Nelayan Belawan Minta Penegak Hukum Tindak Pengusaha Pukat Trawl dan Centrang

Sejumlah kapal pukat trawl dan centrang bersandar di Pelabuhan Belawan. Kehadiran kapal penangkap ikan ini meresahkan nelayan kecil di Belawan, Sumatera Utara. (Foto/MEDANmerdeka/Awal Yatim)

BELAWAN – Ribuan nelayan di kawasan Medan Utara, Kota Medan, Sumatera Utara, menolak keras beroperasinya pukat trawl dan pukat cantrang. Kedua alat tangkap ini merusak habitat serta menghabiskan biodata yang masih anakan, sehingga mengakibatkan mata pencaharian nelayan terganggu.

Para nelayan tampak kecewa. Walaupun kedua jenis pukat trawl tersebut dilarang beroperasi di Pelabuhan Perikanam Samudera Belawan (PPSB), namun belum ada tindakan tegas penegak hukum terhadap pelaku usaha tersebut.

“Kami nelayan berharap Ditpolair Sumatera Utara untuk dapat menindak tegas terhadap kapal ikan yang mengunakan alat tangkap trawl dan cantrang,” kata Amsal (45), nelayan kecil warga Jalan Young Panah Hijau, Kecamatan Medan Marelan, Minggu (8/12/2019).

Dikatakan Amsal, keberadaan kapal pukat trawl dan centrang jelas telah meresahkan para nelayan yang mencari nafkah di laut Belawan. Kapak-kapal “keruk” ikan ini bahkan bebas keluar masuk di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan tanpa adanya tindakan dari aparat penegak hukum.

"Kita sama -sama mengetahui kalau pukat trawl  itu dilarang dan sekarang ini para pengusaha kapal ikan  yang berada di gabion Belawan akan mengoprasi pukat cantrang. Pengoprasian pukat trawl dan pukat cantrang sama, bedanya trawl mengunakan besi kura-kura sedangkan pukat cantrang mengunakan batu pemberat yang bisa hingga ke dasar laut," terang Amsal.

Amsal serta para nelayan berharap Ditpolair Polda Sumut untuk menindak tegas para pelaku usaha pukat trawl dan centrang. “Jika tidak ada tindakan yang dilakukan, kami akan aksi ke kantor Ditpolair Polda Sumut di Belawan,” tegas Amsal.

Komentar

Loading...