Sempat Ditunda, 2 Terdakwa Pembunuhan Sekeluarga tak Dihukum Mati

DELISERDANG - Dua terdakwa kasus pembunuhan sekeluarga Manajer pabrik kacamata di Tanjung Morawa, Kabupaten Deliserdang, tidak dihukum mati. Bahkan, persidangan sempat ditunda Majelis hakim.

Kedua terdakwa yakni Suryaningrat alias Rio alias Yoyo telah dihukum penjara seumur hidup serta Dian Syahputra alias Komo dengan hukuman 20 tahun penjara.

Dalam amar putusan, Majelis hakim yang diketuai Sarma Siregar di Pengadilan Negeri (PN) Lubuk Pakam, Kabupaten Deliserdang menyebutkan keduanya bersama Agus Hariadi (meninggal dunia) terbukti menghabisi nyawa Manajer pabrik kacamata di Tanjung Morawa, Muhajir (49) dan istrinya Suniati (50) serta anak mereka M Solihin (12). 

Pembunuhan itu terjadi di rumah korban di Dusun II Desa Bangun Sari Gang Rasmi Lorong Rambutan, Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deliserdang, Selasa (9/10/2018) malam.

Majelis hakim menyatakan, kedua terdakwa terbukti melakukan perbuatan yang diatur dan diancam Pasal 340 KUHPidana jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana. 

"Menyatakan terdakwa Suryaningrat alias Rio alias Yoyo secara sah dan meyakinkan bersalah turut serta melakukan pembunuhan berencana. Menjatuhkan hukuman kepada terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara seumur hidup karena terbukti melanggar pasal 340 KUHPidana," jelas Sarma saat sidang di PN Lubuk Pakam, Rabu (26/6/2019).

Putusan ini berbeda dengan tuntutan yang diajukan oleh  Jaksa Penuntut Umum (JPU) Jhon Wesley Sinaga. Sebelumnya Jaksa meminta agar Suryaningrat dijatuhi hukuman mati dan hukuman seumur hidup untuk Dian. Menyikapi putusan majelis hakim, kedua terdakwa menyatakan pikir-pikir dan terlihat pasrah. Begitu pula dengan pihak JPU.

Sementara itu, Desy Rahmawati (23) anak korban yang turut hadir pada persidangan, menangis dan kecewa meski mempercayai putusan hakim. "Saya serahkan kepada hakim," ujarnya.

Persidangan beragenda putusan kasus pembunuhan terhadap sekeluarga sempat molor sehari, seharusnya sesuai penetapan. Penundaan itu terjadi karena Majelis hakim yang diketuai Sarma Siregar bersama dua anggotanya, Liberti Sitorus dan Udut Napitupulu belum berdiskusi dalam menyimpulkan putusan.

Seperti diketahui, kasus pembunuhan ini terungkap dari penemuan jasad Muhajir, Manajer pabrik kacamata PT Domas Intiglass Perdana, Tanjung Morawa di Aliran Sungai Belumai, tepatnya di Desa Tadukan Raga, Kecamatan STM Hilir, Kamis (11/10/2018).

Saat itu jenazah sudah membusuk, dengan posisi tangan dan kaki terikat tali nilon. Tiga hari kemudian, Minggu (14/10/2018), jasad M Solihin (12) ditemukan di tepi aliran Sungai Belumai di Dusun B Bintang Meriah, Desa Limau Mungkur, Kecamatan Sinembah Tanjung Muda (STM) Hilir, Deliserdang. Dua hari kemudian, Selasa (16/10/2018), jasad Suniati ditemukan di perairan Pulau Pandang, Batubara, Sumut. 

Polisi kemudian melakukan penyelidikan. Kasus pembunuhan ini pun terkuak. Kedua terdakwa yang dipimpin Agus Hariadi (meninggal dunia) merencanakan pembunuhan tersebut. Saat berkumpul, Agus sering menuding Muhajir  yang tinggal tepat di samping rumahnya itu telah menyantetnya dan keluarganya.

Agus akhirnya mengajak kedua terdakwa untuk menghabisi korban pada Senin (8/10/2018) sore. Mereka juga diajak lebih dulu memakai sabu-sabu sebelum melakukan pembunuhan.

Penulis: Mauza
Editor: Redaksi

Baca Juga