Oleh : Choking Susilo Sakeh

WUIH, PEMILU KOK LUCU!

Choking Susilo Sakeh | cover

Mestinya, pemilu itu riang gembira!

Sebagai orang Jawa dan muslim, aku adalah komunitas mayoritas di Medan, kota berpenduduk lebih dua juta jiwa. Namun di kawasan tempat tinggalku, sebuah wilayah kelurahan di inti kota, aku adalah minoritas. Dari aspek agama, mayoritas warga di kelurahanku beragama non-muslim. Sedang dari aspek etnis, mayoritas adalah etnis Cina.

Dulu  suasana berwarganegara di kawasanku sangat asyik. Setiap Idulfitri, seusai Sholad I’ed, aku mengantar lontong atau penganan lebaran lain ke tetanggaku yang non-muslim. Sebaliknya, saat Imlek, tetanggaku yang etnis Cina mengantar kue bakul atau penganan lainnya ke rumahku. Kami biasa saling mengejek etnis masing-masing, tanpa prasangka apapun. Kami juga biasa mendiskusikan bangsa dan negara ini, tanpa dibebani kecurigaan.

Tapi kini, setelah kasus Ahok, aku hanya mendapat kiriman satu buah kue bakul pada imlek tahun ini. Tak ada lagi senda gurau seperti dulu, apalagi bicara bebas soal bangsa. Meminjam istilah Rocky Gerung, “Tidak ada lagi kehangatan dan keakraban berwarganegara”. Cemaskah aku”

Sebagai jurnalis, dulu aku bebas menulis apa saja sepanjang sesuai rambu-rambu yang mengatur pers. Tapi hari-hari ini, aku harus berpikir dua kali jika ingin mengkritik kebijakan Jokowi yang kuanggap tidak atau kurang tepat. Sebab, aku harus siap dicap sebagai “Pret” dan di-bully di medsos.

Aku pun harus juga berpikir dua kali,  jika ingin memuji kebijakan Jokowi yang kuanggap bagus. Sebab,  aku harus siap dianggap sebagai “Bong” dan di-bully. Wah, cemaskah aku?

Sabtu akhir pekan lalu, aku diundang ke acara Sarasehan Kebangsaan yang dilaksanakan oleh Gerakan Suluh Kebangsaan pimpinan Mahfud MD dan Aliya Wahid. Ada empat pemantik diskusi : Dr. H.A. Mu’ti, M.Ed. (PP Muhammadiyah), Prof. Dr. Syaiful Akhyar Lubis, MA (Ketum PW Alwashliyah Sumut), Prof. Dr. Hj. Sri Sulistyawati, Ph.D. (pendidik), serta 50 peserta mewakili berbagai elemen.  Nyaris semuanya mencemaskan kondisi bangsa saat ini, serta menawarkan jalan keluar untuk merawat bangsa agar tetap utuh. Ahai, ikut cemaskah aku?

Hanya seorang anak milenial, Ketua Umum IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) Sumut, Zulham H. Pardede, yang tak ikut-ikutan cemas. Malah, yang dicemaskannya adalah : apakah ia dan berjuta mahasiswa lainnya bisa menyelesaikan pendidikannya? Kalau telah selesai, bagaimana kelak masa depannya? Bagaimana pula nasib jutaan anak bangsa yang tidak mendapatkan pendidikan yang layak?

Aku kagum dengan anak muda yang satu ini!

***

Pemilu semestinya riang gembira. Tidak menyeramkan, tapi juga tidak menggelikan!

Kalau meminjam twit Andi Arief tentang seorang tokoh beberapa waktu lalu, pada setiap kemeriahan demokrasi itu akan ada ‘pejuang demokrasi’ dan ada ‘penikmat demokrasi’. Dan aku pasti tak masuk di dalam dua kelompok ini. Aku merasa dalam kelompok lain : cumalah ‘penggembira demokrasi’.

Berdasarkan pemahamanku sebagai penggembira demokrasi tentang berbagai pemilu di Indonesia sejak era reformasi, maupun juga pengalamanku sebagai Ketua Panwaslu Sumut pada Pemilu 2004, maka pemilu kali ini adalah pemilu yang kunilai sangat teramat lucu, dan tentu saja menggelikan!

Ya, lucu dan menggelikan. Bayangkan, hingga kurang lebih dua bulan menjelang hari pencoblosan pada 17 April 2019, pemilu yang menghabiskan anggaran sebesar Rp. 24,8 T ini telah memisahkan anak bangsa dalam dua kelompok besar : bong dan pret. Setiap hari penuh dengan ujaran saling merasa benar, saling menyalahkan, saling hujat, saling silang dan seterusnya. Tidak ada ruang untuk akal sehat. Ya, ya, alangkah menggelikannya pemilu ini!

Bagi fihak yang tidak merasa bagian dari kedua kelompok ini, pun tak tertutup kemungkinan akan dipaksa atau dianggap bagian dari salah satu kelompok ini. Jika suatu ketika engkau  --  secara sengaja atau tidak  --  memuji Jokowi, maka siap-siaplah engkau dicap sebagai bagian dari bong. Sebaliknya, jika suatu ketika engkau  --  sengaja atau tidak  --  mengkritik Jokowi, maka bersiaplah dicap sebagai bagian dari pret. Alangkah menggelikannya pemilu ini!

Hoax, fitnah dan pembunuhan karakter berseliweran bebas setiap saat. Padahal, semua orang berteriak mengaku melawan hoax. Padahal, ada peraturan tentang semua itu. Tapi, itulah : ucapan adalah satu hal, dan perbuatan adalah hal lainnya; Peraturan adalah satu hal, dan penegakan peraturan dengan tegas dan adil, adalah satu hal lainnya. Sungguh-sungguh menggelikan pemilu ini!

Berbagai lelucon yang dihasilkan pada proses pemilu kali ini, sangat bisa aku nikmati bagaikan menikmati pertunjukan Cak Lontong di acara Indonesia Lawak Klub. Atau bagaikan menyaksikan film-film Charlie Chaplin semacam “The Great Dictator” dan film-film Mr. Bean yang dibintangi aktor Rowan Atkinson.

Itulah yang membuat aku tak sedikitpun cemas dengan kondisi berwarganegara di lingkungan tempat tinggalku. Itu jugalah yang membuat aku sedikitpun tak cemas dengan ‘suasana batin’-ku sebagai jurnalis. Bersama kegelian-kegelian dari dagelan pemilu ini, aku pun bisa menikmati hiruk-pikuk bangsa saat ini dengan penuh senyum.

***

Hampir semua etnis yang ada di Indonesia menganut budaya paternalistis. Dalam konteks ini, maka sangat sesuai berlaku pepatah “Seekor ikan akan disebut sebagai ikan busuk, jika kepalanya sudah busuk”.

Lantas, tiba-tiba aku membayangkan : bahwa mulai besok hingga 17 April 2019, kedua peserta pilpres dilarang menggunakan ruang publik untuk saling hujat, saling merasa benar, saling silang dan seterusnya. Di ruang publik, para peserta pemilu harus saling puji, nyanyi bersama, joget bersama, nonton film bersama, makan bersama dan tentunya dibolehkan saling umbar janji  -- karena memang lagi masa kampanye. Kalau peserta pilpres kepingin saling hujat, silahkan di ruang tertutup dan bukan pula untuk konsumsi publik.

Dalam setiap adegan riang gembira di ruang publik semacam itu, kedua capres boleh hanya tampil berdua, boleh juga bersama para wakilnya. Dan akan lebih asyik, jika bisa bersama dengan para pimpinan partai pengusungnya.

Andai ini terjadi, saya pun membayangkan bahwa fihak yang berteriak-teriak tentang Islam radikal atau fihak yang berteriak-teriak tentang kafir, akan gugup,  gagap dan salah tingkah. Pada gilirannya, kelompok yang punya kepentingan tersembunyi di balik kehirukpikukan ini (kalau memang ada!), juga akan tiarap.

Maka, kecemasan tentang bagaimana merawat bangsa ini pun tak diperlukan. Sebab, semestinya, yang menjadi kecemasan kita bersama adalah bagaimana menjawab kecemasan para kaum milenial tentang masa depan mereka.

Wuih, pemilu kok lucu : Sumpah, itulah yang aku cemaskan!

------------------------

*Penulis adalah Jurnalis Utama, Ketua Majelis Kesenian Medan.
Penulis:
Editor: Redaksi

Baca Juga