Hati-Hati Jadi Korban Pemerasan Seksual Online

Ilustrasi/net.

MEDAN - Pemerasan seksual online atau sextortion kian marak terjadi di Indonesia. Motifnya pun beragam, dari ekonomi, dendam karena putus cinta hingga penyimpangan seksual.

Modus yang digunakan juga bermacam-macam. Dari mulai metode phising dengan mengirim link lewat chat korban, hingga melalui penawaran video call sex (VCS).

"Kita melihat banyak di medsos banyak menawarkan VCS dengan berbayar dan sebagainya. Itu berbahaya, karena video itu justru bisa direkam kemudian disebarkan. Itulah sebenarnya sarana orang-orang itu untuk memeras. Kemudian disengaja, itu mereka merekam kegiatan aktivitas seksual kita kemudian disebarkan, dan dia mengancam kalau nggak ngasih duit atau memberikan sejumlah uang disebarkan," kata Kasubdit 1 Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri, Kombes Pol Reinhard Hutagaol, melalui dialog 'Waspada Ancaman Pemerasan Seksual di Internet' yang disiarkan kanal YouTube Siber TV, (5/3/2021).

Salah satunya, seperti kasus yang terjadi di Kota Medan, Sumatera Utara. Kasus sextortion di Medan itu menimpa sepasang suami istri.

Reinhard mengungkapkan, peristiwa itu bermula saat seorang pria di Medan melakukan VCS dengan seseorang yang diketahuinya lewat media sosial.

Si pria ini mengaku dan bertingkah menyerupai seorang perempuan saat berinteraksi dengan si suami.

Karena efek tipu-tipu pelaku pria yang 'menjelma' menjadi perempuan tersebut. Si suami sampai melakukan aksi tak senonoh di depan kamera.

Tanpa diketahuinya, ternyata aktivitas seksualnya tersebut direkam pelaku. Pelaku pun kemudian mengancam dan memeras si suami.

"Jadi suaminya berkhayal bertemu dengan seorang perempuan di medsos dengan laki-laki ini. Terus dia sampai VCS, sampai terekam gambarnya, diancam. Kemudian mulai start dia memberikan uang dengan transfer dan sebagainya," kata Reinhard.

Ternyata, kejahatan pelaku tak berhenti di situ. Reinhard mengungkapkan, sang pelaku juga menyasar istri korban dengan modus yang sama. Alhasil, suami dan istri pun menjadi korban dari pelaku yang sama.

"Tapi tidak sampai di situ. Si pelaku ini mengalihkan korbannya ini kepada istri si korban. Jadi kuncinya gini, jadi si suami itu menganggap berhubungan dengan seorang perempuan, kemudian si istrinya jadi korban si pelaku ini juga," tuturnya.

"Dengan pelaku yang sama. Dan sama-sama mereka mengeluarkan video yang tidak senonoh dan diancam disebarkan. Dan dua-duanya kemudian diperas," imbuh Reinhard.

Reinhard mengatakan, setidaknya sepasang suami istri itu telah diperas hingga miliaran rupiah. Keduanya, kata dia, baru melapor setelah kehabisan uang.

"Jadi kebanyakan yang ngelapor itu orang yang udah capek. Udah lelah sama keadaan ini. 'Saya udah abis duit. Mau gimana lagi, saya lapor polisi lah'. Tapi saya yakin banyak sekali yang belum mau melapor. Karena malu," kata dia.

Menurut Reinhard, memang tak banyak korban sextortion yang berani melapor. Kebanyakan dari mereka malu melaporkan kasusnya. Karena itu, dia mendorong korban sextortion untuk melapor ke kepolisian.

"Kalau nggak ada pelapornya susah. Kita start dari mana (untuk menangkap pelaku)," ujar Reinhard.

Ancaman Pasal Pelaku Sextortion

Reinhard menjelaskan ada sejumlah pasal yang digunakan untuk menjerat pelaku sextortion. Beberapa di antaranya, Pasal 27 dan Pasal 35 UU ITE.

Kalau kita lihat di UU ITE kita ada Pasal 27 ayat 4. UU ITE. Yaitu setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan atau mentransmisikan membuat dapat diaksesnya informasi elektronik yang memiliki muatan pemerasan. Ancaman pidananya 6 tahun atau denda Rp 1 miliar. Ada juga Pasal 35, soal apabila seseorang membuat dirinya seolah menjadi orang lain.

"Kebanyakan orang-orang itu kan menggunakan foto orang lain. Nah korban ibu-ibu nih kebanyakan terpengaruh sama foto, misalnya cowok ganteng atau orang bule dari Amerika, tentara. Nah itu Pasal 35 ancamannya berat 12 tahun dan dendanya Rp 12 miliar," imbuh Reinhard.

Selain itu, pelaku juga bisa dijerat UU Pornografi. Ancaman hukumannya hingga 12 tahun penjara.

"Terakhir UU Pornografi. Jadi apabila seorang membuat, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan dan sebagainya, konten yang berisi persenggamaan, kekerasan seksual, atau masturbasi dan ketelanjangan alat kelamin apalagi pornografi anak itu diancam 12 tahun penjara atau dendanya Rp 250 juta dan paling banyak Rp 6 miliar," paparnya.