Komisi VII DPR RI Gus Irawan Heran Premium Langkah di Sumut

DIALOG : Ketua Komisi VII DPR RI Gus Irawan Pasaribu berdialog dengan warga terkait kelangkaan BBM Premiun di sejumlah wilayah di Sumatera Utara.(foto:thoriq/mm)

DIALOG : Ketua Komisi VII DPR RI Gus Irawan Pasaribu berdialog dengan warga terkait kelangkaan BBM Premiun di sejumlah wilayah di Sumatera Utara.(foto:thoriq/mm)

Medanmerdeka.com – Ketua Komisi VII DPR RI, Gus IrawanPasaribu mengaku heran hilangnya BBM Premium di sejumlah SPBU di Sumatera Utara. Padahal menurutnya, kuota premium tahun 2017 Pertamina berkewajiban menyalurkan sebesar 12,5 miliar liter dan hingga saat ini yang terealisasi baru 50 persen.

“Ada indikasi unsur kesengajaan jika Pertamina tidak menjual Premium demi mengejar keuntungan dengan menjual jenis BBM jenis lain seperti Partalite,” pungkas Gus Irawan, Jumat kemarin (1/12) ketika melakukan kunjungan kerja di Padangsidimpuan.

Dikatakan Gus Irawan, jika dilihat dari persoalan yang terjadi di lapangan seperti kelangkaan bbm premiun saat ini di Sumatera Utara, jadi wajar saja kalau Pertamina ini dibilang rampas uang rakyat, karena ada Rp6 triliun lagi uang masyarakat yang tidak disalurkan melalui pemenuhan kuota Premium secara nasional.

Khusus untuk Sumatera Utara (Sumut), kuota penyaluran BBM jenis Premium pada 2017 sebanyak 1.6 miliar liter, namun realisasi hanya 492.000.000, sehingga apabila dihitung kerugian masyarakat Sumut akibat ulah dari Pertamina lebih kurang Rp1 triliun.

Bila mengacu ke Peraturan Presiden (Perpres) nomor 191/2014, maka ada tiga kategori BBM yaitu, BBM tertentu jenis minyak tanah, solar dan merupakan subsidi dari pemerintah kepada masyarakat. Selanjutnya, jenis khusus penugasan berupa BBM jenis ini termasuk premium dan BBM Umum, jenisnya Pertamax, Pertalite.”Untuk jenis pertama dan kedua, pemerintah wajib menyediakan dan menyalurkan BBM tersebut kepada masyarakat.

Selama ini, sambung Gus Irawan, Pertamina bahwa mengaku mereka tidak wajib lagi menyediakanBBM jenis Premium kepada masyarakat, namun ternyata pengakuan itu berbanding terbalik dengan kondisi yang terjadi saat ini.”Jangan bohongi pemerintah dan rakyat, katanya tidak perlu lagi menyediakan BBM Premium, tapi kenyataannya berbanding terbalik,”tandasnya.(thoriq/mm)

Comment