Pak Aryo Asal Blitar Terdampar Sebatang Kara di Sidimpuan

Pak Aryo Wiyono (90) asal Blitar, Jawa Timur, hidup sebatang kara.(foto: thoriq/mm)
Pak Aryo Wiyono (90) asal Blitar, Jawa Timur, hidup sebatang kara.(foto: thoriq/mm)

SEPEKAN terakhir cuaca di Kota Padangsidimpuan, Sumatera Utara, kurang bersahabat. Hujan deras, diiringi hembusan angin kencang membuat tubuh serasa menggigil. Namun kondisi al alam ini sudah hal biasa bagi Aryo Wiyono (90), yang hidup sebatang kara di gubuk reot berdinding papan berukuran 3 x 3 meter di Desa Purwodadi, Lk 2, Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua.

“Silahkan masuk, enggak usah malu-malu,” kata Pak Aryo, menyapa medanmerdeka.com yang mengunjunginya kemarin. Kebetulan pada saat kunjungan ini hujan baru saja reda, Aryo duduk seorang diri di atas ranjang papan lapuk sembari menatapi lantai rumahnya yang becek tergenang air. Sesekali matanya menerawang ke atap rumah melihat lubang-lubang yang sudah kerobos di makan usia.

Pak Aryo asli kelahiran pada tanggal 5 Maret 1927, Blitar, Jawa Timur . Sebelumnya, dia bersama warga sekampungnya berangkat merantau untuk mengubah hidup ke Kota Padangsidimpuan (sebelum pemekaran Tapanuli Selatan). “Saat itu saya masih lajang tahun 1954, ya tujuannya merantau mencari pekerjaan untuk mengubah nasib,” kenang Aryo, dengan suara parau.

Dengan modal semangat dan tenaga, Aryo bekerja serabutan, mulai dari bertani hingga bekerja ikut dengan orang untuk menerima upah. Selama di perantauan, pria asal Blitar ini menikah dengan gadis pujaannya bernama Waini, suku setempat. “Sewaktu menikah saya sempat bekerja di Losmen, upanya cukup buat makan sehari-hari,” kenangnya.

Namun kehidupan Aro dan Waini tidak ber-ubah, suami istri ini masih terus bekerja siang dan malam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan pernikahannya juga tidak dikarunia keturunan hingga pujaan hatinya Waini menghembuskan nafas terakhir. “Kami tidak punya anak, yang ada hanya anak angkat,” kata Aryo. Namun anak angkat laki-lakinya tersebut sudah berkeluarga dan puluhan tahun tidak pernah memberi kabar.

Kini diusianya yang sudah senja, Aryo sudah tak mampu untuk bekerja lagi. Bahkan, hidupnya mengandalkan belas kasih warga Desa Purwodadi, Kecamatan Padangsidimpuan Batunadua. “Tidak ada yang tinggal, hanya tubuh sebatang kara ini yang tersisah,” katanya dengan liangan air mata.

Bahkan, pertapakan rumah yang ditinggalinyapun hanya dipinjamkan warga yang peduli akan nasibnya. Sehari-hari Aryo hanya makan nasi putih campur garam.Jika ada yang mengantarkan makanan dengan lauk ikan itu semua pemberian warga yang kebetulan datang mengunjunginya.

Ketika disinggung apakah ada keinginan untuk pulang ke kampung halamannya di Blitar, Aryo Wiyono hanya bisa diam menundukkan wajah. Sesekali tangannya yang keriput dan gemetar mengelus kain sarung hijau yang dikenakannya. “Inipun hanya pemberian orang,” katanya lirih.(thoriq/mm)