Lewat “Sajak-Sajak Orang Laut”

Sastrawan Sumut Ikrarkan Perlawanan Terhadap Pemerintah

“Sajak-Sajak Orang Laut” yang diluncurkan Sabtu (23/11) di Gedung Tari Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU). (foto/Istimewa)

MEDAN -  Awal  2019 Forum  Sastrawan  Deliserdang  (Fosad) bekerjasama dengan komunitas Lingkar Nalar Indonesia (LNI) melakukan ekspedisi “Telusur Jejak Budaya Orang Laut” di Desa Perlis, Kelantan dan Teluk Mengkudu, Kabupaten Langkat.

Salah satu hasil dari ekspedisi itu adalah terbitnya satu buku antologi puisi bertajuk “Sajak-Sajak Orang Laut” yang diluncurkan Sabtu (23/11) di Gedung Tari Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU).

Buku berisi 200 sajak dari 26 penyair dan masyarakat pemuisi itu, adalah seri pertama dari program penulisan 1000 sajak orang laut yang digagas Fosad dan LNI.

Namun, lebih dari pembahasan terhadap sajak-sajak yang terhimpun di dalam buku tersebut, peluncuran buku justru melahirkan ikrar perlawanan terhadap ketidakpedulian pemerintah terhadap tergerusnya seni budaya dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Ikrar perlawanan ini muncul pada saat berlangsungnya sesi diskusi buku yang menghadirkan pembicara Zaidan BS, Wan Hidayati dan Mihar Harahap.

H. Mahyuddin Lubis selaku moderator bahkan sampai kewalahan menutup acara karena seratusan lebih peserta yang hadir mengucungkan tangan meminta waktu untuk bicara.

“Sudah saatnya kita para penyair, sastrawan dan seniman Sumatera Utara menyatakan sikap yang tegas terhadap ketidakpedulian pemerintah atas tergerusnya seni budaya dalam prioritas yang dijalankan pemerintah sekarang ini,” tegas Jones Gultom, seorang penanggap diskusi.

Sementara itu, Dwi Budiati Teruna secara lebih kongkrit menawarkan gerakan perlawanan itu dengan melakukan aksi nyata.

“Kita buat forum khusus yang membicarakan problem yang kita hadapi saat ini. Lalu kita susun resolusi dan kita sampaikan kepada pemerintah,” katanya.

Diskusi buku “Sajak-Sajak Orang Laut” semakin panas ketika sejumlah seniman lain juga menyatakan hal senada.

“Ketidakpedulian pemerintah itu semakin jelas di Sumatera Utara. Pemprop.Sumut sampai saat ini tak pernah menaruh perhatian serius terhadap pembangunan seni budaya di daerah ini,” kata Hafidz Taadi.

“Kita memang perlu melakukan gebrakan agar mata pemerintah membuka terhadap realitas ini. Pemprop.Sumut jangankan membantu aktivitas seni budaya, terhadap satu-satunya gedung kesenian yang ada saja mereka tak peduli. Padahal gedung kesenian TBSU kondisinya sudah sangat memprihatinkan,” kata Jaya Arjuna, menimpali.

Peluncuran buku “Sajak-Sajak Orang Laut” ini, selain diisi dengan musikalisasi puisi oleh Lingkar Nalar Indonesia (LNI), pembacaan puisi oleh Rahmi Avira Elka, Mawardah serta mahasiswa/I FKIP UISU dan penampilan spesial dari  Bung Kamal Nasution.

Kegiatan ini dihadiri puluhan seniman Sumatera Utara, Ketua Majelis  Kesenian Medan (MKM), Choking Susilo  Sakeh, Ketua Dewan Kesenian Sumatera Utara (DKSU), Baharuddin Saputra, Ketua Komunitas Sastra Binjai (Kosambi) Tsi Taura, Ketua KBKC, Aswati Al Faiq, bakal calon Wakil  Wali Kota Tanjungbalai  H. Sulben Siagian, serta para mahasiswa dari UISU, Unimed, UMN dan lain-lain.

Diakhir akhir acara Ketua Fosad Mihar Harahap, menyatakan semua pendapat yang berkembang dalam diskusi akan dirangkum dan diolah sebagai bahan bagi pernyataan sikap  seniman Sumatera  Utara yang akan diserahkan kepada Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi.

“Pada intinya kita sepakat atas ikrar perlawanan budaya yang disampaikan teman-teman. Sudah saatnya memang pemerintah, khususnya pemerintah Provinsi Sumatera Utara menaruh perhatian dan mendukung aktivitas seni budaya di daerah ini,” tegas S.Satya Dharma. (rel)

Komentar

Loading...