Menteri KLHK Larang Pertambangan Emas Gunakan Merkuri

Medanmerdeka.com – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) kembali menegaskan penggunaan merkuri berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan. Rencana aksi untuk pengurangan dan penghapusan penggunaan merkuri sedang diimplementasi dan diharapkan bisa tercapai pada tahun 2030.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya bahkan menekankan, penggunaan merkuri pada kegiatan pertambangan emas sudah diharamkan.

“Untuk pertambangan emas tidak boleh lagi penggunaan merkuri,” kata Menteri Siti kepada wartawan di Jakarta, Jumat lalu (23/11/2018).

Merkuri umum digunakan pada aktivitas pertambangan emas untuk memisahkan logam emas dengan material lainnya. Merkuri juga digunakan saat pemurnian emas. Tak heran jika limbah tailing aktivitas pertambangan emas kerap mengandung merkuri dalam jumlah besar.

Saat ini diketahui ada beberapa tambang emas aktif yang beroperasi di Indonesia, di antaranya tambang emas Martabe di Batangtoru, Sumatera Utara, tambang Tujuh Bukit di Banyuwangi, Jawa Timur, dan tambang Grasberg di Papua.

Menteri Siti menyatakan pihaknya terus mewaspadai mewaspadai penggunaan merkuri di berbagai tempat di Indonesia. Sambungnya, untuk menghapus penggunaan merkuri di tanah air, pemerintah telah meratifikasi Konvensi Minamata melalui Undang-undang Nomor 17 tahun 2017 tentang merkuri.

Pemerintah Indonesia juga telah menyusun Rencana Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri pada tahun 2030. Selain itu pemerintah juga telah membetuk Komite Penelitian dan Pemantauan Merkuri.

Untuk menghapus penggunaan merkuri, salah satu upaya yang dilakukan adalah transformasi sosial dan ekonomi. Masyarakat yang bergantung pada tambang emas dibina untuk mengalihkan mata pencaharianya pada usaha yang lebih ramah lingkungan

“Di dua lokasi di Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan, berkat dukungan akademisi organisasi masyarakat sipil, masyarakatnya bisa beralih menjadi petani hutan sosial,” katanya.

Menteri menambahkan upaya Indonesia untuk menghapus penggunaan merkuri baru saja dilaporkan pada konferensi negara-negara yang meratifikasi Konvensi Minamata (COP) ke 2 di  Jenewa, Swiss 19-23 November 2018.

Medicuss Foundation, organisasi kemanusiaan yang digawangi dokter dan tenaga kesehatan memperingatkan bahaya merkuri bagi kesehatan. Peningkatan konsentrasi merkuri di dalam tubuh bisa membuat menurunnya kecerdasan dan kelumpuhan syaraf yang berujung pada kelumpuhan.

“Gejalanya mirip dengan penyakit alzheimer, dimana penderita mengalami penurunan kemampuan gerak, berpikir, bicara dan daya ingat,” kata Co Founder Medicuss Foundation, dokter Josseph F William.

Dia mengingatkan, pengendalian merkuri harus menjadi perhatian semua pihak. Penelitian yang dilakukan Medicuss Foundation mengungkapkan kadar merkuri dalam tubuh masyarakat di lokasi yang dekat penambangan emas sudah jauh di atas ambang rujukan. Menurut William, dari ambang rujukan maksimal 9 mikrogram per liter, ada penduduk yang di dalam tubuhnya terdapat merkuri sebanyak 127 mikrogram per liter.

“Kondisi itu ditemukan di Gunung Botak. Di tempat-tempat lain seperti di Cisitu atau Sekotong Lombok, kasus seperti itu juga ditemukan,” katanya.

William melanjutkan, di lokasi tersebut, penduduk yang menunjukkan gejala menderita penyakit akibat kelebihan kadar merkuri di dalam tubuh juga bisa dengan mudah ditemukan.(ir/mm)

Comment