Diprotes Warga, Tunjuk Kepling Turun Temurun

Lurah Helvetia Tengah: Silahkan Lapor Kemana Saja

Sejumlah tokoh masyarakat Lk VI, Kelurahan Helvetia Tengah, Kecamatan Medan Helvetia, memprotes keputusan lurah yang menunjuk kepling secara turun temurun. (Foto: MEDANmerdeka/Warga)

MEDAN – Pengangkatan Kepling VI, Kelurahan Helvetia Tengah, Kecamatan Medan Helvetia, menuai protes warga. Selain menggantikan posisi ayahnya Lolom Efendi (60) yang pensiun, nama Rahma tidak masuk nominasi yang diusulkan warga, Senin (6/2/2020).

Aksi protes puluhan warga pertama kali ke kantor Camat Medan Helvetia untuk mempertanyakan hal ini kepada Camat Andy Mario Siregar. Oleh Andy Mario maka perwakilan warga diajak dialog di Kantor Lurah Beringin, yang posisinya tak jauh dari kecamatan.

Adapun perwakilan warga yang hadir, diantaranya H.Pinijan, H. Fuad, H.Darmaji, Sumantri, Sartono, Legiran, Hj Rohani, Susi dan sejumlah tokoh pemuda dan masyarakat lainnya.

Dalam pertemuan ini, warga memprotes atas pengangkatan Rahma sebagai Kepling VI yang menggantikan orang tuanya Lolom Efendi. Dijelaskan Sumantri, pertengahan Januari 2020 lalu, Kepling Lolom mengaku mengundurkan diri karena faktor usia.

Berdasarkan dialog bersama warga, maka diusulkan nama tokoh masyarakat untuk menggantikannya yakni H.Darmaji. Oleh Lolom, H,Darmaji dimintai melengkapi SKCK, Tes Urin, Kesehatan dan beragam surat lainnya. Dan, nama H.Darmaji juga sudah diusulkan ke Lurah Helvetia Tengah.

“Calon Kepling H.Darmaji sudah dibawa oleh Kepling Lolom untuk bertemu Pak Lurah, dan berkas semua sudah diserahkan sebagaimana persyaratan yang dibutuhkan. Namun mengapa Lurah menolak usulan warga hanya karena usia H.Darmaji 45 tahun lebih 3 bulan. Lurah membatalkannya karena usia lebih 3 bulan. Banyak Kepling di Medan yang usianya sampai 60 tahun lebih,” kata Sumantri.

Camat Medan Helvetia, Andy Mario Siregar tidak bisa memberikan keputusan dan meminta warga untuk menyelesaikan persoalan ini ke lurah. Namun dalam pertemuan dengan Lurah Helvetia Tengah, Barita Laut menegaskan tidak bisa membatalkan pengangkatan Rahma sebagai Kepling VI karena yang bersangkutan sudah sesuai dengan peraturan.

“Kalau bapak ibu keberatan, silahkan lapor kemana saja. Mau ke DPR, ke Wali Kota silahkan, untuk apa kita berdebat di sini tidak ada gunanya,” tegas Lurah sebagaimana ditirukan warga kepada medanmerdeka.com.

Yang menjadi pertanyaan warga, mengapa justru Rahma yang tak lain anak kepling Lolom? Hj. Rohani menduga, usulan nama H.Darmaji hanya formalitas permainan Lurah, Camat dan Kepling Lolom untuk memuluskan anaknya maju mengantikan posisi Kepling VI.

Atas keputusan sepihak Lurah dan Camat ini, masyarakat Lingkungan VI akan melaporkan hal ini ke DPRD Medan dan Plt Wali Kota Medan H.Akhyar Nasution. “Jika diperlukan jalur hukum, kami siap untuk menempuhnya,” tegas Sartono.

Padahal, sambung Hj Rohani, berdasarkan Perda Pengangkatan dan Pemberhentian Kepling Kota Medan, salah satunya berpendidikan minimal SLTA sederajat dan usia minimal 23 tahun dan maksimal 55 tahun pada saat pencalonan. “Ada apa, Pak H Darmaji dibilang Lurah usianya lebih padahal baru berusia 45 tahun,” katanya.

Komentar

Loading...