Dirjen Kebudayaan Dukung Deli Heritage

Pemko Medan Belum Tetapkan Objek Cagar Budaya

Pertemuan pemerhati cagar budaya Kota Medan, Sumatera Utara, memperkenalkan Pusat Studi Deli Heritage (PSDH), di Medan.(Foto/MEDANmerdeka/Ist)

MEDAN - Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Dr Hilmar Farid, mengingatkan tugas utama pelestarian bangunan cagar budaya adalah, bagaimana kita mampu menciptakan narasi kreatif bahwa cagar budaya sesungguhnya adalah sumber dana, bukan malah menjadi beban anggaran.

“Kunci pelestarian cagar budaya adalah kemampuan memanfaatkannya secara maksimal sebagai sumber dana,” tegas Hilmar Farid, saat tatap muka dengan pemerhati cagar budaya, kemarin di Museum Perkebunan Medan.

Pertemuan tersebut digagas Dirut PTPN-2, Dr Muhammad A Gani,  sekaligus memperkenalkan “Pusat Studi Deli Heritage” (PSDH).

PSDH dibentuk beberapa pemerhati cagar budaya di Medan, Sumatera Utara, diantaranya Dr Phil Ichwan Azhari dan Dr Panji Suroso (Unimed), Dr Edy Ikhsan, Dr Suprayetno, Dr Fikarwin Zusca, Dr Isnen Fitri (USU), Dr Leyla Khairani (UMSU), Choking Susilo Sakeh (Jurnalis) dan beberapa lainnya.

Hilmar Farid berharap, PSDH mampu menyusun narasi kreatif tentang ratusan cagar budaya di daerah ini, sekaligus mengubah mindset pemerintah daerah terhadap cagar budaya.

Berdasarkan data dari para pemerhati, di Kota Medan saja terdapat sedikitnya 1.231 objek cagar budaya. Namun yang sudah terdokumentasi dengan baik, baru sekitar 118 objek.

Sayangnya, Perda Kota Medan No. 2/Tahun 2012 tentang Pelestarian Bangunan dan/atau Lingkungan Cagar Budaya, belum menetapkan objek cagar budaya dimaksud.

Hilmar menyambut baik keterlibatan korporasi (PTPN 2) dalam upaya pelestarian dan pemanfaatan cagar budaya di wilayah Deli, bersama para pemerhati dengan membentuk PSDH tersebut. “Keterlibatan PTPN-2 tentu sangat kami apresiasi,” ujarnya.

Sementara itu Dirut PTPN2, A. Gani, menjelaskan Pusat Studi Deli Heritage merupakan upaya merawat objek cagar budaya di kawasan bekas perkebunan.

“Kami juga akan mengajak BUMN Perkebunan di daerah ini untuk ikut bersama,” kata Gani.

Dijelaskannya, Sumatera Utara -- khusus Kota Medan -- tak akan segagah seperti sekarang ini, jika pada abad 18 lalu Belanda tidak membuka perkebunan di Tanah Deli.

Dan faktanya, perkebunan di Deli yang konon merupakan revolusi perkebunan terbesar dalam sejarah perkebunan di dunia itu, telah meninggalkan banyak ‘warisan’ berharga. Baik berbentuk aset, dan juga  --  yang sangat penting --  adalah kultur.

Ada banyak kajian tentang perkebunan Deli tersebut. Akan tetapi, masih banyak pula yang terserak dan terabaikan, termasuk sosok masyarakat ‘Jawa Deli’. “Kesemuanya itu sangat penting untuk ditelaah lebih intens dalam pembangunan bangsa ke depan,” jelas Gani.

Direktur Pussis Unimed Dr Phil Ichwan Azhari yang terlibat intens dalam pembentukan Pusat Studi Deli Heritage, menambahkan Jawa-Deli yang dimaksudkan bukan dalam artian geografis.

Deli dalam konteks Jawa-Deli yang dimaksudkan, adalah wilayah komunitas orang Jawa di kawasan perkebunan yang ada di seluruh Sumatera Utara. Jadi, “Orang dan budaya Jawa di Langkat atau pun Simalungun, secara historis masuk dalam terminologi Jawa-Deli tersebut,” urai Ichwan.

Salah satu kegiatan yang akan dilakukan adalah menginventarisir  semua kajian baik berupa skripsi, tesis, disertasi, buku, laporan penelitian, karya ilmiah, karya sastra,  klipping koran, foto, film, arsip dan lainnya yang berjumlah ribuan, berkaitan tentang keberadaan komunitas Jawa Deli dan warisannya di Sumatera Utara.

Ichwan menyebutkan, arsip di KITLV  Leiden,  juga di Tropen Museum Amsterdam  tentang Java di Deli banyak yang belum dieksplorasi untuk riset. Misalnyam, Koran “Soeara Djawa” terbitan Medan di KITLV Leiden. Dari koran ini diketahui, adanya elit-priyayi Jawa yang datang dan bekerja di Deli.

“Yang datang ke Deli bukan hanya kaum Koeli, tapi juga perantau elit kaum priyayi yang bekerja sebagai kerani (pegawai) dan juga dokter di perusahaan perusahaan perkebunan di Deli. Dinamika para elit Jawa di Deli ini belum diteliti. Koran Soeara Djawa itu sudah saya bukukan tapi belum diterbitkan”.

Di koran ‘Soeara Djawa’ ada banyak nama tokoh Jawa di Deli di sebut. Juga jangan dilupakan, Proklamasi Kemerdekaan RI pertama kali dikumandangkan juga di tempat tokoh Jawa pendiri perguruan Taman Siswa.

Diharapkan, kelak ada situs “Jawa Deli Heritage” yang bisa dijadikan semacam "pusat kegiatan". Lokasinya tidak harus di pusat kota, idealnya lokasi situs ini di kawasan di mana orang Jawa Deli masih atau pernah tinggal dan beraktifitas. “Mungkin bisa menggunakan  bekas kantor perkebunan yang banyak tidak terpakai, misalnya di daerah Tandem”.

Dalam kunjungannya ke Medan, Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid juga berkesempatan mengunjungi beberapa objek cagar budaya milik PTPN-2 di Medan, Deliserdang dan Langkat.

Penulis:
Editor: Redaksi

Baca Juga