Pusat Studi Deli Heritage

Upaya Merawat Sejarah

MEDAN - APAPUN, Sumatera Utara  --  terkhusus Kota Medan  --  tak akan segagah seperti sekarang ini, jika pada abad 18 lalu Belanda tidak membuka perkebunan di Tanah Deli. Dan faktanya kemudian, perkebunan di Deli yang konon merupakan revolusi perkebunan terbesar dalam sejarah perkebunan di dunia itu, pastilah meninggalkan banyak ‘warisan’ berharga. Baik berbentuk aset, dan juga  --  yang sangat penting --  adalah kultur.

Ada banyak kajian tentang perkebunan Deli tersebut. Akan tetapi, masih banyak pula yang terserak dan terabaikan, termasuk sosok masyarakat ‘Jawa Deli’, meski sesungguhnya yang terabaikan itu sangat penting untuk ditelaah lebih intens dalam pembangunan bangsa ke depan.

Pertanyaannya kemudian, siapakah yang mau mengurus hal-hal penting dan terabaikan dari sejarah panjang perkebunan Deli tersebut?

Bermula dari perbincangan Dr M. Abdul Gani (Dirut PTPN 2), Dr Sri Hartini (Direktur Eksekutir Museum Perkebunan Indonesia) dan Dr Phil Ichwan Azhari (Direktur Pussis Unimed), melahirkan gagasan perlunya ada sebuah lembaga kajian tentang perkebunan Deli dan etnis Jawa Deli.

Berkaitan itu, dilaksanakan focus grup discussion di Aula Museum Perkebunan Indonesia Medan, pada Senin (17 Juni 2019). FGD yang menghadirkan Dr MA Gani, Dr Sri Hartini, Dr Hasril Hasan (Direktur PPKS Medan), Dr Phil Ichwan Azhari, Dr Edy Ikhsan (FH USU), Dr Suprayetno, Dr Ratna dan Dr Fikarwin Zuska (FIB USU), Dr Panji Suroso dan Dr Leyla Khairani (Unimed) serta Yono Jede (penggiat kesenian Jawa Deli) dan Choking Susilo Sakeh (jurnalis senior), disepakatilah pembentukan “Pusat Studi Deli Heritage”.

Upaya Merawat Sejarah

Menurut Ichwan, Jawa-Deli yang dimaksudkan bukan dalam artian geografis. Deli dalam konteks Jawa-Deli yang dimaksudkan, adalah wilayah komunitas orang Jawa di kawasan perkebunan yang ada di seluruh Sumatera Utara. Jadi, “Orang dan budaya Jawa di Langkat atau pun Simalungun, secara historis masuk dalam terminologi Jawa-Deli tersebut,” urai Ichwan.

Salah satu kegiatan yang akan dilakukan adalah menginventarisir  semua kajian baik berupa skripsi, tesis, disertasi, buku, laporan penelitian, karya ilmiah, karya sastra,  klipping koran, foto, film, arsip dan lainnya yang berjumlah ribuan, berkaitan tentang keberadaan komunitas Jawa Deli dan warisannya di Sumatera Utara.

Ichwan menyebutkan, arsip di KITLV  Leiden,  juga di Tropen Museum Amsterdam  tentang Java di Deli banyak yang belum dieksplorasi untuk riset. Misalnyam, Koran “Soeara Djawa” terbitan Medan di KITLV Leiden. Dari koran ini diketahui, adanya elit-priyayi Jawa yang datang dan bekerja di Deli.

“Yang datang ke Deli bukan hanya kaum Koeli, tapi juga perantau elit kaum priyayi yang bekerja sebagai kerani (pegawai) dan juga dokter di perusahaan perusahaan perkebunan di Deli. Dinamika para elit Jawa di Deli ini belum diteliti. Koran Soeara Djawa itu sudah saya bukukan tapi belum diterbitkan”.

Di koran ‘Soeara Djawa’ ada banyak nama tokoh Jawa di Deli di sebut. Juga jangan dilupakan, Proklamasi Kemerdekaan RI pertama kali dikumandangkan juga di tempat tokoh Jawa pendiri perguruan Taman Siswa.

Diharapkan, kelak ada situs “Jawa Deli Heritage” yang bisa dijadikan semacam "pusat kegiatan". Lokasinya tidak harus di pusat kota, idealnya lokasi situs ini di kawasan di mana orang Jawa Deli masih atau pernah tinggal dan beraktifitas. “Mungkin bisa menggunakan  bekas kantor perkebunan yang banyak tidak terpakai, misalnya di daerah Tandem”.

Dr M. Abdul Gani sendiri sangat gembira atas hasil FGD tersebut. Dia berharap, Pusat Studi Deli Heritage mampu menjadi sarana untuk merawat salah satu sejarah besar Sumatera Utara. “Saya bangga dan optimis dengan tekad kita bersama ini,” ujar Gani. (Choking Susilo Sakeh).

Penulis:
Editor: Redaksi

Baca Juga