Perempuan Tabagsel dan LPA Sidimpuan

Polres Didesak Ungkap Pelaku Penyiraman Air Panas yang Menewaskan Balita 19 Bulan

Komunitas Kaum Perempuan Tabagsel dan Lemabaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Padangsidimpuan, menyerahkan bantuan kepada Permadi Tambunan (29) dan istriya Jamia Siregar (27). (Foto:MEDANmerdeka/Amir)

SIDIMPUAN – Komunitas Kaum Perempuan Tabagsel dan Lemabaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Padangsidimpuan, menyampaikan dukungan moril kepada Permadi Tambunan (29) dan istriya Jamia Siregar (27) yang baru saja ditinggal putri putri bungsunya Silmi Rindu Tambunan yang masih berusia 19 bulan.

Silmi meninggal dunia pada Kamis 19 Maret lalu, setelah dua pekan di rawat di RSUD Kota Padangsidimpuan, akibat luka bakar air panas di sekujur tubuhnya. Siapa pelaku dibalik kasus penganiayaan balita ini hingga kini belum jelas.

Ketua Komunitas Kaum Perempuan Tabagsel, Taty Ariani Tambunan mengatakan kehadirannya untuk memberikan dukungan moril kepada keluarga yang ditinggal.

"Kami datang kesini untuk mengucapkan belasungkawa kepada orangtua korban atas meninggalnya putri kedua mereka," kata Taty Ariani Tambunan, Senin (23/3/2020).

Taty berharap, kedua orang tua korban tetap bersabar dalam menghadapi cobaan ini, serta menyerahkan sepenuhnya kasus hukum tersebut ke pihak kepolisian.

Oleh karena itu, Taty yang juga anggota DPRD Sidimpuan didampingi LPA Anak Sidimpuan mendesak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus ini sejelas-jelasnya.

“Kita berharap kepolisian segera mengungkap kasus ini terang benderang dan transparan. Saya menilai, ini kejahatan luar biasa yang dilakukan terhadap balita,” Tegas Taty didampingi Ketua LPA Kota Padangsidimpuan, Friska Harahap.

Sebelumnya, Kasat Reskrim Polres Padangsidimpuan AKP Bambang Herianto mengatakan pihaknya sudah berjalan dan saat ini sedang dalam tahap pemanggilan saksi-saksi " Masih dalam tahap pemanggilan saksi-saksi," Kata Bambang.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya,  Permadi Tambunan (29) dan Fitri Jamia Siregar (27) merasa terpukul atas peristiwa yang menimpa putrinya. “Enggak taulah pak, entah siapa yang begitu kejam sama anak kami,” kata Fitri, sembari menahan tangis kepada medanmerdeka, pada Kamis (5/3/2020).

Diceritakan Permadi, kasus yang menimpa putrinya Silmi Rindu terjadi Rabu (4/2/2020) sekira pukul 11.00 WIB. Hari itu, Permadi yang berprofesi sebagai buruh bangunan sedang berada di tempat kerjaan. Sedangkan istrinya membantunya mencari nafkah menggosok pakaian ke rumah-rumah warga.

Saat ditinggalkan istrinya, Silmi Rindu bersama kakaknya, Nurhabibah boru Tambunan (7) yang masih duduk di kelas 1 SD. “Menurut Habibah dia dan adiknya bermain di halaman rumah,” ujarnya.

Pada saat bermain, Habibah di panggil tetangga untuk membelikan handiplas di salah satu warung yang berjarak 30 meter. Habibah lalu bergegas pergi, meninggalkan adiknya di halaman rumah.

Sekembalinya Habibah ke rumah, ditemuinya adiknya sudah berada di dalam rumah menangis-nangis karena kesakitan.

Oleh Habibah dibuka baju adiknya, ternyata badanya sudah basah terkelupas tersiram air panas. “Semua tetangga berdatangan. Saya yang diberitahu lalu pulang membawa Rindu ke rumah sakit,” jelas Permadi, warga Jalan BM Muda, Gang Sejahtera, Kelurahan Padangmatinggi, Kota Padangsidimpuan.

Kasus yang menimpa putrinya membuat pasangan suami istri ini binggung. Keduanya menduga, ada orang yang sengaja menyiramkan air panas ke tubuh putrinya.

“Di rumah tidak ada air panas. Kompor gas dan gelas saja pada saat itu tidak ada. Semua sudah saya perhatikan, bahkan pada saat ditinggalkan kakaknya di berada di halaman rumah,” kata Permadi, dengan nada heran.

Komentar

Loading...