Pesona Gua Aek Badak Tapsel

KEINDAHAN : Gua Aek Badak, di Desa Aek Badak Julu, Kecamatan Sayur Matinggi, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel). (foto/thoriq)
KEINDAHAN : Gua Aek Badak, di Desa Aek Badak Julu, Kecamatan Sayur Matinggi, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel). (foto/thoriq)

MEMBICARAKAN keindahan alam Sumatera Utara memang tiada habis-habisnya. Banyak saja tempat-tempat yang membuat mata takjub memandang keindahannya. Salah satunya Gua Aek Badak, di Desa Aek Badak Julu, Kecamatan Sayur Matinggi, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) atau berada di pesisir Barat Sumatera.

Gua Aek Badak terdapat tiga titik lokasi yang sama. Gua Aek Badak satu memiliki panjang 100 meter, sedangkan Aek Badak dua berjarak 50 meter dari lokasi awal. Hanya saja, untuk mencapai lokasi kedua, wisatawan harus ekstra tenaga tambahan karena harus melewati mendaki dan terjal. Sedangkan gua ketiga berada agak berjauhan.

Keindahan Gua Aek Badak membuat wisatawan kagum, apalagi pantulan-pantulan cahaya yang menembus Stalaktit (jenis speleothem/mineral sekunder yang menggantung dari langit-langit gua kapur. Ia termasuk dalam jenis batu tetes) dan Stalaktit (Jenis speleothem /mineral sekunder yang membentuk suatu gundukan di lantai gua).

Untuk mencapai dalam gua, wisawatan sebaiknya harus didampingi gaet atau warga lokal, sebab banyak persimpangan-persimpangan yang ditemui. Namun jika anda sudah sampai di dalam, dipastikan enggan untuk beranjak pulang. Sinar cahaya yang menembus Stalaktit dan Stalakmit menciptakan cahaya  warna-warna sehingga memanjakan mata memandangnya.

Penulis mencoba menjajal perjalanan keindahan Gua Aek Badak, Minggu (10/9/2017) bersama rombongan warga asal Kota Padangsidimpuan. Tepat pukul 11.30 WIB, tim wisatawan bergerak menuju Desa Aek Badak Julu.  Sejumlah bahan perbekalan disiapkan, mulai dari air minum, lauk pauk, pemantik api hingga obat-obatan disiapkan sebagai bekal di perjalanan nantinya.

Dari Kota Padangsidimpuan lokasi wisata tidaklah jauh, hanya butuh 40 menit sudah sampai di titik pendakian kawasan Bukit Barisan. Sedangkan dari Kabupaten Madina waktu lebih lama 1 jam perjalanan.

Setibanya di titik pendakian, wisawatan melintasi jalur Masjid Nurul Sa’adah lalu berjalanan menembus jalan setapak. Udara dingin dan semilir angin menembus pepohonan perkebunan coklat, pisang hingga pohon karet yang dilintasi.

Setelah melintasi perjalanan kurang lebih 2 kilometer dan dua anak sungai yang membentang, perjalanan ekstrim dan curam harus kita lalui. Tak heran, banyak wisatawan lokal yang jatuh bangun karena curamnya medan yang ditempuh. Sebab, selain mengandalkan kekuatan kaki, kekuatan tangan menggenggam akar-akar kayu untuk mendaki juga harus terampil dan kuat. Namun, lelah itu terobati setelah kita sampai di Gua Aek Badak.

Kepala Desa Aek Badak Julu, Hotlan Lubis mengatakan, Gua Aek Badak terdapat di tiga titik Gua pertama sepanjang 100 meter yang memiliki banyak persimpangan. “Sebaiknya ditemani penduduk lokal, karena bisa tersesat karena banyak persimpangannya di dalam,” ungkap Hotlan.

Sementara Gua Aek Badak kedua berada tak jauh dari lokasi yang sama, namun lebih besar, namun agar lebih besar. “Hampir sama bentuk bebatuanya, namun gua kedua lebih besar,” terangnya.

Hotlan yang kebetulan berada di lokasi menemani sejumlah wisatawan untuk melihat lebih dekat keindahan gua Aek Badak. Suasana takjub-pun tergambar dari wajah-wajah wisatawan ketika cahaya senter mereka terpapar di Stalaktit dan Stalaktit. Cahaya merah, hijau,kuning , coklat terpapar memantul di dalam gua.

“Saya sudah lama mendengar gua Aek Badak, namun baru kali ini bisa melihat langsung keindahannya. Memang perjalanannya melelahkan, namun semua hilang setelah melihat indahnya bebatuan ini,” ungkap Parlin Siregar.

Dalam kesempatan itu Hotlan mengatakan, sudah selayaknya pemerintah pusat maupun daerah memperhatikan objek wisata gua Aek Badak. “Ya saya setuju agar objek wisata ini dikelola dan dibenahi, paling tidak jalur atau akses transportasi biar lebih mudah lagi,” katanya.

Hal ini juga ditegaskan Kades Hotlan, bahwa hampir setiap akhir pekan banyak wisawatan lokal maupun dari daerah luar yang mengunjungi daerah Aek Badak. “Yang datang ada saja setiap minggu kemari, kami dari aparatur desa juga melakukan pendataan dan memberikan informasi-informasi kepada yang datang agar lebih gampang,” terangnya. Hotlan berharap, aagar objek wisata gua Aek Badak mendapat perhatian dari pemerintah, terutama membuka jalur akses jalan. (thoriq)