat Sumatera Utara yang Bermartabat dalam Politik dengan adanya pemerintahan yang bersih dan dicintai, tata kelola pemerintah yang baik, adil, terpercaya, politik yang beretika, masyarakat yang berwawasan kebangsaan, dan memiliki kohesi sosial yang kuat serta harmonis. Ketiga, Mewujudkan  Masyarakat   Sumatera   Utara   yang   Bermartabat dalam Pendidikan karena masyarakatnya yang terpelajar, berkarakter, cerdas, kolaboratif, berdaya saing, dan mandiri.

Keempat, Mewujudkan Masyarakat Sumatera Utara yang Bermartabat dalam Pergaulan karena terbebas dari judi, narkoba, prostitusi, dan penyeludupan, sehingga menjadi teladan di Asia Tenggara dan Dunia. Dan Kelima, Mewujudkan Masyarakat Sumatera Utara yang Bermartabat dalam Lingkungan karena ekologinya yang terjaga, alamnya yang bersih dan indah, penduduknya yang ramah, berbudaya, berperikemanusiaan, dan beradab.

Adapun Prioritas Pembangunan Eramas berdasarkan Visi dan Misi tersebut, adalah : Pertama, Peningkatan kesempatan kerja dan berusaha melalui penyediaan lapangan pekerjaan; Kedua, Peningkatan dan pemenuhan akses pendidikan.

Ketiga, Pembangunan infrastruktur yang baik dan berwawasan lingkungan; Keempat, Penyediaan layanan kesehatan yang berkualitas; dan Kelima, Peningkatan daya saing melalui sektor agraris dan pariwisata.

Ditambah lagi dengan berbagai janji lisan yang telah dilontarkan Gubsu. Misalnya, Medan bebas banjir 2021, jalan tol di Kota Medan, dan seterusnya dan seterusnya.

Lantas, sampai pada setengah priode ini, sudah bagaimanakah pencapaian Visi-Misi dan Prioritas Pembangunan “Sumut Bermartabat” maupun janji-janji yang pernah dilontarkan tersebut?

Pecah Kongsikah (?)

Aku -- sekali lagi -- tak berminat dan tak punya kapasitas menjawab berbagai pertanyaan menyangkut kinerja Eramas selama setengah priode memimpin Sumatera Utara. Tapi, yang menarik kucatat adalah, hingga setengah priode ini Eramas tak juga mampu menyiapkan pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang definitip di jajaran Pemprov Sumatera Utara. Belum lagi soal bagaimana hubungan dan kordinasi dengan 33 bupati/walikota yang ada di provinsi Sumatera Utara.

Padahal, re-organisasi, konsolidasi dan kordinasi adalah kebutuhan paling dasar dalam sebuah pemerintahan. Dari ketidakmampuan melakukan reorganisasi dan konsolidasi di jajaran pembantunya, maupun ketidakmampuan melakukan kordinasi dengan pemkab/pemko se-Sumatera Utara selama dua setengah tahun ini, kitapun kemudian bisa menilai sejauhmana kualitas kepemimpinan Eramas.

Itu satu hal. Dan hal lainnya, adalah tentang bisik-bisik di masyarakat saat ini prihal telah ‘pecah kongsi’-nya pasangan Eramas. Ternyata, prihal pekongnya Eramas telah menjadi bisik-bisik sangat seksi tentang Sumatera Utara. Pecah Kongsi alias ‘pekong’, ahai…

Sesungguhnya, kasus pekongnya Kepala Daerah dan Wakilnya saat memimpin, bukanlah sesuatu yang aneh, malahan sudah lumrah terjadi. Penyebabnya, lebih dikarenakan masing-masing fihak tidak mampu mengendalikan syahwat kekuasaan, terutama dalam hal ‘rebutan pengaruh’.

Kalaulah benar adanya prihal bisik-bisik seksi tentang pekongnya Eramas tersebut, wajarlah jika kemudian menjadi keprihatinan bersama warga Sumatera Utara. Sebab, dipastikan sepanjang setengah priode sisa kepemimpinan Eramas di Sumatera Utara, akan lebih dimanfaatkan oleh masing-masing fihak untuk membangun jaringan, menggalang dukungan dan dana sebagai persiapan masing- masing untuk maju pada Pilgubsu 2024. Kalau sudah demikian yang terjadi, maka siapakah yang akan mewujudkan visi-misi “Sumut Bermartabat” tersebut : Gubernur Sumut sendiriankah atau Wagub Sumut sendirian?

Pernyataan paling awam adalah, andaikan Eramas bisa akur-damai selama lima tahun memimpin Sumatera Utara, pun tidak bisa menjadi jaminan bahwa “Sumut Bermartabat” bisa kelihatan wujudnya. Bagaimana pula kalau Eramas sudah pekong di tengah masa priode kepemimpinannya?

Eit, sudah terlalu banyak aku bertanya, dan semakin banyak pula rasa takutku untuk menjawab…

*Penulis adalah Jurnalis Utama, lahir dan menetap di Medan.