oleh

Mendulang Rezeki dari Lidi

LABUSEL – Lidi dari daun kelapa sawit yang awalnya dianggap limbah, kini menjelma menjadi komoditas bisnis menggiurkan. Warga Torgamba Labuhanbatu Selatan yang tinggal di sekitar perkebunan mulai melirik bisnis lidi kelapa sawit untuk dijual ke pengepul yang menjemput langsung ke rumah-rumah warga. Tak sebatas untuk bahan baku sapu lidi kebutuhan lokal. Kabarnya, lidi diekskpor ke luar negeri.

Tak heran, bila para ibu rumah tangga di sekitar perkebunan Torgamba banyak yang mendulang rezeki dari kegiatan meraut lidi. Harga jualnya di kisaran Rp 2000 per kilogram di kalangan pengumpul yang datang langsung ke rumah-rumah warga. Selanjutnya oleh pengumpul, lidi-lidi itu dijual ke penampung yang ada di Jalan By Pass Rantauprapat, Labuhanbatu, kemudian dijual ke Medan, Sumatera Utara.

Dari sana, lidi itu di ekspor ke sejumlah negara seperti Malaysia dan Uzbeiskistan untuk diolah menjadi bahan baku asbes dan kalsi book.Potensi pasar itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh para ibu rumah tangga yang tinggal berdekatan dengan areal perkebunan sawit. Lidi-lidi itu telah menjadi lahan bisnis industri rumah tangga yang tumbuh subur.

“Sehingga tak heran, tiap batangnya lidi begitu berharga,” kata Robin Pakpahan, salah seorang pengumpul lidi di Kotanopan.

Pria 45 tahun itu mengatakan, sejak setahun terakhir lidi memang banyak dipasok dari industri-industri rumah tangga dari daerah yang dekat dengan perkebunan sawit. Lidi-lidi itu sudah diraut, kering, dan bersih. Kalau sebelumnya warga yang membawa ke pengumpul, maka kini pengumpul yang mencari ke rumah-rumah warga karena persaingan di tingkat pengumpul sudah banyak.

“Harga lidi yang kering kami beli dari warga Rp 2100 per kilogram dan kami tolak ke penampungan Rp 2550 per kilogram dan yang basah kami beli ke warga Rp 2000 per kilogramdan kami tolak ke penampungan Rp 2400 per kilogram,” ujarnya.

Setiap bulannya, Robin Pakpahan mengantarkan lidi hasil pengumpulannya sebanyak 10 kali ke Rantauprapat dengan menggunakan mobil Suzuki Carry Pick Up dengan muatan sekitar 1,7 ton atau 1,5 ton sekali jalan, tergantung berapa banyaknya pasokan lidi yang dikumpul dari warga. Selanjutnya, setiap bulan sebanyak 2 kali truck container bermuatan 25 ton datang menjemput lidi ke penampung untuk dibawa ke pasar ekspor.

Meskipun setiap harinya ibu-ibu rumah tangga tidak dapat menghasilkan lidi kering dengan banyak, di sisi lain, bisnis tersebut juga telah ikut membantu meningkatkan perekonomian warga sekitar wilayah perkebunan.

“Ya paling tidak ada tambahanlah untuk membantu belanja dirumah,” kata Iin, peraut lidi warga Bloksongo . Perempuan 34 tahun itu mengaku setiap hari meraut sapu lidi kelapa sawit selesai beres-beres di rumah.

Di daerah Torgamba, sudah banyak ibu rumah tangga yang meraut lidi kelapa sawit untuk menambah pendapatan ekonomi keluarga. Terutama mereka yang bermukim dekat dengan areal perkebunan kelapa sawit. (snt)

News Feed