Sejarah akal sehat dari kantor Gubsu

Tahun 1916 : Orang Jawa Buat Suratkabar di Medan!

Choking Susilo Sakeh.(foto:ist)
Choking Susilo Sakeh.(foto:ist)

Jika bicara tentang etnis Jawa di Sumatera Utara, tak bisa dilepaskan dari sesosok warga Belanda, Jacobus Nienhuys, pendiri perkebunan tembakau Deli Maatschappij di Sumatera Timur, enam tahun setelah kedatangannya ke daerah ini pada tahun 1863.

Dan, perkebunan tembakau di Sumatera Timur pun tak bisa dipisahkan dengan puluhan ribu kuli kontrak asal Pulau Jawa. Migrasi massal etnis Jawa tersebut, tentu berdampak positip maupun negatip bagi etnis Jawa di Sumatera Utara.

Sampai penghujung tahun 1970-an misalnya, istilah’Jakon’ (akronim dari : Jawa Kontrak) -- sebuah panggilan bernada mengejek -- masih ada dilontarkan terhadap etnis Jawa di Sumatera Utara.

Menurut catatan, pada tahun 1873 baru ada 13 perkebunan Tembakau di Sumatera Timur. Tahun 1889, berkembang menjadi 179 perkebunan berskala besar dan kecil. Namun di tahun 1930, jumlah kebun tembakau berkurang menjadi 72 kebun. Pada tahun 1957, kebun-kebun tersebut dinasionalisasi, dan kini berada di bawah perusahaan PTPN II. Kesemua perkebunan tembakau itu, tentu tak bisa melepaskan ketergantungannya dengan buruh kuli kontrak etnis Jawa.

Tapi, siapa sangka, di tengah gencarnya kedatangan kuli kontrak dari Jawa tersebut, pada 1 Juli 1916 telah terbit Suratkabar “Soeara Djawa”. Terbit dua kali sebulan, suratkabar ini terkenal gigih membela nasib para kuli kontrak yang notabene adalah etnis Jawa.

Diterbitkan dan dikelola oleh etnis Jawa dengan Pemimpin Redaksinya K. Mangoen Atmodjo, seorang pengurus Budi Utomo, . suratkabar ini memang menyuarakan aspirasi Budi Utomo.

Tak cuma Soeara Djawa. Juga ada “Sedar”, suratkabar yang terbit pada 1 Oktober 1920. Diterbitkan oleh etnis Jawa dan menjadi corong Taman Siswa itu, Pemimpin Redaksi Suratkabar Sedar adalah Doel Effendi, salah seorang pengurus Taman Siswa Medan. Kedua suratkabar yang diterbitkan oleh orang Jawa ini, selain membela nasib etnis Jawa khususnya yang menjadi kuli kontrak di perkebunan tembakau, juga menyuarakan semangat kebangsaan dan kemerdekaan.

Sulit aku membayangkan, di era penjajahan, ada orang Jawa yang menerbitkan suratkabar di Medan!

* * *

Lobbi Kantor Gubernur Sumut di Medan.

Pintu masuk utama ke gedung berlantai 12 yang dibangun tahun 1991 itu, juga merupakan pintu masuk ke lobbi Kantor Gubernur Sumut. Pintu itu terletak persis di sebelah Timur menghadap ke Jalan Diponegoro Medan.

Sekitar dua langkah dari pintu utama, terdapat tangga menuju ke lantai dua. Tidak jauh dari tangga, di bagian Selatan, terdapat lorong panjang menuju ke ruangan para pegawai.

Di pinggir bagian Barat bangunan, tersedia tiga lift untuk para pegawai. Di sebelah Utara, tersedia dua lift -- satu untuk Gubsu, Wagubsu dan Sekda, serta satu lift lagi untuk para tamu. Di bagian Baratlaut, terdapat sebuah pintu khusus untuk pimpinan, karena langsung berhadapan dengan tempat parkir mobil BK 1 dan BK 2.

Lobbi tersebut sesunguhnya tak begitu luas, karena terdapat dua meja staf : satu untuk layanan masyarakat, dan satunya lagi persis di samping pintu khusus untuk melayani pimpinan. Bersyukur, langit-langit lobbi ini setinggi lantai dua bangunan, mendukung keanggunan lobbi ini.

Yang ingin saya ceritakan adalah tentang bagaimana wajah lobbi Kantor Gubsu yang biasanya kaku, menjemukan bahkan mungkin juga ‘menakutkan’. Namun sejak 6 hingga 8 Febr. 2019, wajahnya sumringah, penuh canda walau mungkin terkesan berantakan. Tapi, asyik sekali, bahkan mencengangkan!

Selama tiga hari itu, ada ratusan lembaran Koran digantung di partisi yang memenuhi ruang lobbi tersebut, bahkan hingga berjejer di pinggiran menjelang pintu masuk utama lobbi.

Humas Pemprov Sumut bekerjasama dengan Pusat Studi Ilmu Sosial (Pusis) Univ. Medan dan Rumah Sejarah Medan memang sedang menyelenggarakan Pameran Satu Abad Suratkabar Sumatera Utara.

Dan dua suratkabar Orang Jawa di atas tadi, adalah bagian dari sejarah Satu Abad Suratkabar di Sumatera Utara!

* * *

Dari pameran ini tercatat, ada 147 penerbitan pers selama tahun 1880-1942 di Sumatera Utara. Ini menjadi jumlah penerbitan suratkabar terbanyak di Indonesia selama masa kolonial Belanda.

Juga tercatat, bahwa suratkabar terbtan Sumatera Utara tahun 1916, “Benih Merdeka”, menjadi suratkabar pertama di Indonesia yang berani menggunakan kata ‘Merdeka’ sebagai nama suratkabarnya. Daerah ini juga tercatat mempunyai seorang tokoh pers yang mendapat gelar “Raja Delik Pers di Indonsia”, karena sering menentang Belanda dalam pemberitaannya dan paling sering keluar masuk penjara. Dia adalah Parada Harahap.

Pameran itu sendiri menampilkan 74 suratkabar yang terbit dari tahun 1911 (suratkabar Immanuel, terbit di Laguboti) hingga tahun 1970 (Suratkabar Mertjusuar, terbit di Medan), 1972 (Suratkabar Sinar Indonesia Baru, terbit di Medan) dan 1972 (suratkabar Sinar Pembangunan, terbit di Medan). Sebahagian besar pengisi pameran adalah suratkabar yang terbit di masa kolonial.

Menarik mengamati suratkabar masa kolonial di Sumatera Utara. Banyak suratkabar berbasis etnis, kedaerahan maupun agama. Selain suratkabar yang diterbitkan etnis Jawa, beberapa suratkabar etnis Batak diantaranya : “Anak Batak (Tahun 1927, Pemred Victoria L. Tobing, terbit di Sibolga), “Batak Bergerak” (1941, Soetan Amir Hamzah – Tarutung), “Bintang Batak” (1936, Joesoef Djajab - Tarutung), “Eendracht Saroha” (1933, AW Siahaan – Balige), “Palito Batak” (1927, M.L. Tobing – Tarutung), “Parbarita Batak” (1928, F. Panggabean – Sibolga), “Peretoengkoan” (1937, H.Panjaitan – Tarutung), “Soeara Batak” (1925, J. Siahaan – Tarutung).

Juga ada suratkabar “Asahan” (1927, A. Albrahim - T.Balai), “Bintang Karo” (1930, S. Manik - Berastagi), “Mandailing (1923, Abdullah Lubis - Mandailing), “Panji Karo” (1929, G. Keliat - Berastagi), “Pewarta Deli (1917, Soetan Parlindoengan - Medan), “Sinar Deli” (1932, Mangaraja Sutan - Medan), “Soeara Dairi” (1930, G.M. Arifin - Sidikalang), “Soeara Bondjol” (1919, Ahmad Marzuki - Medan), “Tjermin Karo” (1924, Mboelah Sitepu - Binjai) dan beberapa lainnya.

Beberapa suratkabar di Sumatera Utara ada yang diterbitkan oleh etnis Cina dan Belanda. Beberapa suratkabar juga diterbitkan kalangan ummat Islam dan Protestan. Dan kesemuanya itu tercatat dalam sejarah suratkabar Sumatera Utara dari pameran ini.

Meski berbasis etnis, kedaerahan dan keagamaan, namun tak ada suratkabar yang berjuang untuk kepentingan etnis, daerah dan agamanya semata. Melainkan serentak membangun semangat kebersamaan untuk bangsa dan Negara yang merdeka dan berdaulat.

Walhasil, menyaksikan sejarah Satu Abad Suratkabar Sumatera Utara adalah menyaksikan sejarah akal sehat yang diperlihatkan oleh suratkabar -- terutama pada masa kolonial dan masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. Tak terlihat kebencian SARA antar kelompok dipertontonkan oleh suratkabar pada masa itu. Tak ada caci maki antar kelompok, tak ada yang merasa kelompoknya paling benar dan kelompok lain salah.

Tanpa sadar, pameran Satu Abad Suratkabar Sumatera Utara ini mengajak pengunjungnya untuk tetap merawat akal sehat dalam membangun bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik : membangun bersama tanpa saling menyalahkan, tanpa saling caci maki.

Maka, pameran suratkabar di Lobbi kantor Gubernur Sumut ini, sesungguhnya adalah gagasan cerdas, baik dalam hal pemilihan materi pameran maupun pemilihan lokasi pamerannya.

Saya berharap, tentunya jangan berhenti sampai di sini. Lobbi kantor Gubsu ini harus bisa terus menerus dijadikan tempat untuk merawat akal sehat.

“Mungkin dengan kegiatan seni, budaya dan lainnya,” saranku kepada Ilyas Sitorus, Kepala Biro Humas Pemprov Sumut, teman berbincangku saat menyaksikan pameran ini.

*Penulis Choking Susilo Sakeh, Wartawan Utama, Ketua Majelis Kesenian Medan, keturunan ‘koeli kontrak’.

Penulis:
Editor: Redaksi

Baca Juga