Sarana Wisata Keluarga

Menelusuri Wisata Sejarah “Kampung Jepang” di Batubara

SEJAK diresmikan Bupati Batubara Ir.H.Zahir, MAP, objek wisata bersejarah Kampung Jepang, yang berada di pesisir pantai Desa Perupuk, Kecamatan Limapuluh Pesisir, Batubara, semakin diminati pengunjung.

Hal ini tentunya tak terlepas dari perhatian dan keseriusan pemerintah daerah mengelolanya. Mulai dari penataaan UMKM, keindahan alam panorama hingga situs-situs sejarah yang tersisa dan dilestarikan pemerintah daerah.

Sisa-sisa situs sejarah inilah yang menjadikan branding bagi Desa Perupuk sebagai Kampung Jepang. Tak heran, jika Kampung Jepang salah satu objek wisata pavorit para keluarga bersama anak-anaknya. “Dulu saya sering kemari, tapi sejak diresmikan baru kali ini saya datang. Ya bangga juga, sekarang begitu indah dan tertata,” kata Panut, warga Desa Antara.

Hal ini juga diperkuat Ayu Armiati, warga Limapuluh. Sejak dilestarikan sebagai Kampung Jepang, Desa Perupuk menjadi objek wisata andalan Batubara.

“Lokasi ini layak untuk berwisata bersama keluarga dan anak-anak. Disini kita bisa ajarkan anak-anak tentang sejarah mengapa kawasan ini disebut Kampung Jepang. Dan bukti-bukti dan jejak Jepang bisa kita perlihatkan langsung kepada generasi kita sebagai masukan dan pelajaran sejarah bagi anak-anak,” jelas Ayu.

Andi Lestari anggota DPRD Batubara mengapresiasi banyaknya kunjungan wisatawan di Kampung Jepang. Sebagai anggota dewan, politisi PBB ini mendorong pemerintah daerah untuk terus mengawal dinas terkait yakni, Pengelola objek wisata, Dinas UMKM, Dinas Pariwisata, Dinas PUPR dan Dinas Perhubungan untuk terus melakukan peningkatan pelayanan dan keamanan bagi para pengunjung.

“Saya bangga akan terobosan-terobosan yang dilakukan Pak Bupati Zahir, yang mampu berinovasi untuk mensejahterakan masyarakatnya, terutama masyarakat pesisir,” ujarnya.

Oleh karena itu, walaupun pengunjung meningkat tidak membuat para dinas terkait lupa. “Objek wisata itu butuh sentuhan-sentuhan yang terus berubah dan berkembang, mulai dari penataan wilayah, keamanan, kenyamanannya hingga kuliner yang dijjual juga harus sejalan,” ujarnya.

Termasuk juga Camat dan Lurah, agar terus melakukan sosialisasi dan mengedukasi masyarakat sekitar untuk memanfaatkan peluang kunjungan wisata menjadi pemasukan untuk peningkatan perekonomian sekitarnya.

Ke depan, sambung Andi, sesuai komunikasi dengan Bupati Zahir, sejarah situs peninggalan Jepang yang menjadi Cagar Budaya ini juga sedang di susun oleh Dr Phil Ichwan Azhari seorang sejarawan sehingga pada saat nya para pengunjung dapat mengetahuinya, sehingga para pelajar, peneliti, penulis dan pemerhati cagar budaya lebih mudah mendalaminya.

Selain dari pada itu kata Andi pemerintah daerah dan masyarakat harus kompak untuk membangun Hospitability atau memulai menerapkan budaya pelayanan dan keramah tamahan kepada sesama masyarakat dan pengunjung sekaligus Issu rasis dihilangkan agar objek wisata cagar budaya ini tumbuh dan berkembang menjadi salah satu kekuatan pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat.

Untuk mencapai objek wisata Kampung Jepang cukup gampang. Ada tiga pintu utama yang bisa anda lalui, baik roda dua maupun roda empat. Jika dari Kota Medan, pengunjung bisa masuk melalui jalur Simpang TIga Kuala Tanjung atau dari simpang tiga Simpang Gambus. Dari Simpang Empat Limapuluh, objek wisata dapat ditempuh lebih kurang 30 menit melalui jalan hotmix.

Komentar

Loading...