Terbaikan Ditengah COVID-19

Abdul Hasan, Senja di Kios Tua…

Abdul Hasan Siregar (67) hidup sebatang kara dii kios reot, Kota Padangsidimpuan. (Foto: MEDANmerdeka/Amir0

HUJAN gerimis dan hembusan angin kencang di Kota Padangsidimpuan, sore tadi mengusik istirahat Abdul Hasan Siregar (67), di kios rokok yang mulai tampak lapuk di Jalan Danau Kerinci, Kelurahan Wek V Siborang, Sidimpuan Selatan.

Sesekali tangan kanan lelaki rentah ini membetulkan kain sarung yang tampak lusuh sebagai pintu. Paling tidak, kain ini mampu meredam dinginya udara malam.

Aslinya Hasan adalah warga Padang Matinggi, Kota Padangsidimpuan. Namun beberapa tahun terakhir pria ini hidup sebatang kara, ditinggal cerai istri dan tiga anaknya.

Sejak itu Hasan mulai bertarung hidup dengan berjualan rokok, tak jauh dari Kantor Lurah WEK V Siborang atau sekira 100 meter dari kantor pemerintahan. Dengan modal kios yang dibelinya Rp250 ribu, Hasan berjualan rokok dan jajanan.

Kala itu kondisi fisik Hasan, boleh dikata masih segar. Keuntungan dari hasil dagangannyapun masih mencukupi untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari. Paling tidak, sehari Hasan bisa makan tiga kali.

Tahun berganti, Hasan akhirnya terserang penyakit stroke. Tangan kirinya jadi susah digerakkan. Kesehatan pria ini semakin hari kian melemah, seiring melapuknya kios berukuran 50 cm x 150 cm sekaligus dijadikan rumah tingggalnya sehari-hari.

Selain tidak memiliki pintu, kios mulai tampak miring karena tiang penyanggahnya sudah lapuk. Atap yang bocor hanya ditambal pakai kertas dan pelastik bekas. Boleh dikata, untuk tidur Hasan harus menekuk kaki, karena ruangan yang sempit dan pengap.

“Ya sehari paling habis empat bungkus rokok, ya lumayan untung 8 ribu buat makan,” kata Hasan, menitiskan air mata yang membasahi pipinya yang keriput termakan usia.

Namun Hasan masih bersyukur, kadang kala ada saja pembeli yang merasa kasihan melihatnya, lalu kembalian uang belanja diberikan sebagai sedekah untuknya mengisi perut sejengkal.

Tak pernah terpikirkan Hasan untuk kembali berkumpul bersama istri anak anak-anaknya. Hasan masih berharap ada saja orang yang memberikan kios yang layak sehingga dia bisa bertahan istirahat dan berjualan rokok seperti pedagang-pedagang lainya.

Namun begitu Hasan tak pernah menyerah maupun meminta bantuan langsung tunai (BLT) sebagaimana yang didapatkan warga lainya di tengah pandemi COVID-19. “Jangankan diberi BLT, ditanyo aja saya tidak pernah. Kantor lurah dekat di situ…” kata Hasan, sambil menujuk.

Hari semakin larut, Hasan pamit ke sungai Batang Ayumi yang sehari-hari tempatnya membersihkan tubuh, mencuci hingga buang air sejauh 300 meter dari tempatnya. Dengan langkah tertatih-tatih, Hasan yang sudah senja melangkahkan kaki.