OLEH : Sunarji Harahap

STRATEGI  INVESTASI KEUANGAN JAMAAH HAJI

Sunarji Harahap, M.M.(foto/Istimewa)

Dana haji kita sungguh melimpah, terkumpul Rp8 triliun hingga Rp9 triliun setiap tahun. Data BPKH per Februrari 2019, dana haji  terkumpul hampir Rp113 triliun dari 4,1 juta jamaah. Dari sisi investasi, dana ini tidak produktif. Seharusnya dioptimalkan sehingga dapat dimanfaatkan secara maksimal demi kemaslahatan umat.

Jika dana haji diinvestasikan dalam proyek atau program ekonomi produktif, manfaat yang bisa dipetik jauh lebih besar lagi. Bukan cuma buat jamaah haji, melainkan Negara, khsusnya untuk meningkatkan fasilitas haji baik di Tanah Air maupun di Tanah Suci.

BPKH dituntut  memiliki  strategi  investasi. Tantangan terbesar BPKH adalah mengatasi currency mismatch dan terus meningkatnya biaya haji. Sementara, sumber keuangan haji terbatas hanya dari setoran jamaah yang cenderung tetap.

Saat menerima dana haji, portofolio dana kelola BPKH didominasi oleh rupiah dan hanya sebagian kecil saja berupa valas. Sebaliknya, saat mengalokasikan pengeluaran dana haji, valas yang mendominasi. Itulah sebabnya, dasar penghitungan biaya perjalanan ibadah haji (BPIH) mengacu nilai mata uang dollar AS (USD) dan Arab Saudi (SAR).

Itu sebabnya instrument investasi BPKH ada yang berdenominasi rupiah maupun valas karena instrument  berdenominasi valas dibutuhkan  dalam   rangka mengelola currency mismatch. Ketika terjadi pembatalan haji, maka dana BPIH dalam  bentuk valas maupun rupiah tentunya akan dikembalikan pada BPKH untuk dikelola.

Secara normatif, opsi yang dihadapi BPKH adalah menentukan instrument likuiditas yang tinggi dengan risiko yang rendah serta memberikan imbal hasil yang optimum.

Strategi investasi keuangan haji

Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk negara menjadi pilihan. Sukuk Negara Ritel (sukuk) atau Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) adalah surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Penerbitan sukuk menjadi intrumen investasi halal yang telah mendapatkan fatwa syariah dari Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI.

Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk negara menjadi pilihan. Sejak 2009, pemerintah telah menempatkan dana haji pada sukuk negara melalui penerbitan Sukuk Dana Haji Indonesia (SDHI) .

SDHI adalah sukuk negara yang diterbitkan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) kepada Kemenag selaku investor pemegang dana haji dan dana abadi umat (DAU) melalui private placement. Dana haji memang adalah dana murah bagi pemerintah untuk membiayai pembangunan. SDHI pun sejatinya adalah instrument bagi pemerintah untuk menjembatani dana haji dengan sector riil.

Pada tataran inilah, sukuk negara memainkan peran strategis sebagai instrument investasi bagi Kemenag untuk memperoleh bagi hasil atau nilai manfaat, sekaligus menjadi sumber keuangan bagi Kemenkeu untuk membiayai pembangunan.

Selama 2017 hingga 2019, nilai manfaat yang diterima BPKH atas dana kelola haji terus meningkat. Secara berturut-turut, dana kelola sebesar Rp98 triliun, Rp113 triliun, dan Rp 125 triliun menghasilkan nilai manfaat sebesar Rp5 triliun, Rp 5,8 triliun, dan Rp 7,2 triliun yang diberikan kembali kepada jamaah dalam bentuk insentif dan fasilitas.

Tahun 2020, diperkirakan dana kelola haji mencapai Rp142 triliun dengan nilai manfaat sebesar Rp8 triliun. Hingga Mei 2020, dana jamaah haji yang dikelola BPKH sudah mencapai Rp135 triliun. Pada 2019, nilai manfaat dana haji dialokasikan untuk operasional BPKH sebesar Rp335 miliar, operasional BPIH sebesar Rp5,83 triliun, untuk jamaah tunggu sebesar Rp1,08 triliun, dan efisiensi untuk operasional BPIH sebesar Rp1,2 triliun. Pada 2020, alokasi BPIH diprediksi menembus Rp 14-15 triliun dengan kebutuhan valut asing sekitar USD 575juta.

Investasi Emas

Sebagai salah satu instrumen investasi, emas merupakan aset riil atau aset investasi yang ada bentuknya. Semakin terbatasnya jumlah sumber daya alam penghasil emas diduga menjadi penyebab harga emas semakin tahun semakin tinggi. Maka dari itu, semakin hari keinginan orang untuk menyimpan kekayaan dalam bentuk emas semakin meningkat. Kenaikan atau pun penurunan harga emas sudah tak terlalu berdampak lagi pada antusias memasyarakat ini.

Dilihat dari proyeksi investasi emas dari tahun ke tahun dapat dilihat pada perhitungan yang berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), di tahun 2000 harga emas berada di level Rp71.875 per gram, kemudian naik menjadi Rp206.667 pada tahun 2007.

Sedangkan di tahun 2010, harganya sudah mencapai Rp360.000 per gram, dan pada tahun 2014 saat tahun politik mencapai Rp 478.402 per gram. Tepat pada Maret 2020, harga beli emas sempat bertengger di Rp851 ribu, dan sebulan kemudian langsung naik ke Rp963 ribu pada 7 April 2020. Luar biasa kan pergerakannya?

Data ini menunjukkan bahwa, jika seseorang membeli emas 50 gram dengan modal investasinya Rp18 juta di tahun 2010 (asumsi harga per gram Rp360 ribu). Setelah disimpan selama 10 tahun, dia pun memutuskan untuk menjual semua emasnya di tahun 2020 dengan harga buyback Rp 845 ribu. Maka dengan menjual 50 gram emas, uang yang dia dapatkan adalah Rp42.250.000.

Keuntungan bersih yang didapat olehnya adalah Rp42.250.000 – Rp18 juta = Rp 24.250.000. Bisa dikatakan bahwa keuntungan yang didapat lewat investasi emas selama 10 tahun adalah 134,7 persen! Luar biasa.

Ada juga jenis emas digital (online) Kelebihan dari emas digital adalah proses pembelian emasnya bias dilakukan dengan cepat. Gak perlu antri, tinggal klik beli, transfer, dan tunggu sampai emasnya masuk kedalam portofolio. Di samping cepat dalam pembelian, emas digital juga memiliki fitur canggih di mana investor bias membeli emas dengan modal Rp10 ribu saja. Jika 1 gram emas adalah Rp900 ribu, maka dengan uang Rp10 ribu kamu membeli 0,011 gram emas. Meski namanya digital, bukan berarti selamanya digital. bisa juga dicetak dalam bentuk mencetak emas digital jadi batangan, hanya saja ada biaya cetaknya dan minimal berat untuk mencetaknya.

Investasi Langsung

Investasi langsung dalam teori investasi secara umum adalah upaya mengelola uang atau aset secara langsung pada jenis atau bidang usaha tertentu misalnya mendirikan pabrik, mendirikan toko atau membentuk perusahaan atau bisa pula berupa membeli tanah, rumah dan bangunan atau membeli emas dan sebagainya, untuk kemudian dijual kembali. Investasi langsung disebut juga sebagai investasi nyata (realinvestment).

Berinvestasi di pasar modal termasuk kategori langsung, apabila investor mengelola sendiri investasinya. Produk yang menjadi sasaran investasi (saham atau obligasi) dikelola sendiri, harga, jumlah saham yang dibeli serta berbagai risiko yang ada dianalisa sendiri oleh investor.

Dalam investasi langsung ini setidaknya investor memahami dan mengetahui bahwa setiap bentuk dan jenis investasi memberikan tingkat keuntungan dan risiko yang berbeda- beda.

Semakin besar kemungkinan tingkat keuntungan dari suatu investasi maka semakin besar pula tingkat risikonya. Mengelola risiko guna mendapatkan hasil yang optimal sangat dipahami oleh investor, sehingga ia dikatakan sebagai berinvestasi di pasar modal secara langsung.

Selain paham dan mengerti tentang seluruh aspek (karakteristik produk, trend pasar dan sebagainya), konsekuensi logis dari investor yang memilih aktivitas investasi langsung di pasar modal adalah nilai modal yang diinvestasikan. Untuk membeli saham saja minimal volume pembelian adalah satu lot (setara dengan 500 lembar). Jadi kalau harga per lembar saham ada pada kisaran Rp1.000 dengan demikian dana yang harus disiapkan adalah Rp500 ribu. Itu baru pada produk saham.

Kalau investasi dilakukan investor dalam membeli obligasi tentunya dana yang disiapkan jumlah lebih besar lagi, sebab denominasi (pecahan obligasi) umumnya cukup besar. Kalau obligasi yang diterbitkan pemerintah seperti ORI denominasinya ada yang Rp 1 juta, sedangkan kalau yang diterbitkan korporasi denominasinya lebih besar lagi ada yang minimal Rp 1 miliar. Walhasil dengan fakta tersebut dalam investasi langsung di pasar modal, setidaknya dibutuhkan dana yang cukup besar. Apalagi bila investor itu akan membentuk portofolio guna menekan risiko dan mengoptimalkan keuntungan. Dana dan biaya yang ditempatkan tentunya lebih besar lagi.

Investasi Lainnya

Apakah ada alternatif investasi lain yang anti inflasi selain emas? tentu saja ada, berikut ini adalah empat investasi lainnya , diantaranya :

Berlian

Berlian saat ini berlian mulai diperhitungkan sebagai jenis investasi yang menjanjikan dan menguntungkan selain emas. Berlian yang bisa dijadikan sebagai investasi adalah berlian yang memiliki satu karat ke atas dan juga dilengkapi dengan sertifikat untuk bisa diperjual belikan.

Sedangkan pada berlian dengan karat kecil atau berlian yang memiliki karat besar namun sudah menjadi butiran kecil ketika dijual harganya akan turun hingga 30 persen. Oleh karena itu, jenis berlian yang seperti itu lebih baik dipakai untuk sebagai perhiasan.

Walaupun investasi perhiasan sendiri juga seringkali masih dikaitkan dengan investasi emas karena  banyak  dari  perhiasan  terbuat   dari   emas,   tetapi The   American   Jewerly Institute mencatat bahwa selama 20 tahun terakhir, perhiasan yang mengandung berlian berkualitas tinggi lebih banyak memecahkan rekor pada mayoritas acarapelelangan.

Reksa Dana Syariah

Investasi reksa dana semakin dikenal masyarakat. Pengertian reksa dana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal yang selanjutnya diinvestasikan kembali ke dalam portofolio efek oleh Manajer Investasi (Undang-Undang Pasar Modal No 8 Tahun 1995). Reksa dana syariah itu halal, tersedia dengan dua akad, yaitu wakalah dan mudharabah.

Produk syariah mengandung unsur ekonomi islam yang sistem pengelolaannya diatur sesuai dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Di dalam pemilihan instrumen Reksa Dana Syariah, Manajer Investasi menganut prinsip Syariah yakni hanya membeli instrumen investasi yang termasuk dalam Daftar Efek Syariah (DES) yang disusun oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS).

Mendapatkan reksa dana syariah di bank-bank syariah atau di perusahaan aset manajemen yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). mmulai berinvestasi dengan modal Rp100.000 per bulannya untuk membeli reksa dana syariah, tidak perlu khawatir dengan berinvestasi reksa dana syariah, uang yang diinvestasikan akan dikelola dengan sistem halal dan baik, dan ketika pertumbuhan investasi syariah bagus, akan turut mendapatkan untungnya. Reksa dana yang dibeli bisa dijual ketika hasil investasinya sudahbagus.

Perkebunan

Investasi ini banyak keuntungannya dan dapat kita lihat sejak tahun 1969 tabung haji di negara Malaysia telah berinvestasi pada sektor perkebunan dengan proyek pertama berupa kebun sawit seluas 4.047 hektar dan semakin berkembang setiap tahunnya, sampai pada tahun 1993 Tabung Haji memiliki tanah perkebunan sawit seluas 23.067hektar.

Real Estate Syariah

Dana Investasi Real Estate Syariah ini akadnya syariah, disimpan di bank syariah dan menggunakan asuransi syariah. Jadi gedung atau aset pakai asuransi syariah .apalagi penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh) final menjadi 0,5 persen dan tarif Bea Perolehan atas Hak Tanah dan Bangunan (BPHTB) menjadi maksimal 1 persen untuk Dana Investasi Real Estate (DIRE), yang telah dikeluarkan pemerintah bulan lalu.

Kalau tarifnya sudah 1 persen dan saya jual aset ke DIRE, pajaknya tidak besar, sehingga akan mendorong perolehan aset DIRE lebih mudah karena tidak membebani bagi penjual maupun pembelinya. Kalau DIRE murah otomatis bagi investornya lebih menguntungkan.

Di negara tetangga yakni Malaysia jumlah dana haji tercatat pada tahun 2017 sebesar Rp198,5 Trilliun, sebesar 9% masuk pada real estate berupa investasi langsung dan 17% pada investasi tidak langsung dalam pembangunan properti atau sejenisnya.

Perhotelan Syariah

Investasi Berbisnis hotel syariah sangatlah menguntungkan apabila dikelola dengan baik,memiliki masa depan cerah dalam berinvestasi. dibangun di kawasan berbasis muslim.

Pastinya akan menjadi alternatif utama. Hotel syariah ini menjadi fasilitas akomodasi dengan label khusus ini justru sangat menjanjikan, hal ini mempertimbangkan kuatnya pasar domestik yang didorong pesatnya aktifitas meeting, incentives, convention, exhibition (MICE) dan meningkatnya jumlah pelancong bisnis.

Hotel syariah yang saat ini beroperasi, dianggap setaraf dengan hotel ekonomis (budget hotel) bintang tiga, dan empat atau bahkan lima. Oleh karena itu, dana yang dibutuhkan untuk investasi pun serupa. Dengan tarif per malam Rp350.000-Rp 450.000, diasumsikan dapat mencapai pengembalian modal (pay back) dalam waktu 6 hingga 8 tahun kedepan.

Pihak BPKH juga bisa menjalin mitra dengan pihak Arab Saudi dalam hal ini agar lebih memaksimal kenyamanan fasilitas jamaah haji nantinya.

Properti Syariah

Investasi dalam properti syariah merupakan investasi yang menguntungkan dikarenakan harganya terus cenderung selalu naik, saat ekonomi yang melemah seperti sekarang , harga properti tetap saja tumbuh. Besaran pertumbuhan harga antara lain ditentukan oleh pilihan lokasi. Bila lokasi prospektif , maka harga cenderung naik lebih cepat.

Sunarji Harahap: Dosen FEBI UIN Sumatera Utara / Pengurus MES Sumut / Pengurus IAEI Sumut / Pengamat Ekonomi Syariah.