Choking  Susilo Sakeh

Tak Cakap maka Tak Tuntas

JADI, begini :
Entah fakta atau hoax, tapi menurutku, serbuan virus corona itu ternyata tak cuma sekedar garang dan gegap gempita saja. Lebih dari itu, serbuan itu bahkan sangat TSM (terstruktur, sistemik dan massif).  Buat aku  yang memang tak cakap secara spiritual, sekaligus juga tak cakap secara intelektual dan secara finansial, model serbuan semacam itu telah membuat aku menjadi sering terkaget-kaget dan tergagap-gagap.

Dampak dari seringnya aku kaget dan gagap tersebut, pada akhirnya sangat mengganggu sistem dan pola berfikirku. Akalku jadi susah diajak berfikir lurus dan sehat. Sebaliknya, aku gampang berfikir aneh-aneh dan jungkir balik, khususnya di dalam membaca segala hal dan hil berkaitan dengan virus corona ini.

Seperti ini misalnya :  Virus corona  itu sudah bermutasi beberapa kali. Berawal dari Alfa (Inggris), lalu Beta (Afrika Selatan), Gamma (Brazil), Delta (India), Epsilon (Amerika Serikat), Zeta (Brazil), Eta (Inggris), Theta (Pilipina), Lota (Amerika Serikat) dan varian baru Kappa di India). (Kontan.co.id., Kamis 10 Juni 2021).

Maka, untuk menghadapinya, aturan pun wajib pula ikut bermutasi. Pertama, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), lalu PPKM (Pemberlakuan Pembatan Kegiatan Masyarakat) Jawa-Bali, PPKM Mikro, Penebalan PPKM Mikro, PPKM Darurat dan kini PPKM Level 3-4 (Tribunnews.com, 21 Juli 2021).

Kalau kemudian sang virus tak juga berhasil dihalau, fikiran jungkir balikku pada akhirnya kepingin merobah nama virus corona ini menjadi, misalnya,  “virus flu kodok” saja.

Harapannya,  sang virus tidak lagi menjadi garang seperti saat ini. Jalan otakku pun menjadi aneh-aneh ketika membaca berbagai aturan menghadapi virus corona ini. Saat semua aktivitas bisnis kuliner harus ditutup pada pukul 17.00 wib, maka aku menduga jangan-jangan si virus corona adalah makhluk pemakai jaket atau sweater sehingga hobbi keluar pada saat sore hingga besok subuh.

Saat lampu jalan dimatikan pada malam hari dan jalan protokol ke inti kota disekat, aku pun menduga jangan-jangan virus corona adalah sejenis makluk yang gemar bermain-main di tempat yang terang benderang, serta suka berjalan-jalan di kawasan inti kota.

Saat perusahaan sektor non-esensial dilarang beroperasi dan pekerjanya dilarang bekerja di kantor, akupun menduga jangan-jangan si virus corona ini adalah penggemar fanatik dari segala aktivitas perusahaan non-esensial tersebut.

Saat waktu makan di warung hanya diperbolehkan maksimal 20 menit, akupun menduga jangan-jangan si virus corona ini adalah makhluk yang terangsang dengan orang-orang yang makan dengan lamban. Alhamdulillah, bersyukurlah,  bahwa ternyata aku bukan pejabat publik.

Ketidakcakapanku sehingga membuat aku suka terkaget-kaget dan tergagap-gagap itu, tidak bakalan terwujud ke dalam sebuah kebijakan publik. Dengan demikian, rakyat pun tidaklah mesti ikut-ikutan aneh dan jungkir balik menerima kebijakanku.

Maka Bersatulah…

Yang ingin kukatakan, bahwa melawan virus corona tidak bisa dilakukan secara sporadis, parsial dan hanya dilakukan oleh pemerintah saja. Melainkan mesti dilakukan secara bersama-sama oleh Pemerintah dan rakyat, di dalam sebuah komando dan program yang terstruktur, sistemik dan masif.

Ini tidak berarti, bahwa ketidakberhasilan pemerintah melawan virus corona selama ini, misalnya, dengan serta merta adalah kesalahan rakyat. Atau sebaliknya, semata-mata adalah kesalahan pemerintah.

Andaipun ada anggapan, bahwa di dalam melawan virus corona ini pemerintah lebih mendengarkan saran pengusaha ketimbang pendapat ilmiah para ahli epidemiologi (JPNN.com, Senin 12 Juli 2021), anggap sajalah itu karena kita sedang dilanda rasa kaget dan gagap massal akibat serbuan virus corona yang begitu gegap gempita tersebut.

Mungkin, kinilah saatnya kita mencoba sedikit jujur, bahwa sesungguhnya banyak kita memang tak cakap. Oleh karenanya, marilah bersatu dalam satu barisan dalam satu komando. Tapi aku tak tau bagaimana cara memulainya. Boleh jadi, dimulai oleh presiden yang mengangkat bendera putih mengaku telah gagal melawan sang virus corona.

Lalu, presiden meminta maaf atas kegagalan tersebut. Termasuk juga meminta maaf atas kegagalan demi kegagalan lain di dalam mengelola pemerintahan. Misalnya, tidak adanya upaya meminimalisir polarisasi cebong-kadrun. Bahkan memelihara buzzeRp untuk melawan kritik, atau memenjarakan fihak-fihak yang berseberangan.

Kemudian, presiden mengajak semua rakyat untuk bersatu padu, bergandeng tangan, bahu-membahu bersama-sama melawan virus corona. Andailah ini yang kelak terjadi, maka aku bertekad akan  menjadi orang pertama berdiri tegak perkasa di barisan terdepan mendukung presiden.

Dan untuk tekadku tersebut, sungguh, presiden tak perlu memikirkan jabatan Komisaris BUMN mana yang layak untukku…
--------------
Penulis adalah Jurnalis Utama dan pencinta budaya.