Kisah Faris yang Bertahan 6 Tahun Melawan Hidrocepalus

Medanmerdeka.com - Bocah lelaki usia 6 tahun, Ahmad Faris, anak dari pasangan Anisa (47) dan Siswanto (52) ini, sejak lahir terpaksa terus terbaring ditempat tidur yang harusnya di usianya adalah saatnya bermain dan bersosialisasi dengan teman sebayanya.

Namun takdir sudah memutuskan, Ahmad Faris yang hingga kini diberi kekuatan masih bisa mendengarkan siapa saja yang datang memberikan sebagian rezekinya kepadanya.

Ibu Faris, Anisa mengatakan kondisi Faris sudah terjadi sejak ia dilahirkan kedunia pada 11 Maret 2013 lalu, melalui proses operasi, dokter sudah menyatakan bahwa Faris memiliki kelainan pada kepalanya. Itu terlihat karena bentuk kepalanya berbeda dengan anak yang baru lahir pada umumnya. Dan langsung keluarga disarankan dokter untuk membawa Faris ke Rumah Sakit Adam Malik.

"Namun, karena dalam 4 hari dirawat di RS Adam Malik tidak ada penanganan, berhubung saya dan suami saya juga mau kerja jadi kami bawa pulang ke rumah," katanya pada Senin (31/12/2018) kepada Sejumlah jurnalis dari Medan saat mengunjungi Faris.

Nisa mengakui saat mengetahui anaknya mengalami kelainan, Nisa sangat terkejut dan perasaannya bercampur baur. Nisa sangat sedih, dan sempat putus asa. Namun, dia menyadari bahwa ini ujian dari Tuhan, Nisa meminta kepada Tuhan untuk memberikannya kekuatan dan limpahan rezeki untuk bisa merawat Faris.

"Awal hamilnya tidak ada merasakan apa-apa, namun ada polah saya yang berbeda yaitu setiap memasuki senja (Maghrib) saya setiap hari menyapu dan sisiran di luar rumah dan kemudian saya juga tidur di luar rumah," jelasnya sembari menunjuk beranda yang letaknya di luar rumah.

Nisa dan Siswanto yang menempati rumah sewa di Jalan Suripno Desa Purwodadi Dusun 11 Ladang Baru Gang Pinang Kecamatan Sunggal, Deliserdang ini saat ini terus memberikan perawatan terbaik buat Faris. Kendatipun keduanya tidak memiliki pekerjaan yang layak.

"Saya saat ini bekerja sebagai pembantu rumah tangga di perumahan, dan suami saya tidak bekerja lagi karena sudah sakit-sakitan juga, jadi lebih sering di rumah bersama Faris," ucapnya dengan raut wajah menahan tangis.

Dikatakanya, Faris anak bungsu dari 9 anaknya ini sempat dua kali hendak dioperasi, namun jalan terbaik dia memutuskan untuk merawatnya di rumah saja. Karena dia tidak siap melihat kondisi Faris harus menjalani operasi.

Kedatangan sejumlah anak muda peduli kemanusiaan tersebut, setidaknya memberi sedikit kebahagian bagi Nisa. Nisa menilai dengan kedatangan untuk menjenguk Faris adalah bentuk peduli dengan Faris dan dia mengucapkan terima kasih atas kunjungan dan telah memberi bantuan kepada anak istimewanya itu.

Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Medan, Erie Prasetyo mengatakan sangat mengapresiasi inisiatif dan kepedulian teman-teman wartawan terhadap Fariz. Ini dikatakanya merupakan aksi solidaritas dari sisi kemanusiaan.

"Mungkin lewat pemberitaan nantinya, teman-teman wartawan bisa menceritakan kisah Faris dan keluarga. Ini juga kewajiban bagi kami para insan pers. Saya juga sangat bangga kepada teman-teman wartawan yang antusias untuk membesuk Faris. Beberapa rekan selain dari insan pers juga ikut dalam aksi kemanusian ini. Saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang ikut membantu," kata Erie.

Erie juga bersyukur, pihak keluarga menyambut baik para jurnalis yang membesuk Faris. "Alhamdulillah, pihak keluarga menyambut baik kami para wartawan yang membesuk Faris. Kita doakan Faris lekas sembuh dan keluarga tetap semangat," tandasnya. (mm)

Penulis: May
Editor: Mauza

Baca Juga