Merayakan Bumi Lewat Bunyian di Festival TCWMF 2018

WAKTU sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB. Lampu di ruangan gedung TB Silalahi Center, Soposurung, Balige Tobasa, Sumatera Utara tampak meredup. Seratusan penonton tampak memadati momen penting pertunjukan Caldera Toba World Music Festival (TCWMF) 218.

Pertunjukkan TCWMF 2018 tampak seru. Ditambah lagi udara di Tobasa yang begitu bersahabat. Hembusan angin sepoi-sepoi menerpa lereng-lereng bukit merasuk ke tulang mengiringi tampilnya Mataniari yang menyuguhkan Godang si Boru Deak Parujar (pangharoanan).

Ini adalah satu persembahan bunyi kepada dewi “Si Boru Deak Parujar” yang dalam dunia mitologi dan keparcayaan Batak dipercaya sebagai figur dewi pencipta bumi.

Kelompok musik bentukan Rithaony Hutajulu dan Irwansyah Harahap yang berafiliasi pada tradisi musik dan tari Batak Toba ini membawakan beberapa suguhan musik tradisi gondang hasapi dan nyanyian Opera Batak selama lebih kurang duapuluh lima menit.

Kelompok Mataniari, yang baru saja melakukan rangkaian tour pada Desember akhir tahun lalu dalam rangka festival Europalia di Belanda dan Belgia dan beberapa kota di wilayah Asturias Spanyol itu, tampak sangat piawai menghadirkan bunyi-bunyi musikal yang membawa penonton kepada susasana kontemplatif hingga hal yang jenaka dari suguhan gondang maupun lagu-lagu Opera Batak yang mereka mainkan.

Pertunjukan konser musik kedua menampilkan solo dari I Gusti Ayu Laksmiyani, yang dikenal Ayu Laksmi. Ayu Laksmi, yang populer lewat castingnya sebagai ibu dalam filem Pengabdi Setan, menghadirkan nyanyian-nyanyian berupa kidung pujian diiringi oleh penting, sejenis alat petik siter asal Bali. Ayu menampilkan beberapa lagu dari album world musicnya berjudul “Svara Semesta” (2010) dan “Svara Semesta 2” (2015).

Pertunjukan berikutnya, kelompok Trio UDW, terdiri dari Nyak Ina Raseuki (Ubiet), Dian dan Windy, menampilkan beberapa lagu dalam format solo vokal dan dua akordion.

Sebagaimana yang disampaikan Ubiet dalam sesi workshop tentang world music di sore hari sebelum pertunjukan, Trio UDW adalah semacam miniatur dari kelompok musik kami Keroncong Tenggara.

Keroncong Tenggara menggunakan kroncong sebagai titik tolak utama, namun juga mengadopsi berbagai ragam musik dunia lainnya seperti tango, jazz, melayu, pop, dan klasik.

Dengan empat suguhan lagu yang mereka tampilkan, Ubiet dkk membuktikan warna musikal dari berbagai genre musik dunia yang mereka adopsi menggambarkan bentuk sajian musik keroncong dalam bentuk kekinian.

Pertunjukan musik dalam perhelatan festival sehari “Toba Caldera World Music Festival 2018” ini ditutup dengan penampilan kelompok musik Suarasama, dengan membawakan empat buah karya musik diambil dari album musik mereka Fajar Di Atas Awan (RFI France 1988, Dragcity Chicago USA 2008) dan Timeline (Spacerec Ind 2013).

Karya-karya musik Suarasama yang sarat dengan tema-tema tentang spiritualisme, alam dan kemanusiaan, seperti Fajar di Atas Awan dan Padamu Yang Berperang, dimainkan dalam format berlima (kwintet) seolah mengajak penonton kepada bunyi-bunyi musik mulai dari wilayah Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika dan Eropa Timur.

Irwansyah Harahap (musisi dan komposer) pendiri dari kelompok Suarasama ini adalah sosok yang telah mendapat anugerah kebudayaan sebagai “pelopor world music” di Indonesia oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada tahun 2017 tahun lalu.

Suasana haru muncul ketika satu karya Suarasama berjudul “Cinta” didedikasikan kepada seorang penonton yang pada saat itu bertekad hadir menyaksikan festival dan menunda rencana operasi medik yang harus dijalaninya akibat penyakit akut yang dideritanya.

Seperti apa yang disampaikan oleh Rithaony Hutajulu (vokalis utama kelompok Suarasama) di awal sebelum lagu ditampilkan, “Lagu ini kami persembahkan sebagai do’a kita bersama agar saudari kita yang sedang sakit mendapatkan kesembuhan dari penderiataan yang dialaminya.” Acara festival ditutup dengan satu pertunjukan kolaborasi dari empat kelompok penampil dengan membawakan lagu Melayu, “Selayang Pandang.”

Sarat Makna dan Pesan

Di luar konteks sajian musik yang dipertunjukan selama lebih kurang dua jam ,pada acara “Toba Caldera World Music Festival 2018” yang bertemakan “Celebrating the Earth/Merayakan Bumi” ini, terdapat hal yang menarik sebagai catatan.

Seperti yang diungkapkan oleh Irwansyah Harahap dalam percakapan seusai pertunjukan bahwa kebanyakan bentuk festival di Indonesia hanya sebatas ungkapan selebrasi dan menghasilkan keramaian saja.

“Kita lupa bahwa berbagai persoalan menyangkut lingkungan, hubungan sosial dan kesadaran tentang kultur kehidupan masih sangat terabaikan.  Kita bangsa yang realitas hidupnya berada di centrum gunung api, namun kesadaran tentang mitigasi dan kesiapan menghadapi keadaan itu sangat lemah,” ungkap Irwansyah Harahap, Kamis (18/10/2018).

Susungguhnya sebuah festival juga harus mampu menjadi jembatan dan juga mengakomodir isu-isu semacam itu.Dengan tema ‘merayakan bumi’ sesungguhnya kita diajak untuk memikirkan ulang tentang keberadaan kita.

Hal senada juga disampaikan oleh Basar Simanjuntak, sebagaimana tertuang dalam kata sabutannya, Kita sadar tentang berbagai keadaan dan kerusakan hutan dan air khususnya yang ada saat ini di kawasan Danau Toba.

Namun semua itu harus kita jadikan tantangan. Di satu sisi kita ingin memberdayakan potensi kepariwisataan kita secara maksimal, di sisi lain kita masih dihadapkan pada persoalan seperti yang saya katakan. Saya berharap partisipasi dari semua pihak dibutuhkan untuk mengatasi semua permasalah yang kita hadapi.

Irwansyah Harahap yang berperan sebagai director of Festival menyatakan bahwa kegiatan festival ini bertujuan untuk memperkenalkan sekaligus mempromosikan kawasan destinasi kaldera Toba dengan tourism branding  yang baru lewat pertunjukan musik bergenre world music.

Setelah selang waktu yang cukup lama di tahun 2002 ia memulai kiprah festival world music lewat “Bali World Music Festival 2002” di Bali, ia berharap festival world music yang ada di wilayah Danau Toba dapat menjadi satu ajang dan suguhan festival yang lebih besar lagi.

“Kami dengan sengaja memulainya dengan format festival yang lebih kecil dan intimate. Begitu mendengar adanya festival ini, banyak respon dari teman-teman kelompok musisi, baik dari dalam maupun luar negeri yang sangat antusias ingin berpartisipasi. Saya berharap dengan membawa spirit dan tema ‘kaldera Toba’ sebagai flagship yang baru ke dunia luar melalui sebuah festival musik akan mengokohkan posisi Danau Toba sebagai produk warisan bumi.” Ungkap Irwansyah.

Kegiatan festival ini dilaksanakan oleh lembaga Rumah Musik Suarasama berkerjasama dengan pelaksana event Sopo Citra Utama Balige. Kegiatan ini juga didukung oleh keterlibatan berbagai pihak baik dalam bentuk eksibisi pameran Geopark Kaldera Toba oleh lembaga Badan Pelaksana Geopark Kaldera Toba (BP GKT); pamerah kerajinan Galeri BATIKTA; dan Opereter Outbound ONESTHA.(ch/mm)

Comment