Sardiyan Seniman Wayang Kulit Sergai Tutup Usia

Bupati Sergai H Soekirman memberikan sambutan takziah di kediaman almarhum Sardiyan, di Dusun 1 Perjuangan Desa Pegajahan Kecamatan Pegajahan Sergai.(Foto/MEDANmerdeka)
Bupati Sergai H Soekirman memberikan sambutan takziah di kediaman almarhum Sardiyan, di Dusun 1 Perjuangan Desa Pegajahan Kecamatan Pegajahan Sergai.(Foto/MEDANmerdeka)

SERGAI – Suasnaa duka menyelimuti kediaman pembina Paguyuban Temu Kangen Suko Budoyo, almarhum Sardiyan atau Raden (69), di Dusun I Perjuangan, Desa Pegajahan, Kecamatan Pegajahan, Kabupaten Sergai.

“Almarhum Sardian atau yang biasa kami sapa Raden, sosok panutan. Beliau tidak pernah absen, baik latihan maupun bermain wayang kulit,” kenang Bupati Sergai, H Soekirman saat takziah, Selasa (11/6/2019).

Dengan tegar, Soekirman mengatakan, bahwa setiap yang hidup pasti akan mengalami kematian. Dalam ilmu tasauf, kematian merupakan awal kehidupan baru (kelanggengan). Oleh karena itu, bekal yang dibawa adalah amal zariah, ilmu yang bermanfaat dan doa anak yang saleh.

“Salah satu ilmu yang ditinggalkan almarhum Sardiyan yaitu tata cara memukul kenong. Kita dan kawan-kawan patut berbangga, banyak warisan budaya Jawa yang ditinggalkan dan diajarkan beliau untuk generasi kita,” kenang Soekirman.

Soekirman mengaku berduka atas kepergian almarhum Sardiyan. Semua berharap, kepergian Sardiyan khusnul khotimah.

Sebelumnya Koordinator Paguyuban Temu Kangen Bedah Budoyo Hendry Suharto mengatakan, bahwa almarhum pak Sardiyan ini sudah bersama turut mengembangkan dan membudayakan wayang kulit sejak tahun 2006 lalu.

Budaya wayang kulit di ini hampir punah. Tentunya kepergian almarhum pak Sardiyan merupakan duka yang mendalam bagi kami keluarga besar Paguyuban Temu Kangen Bedah Budoyo. Semoga Almarhum meninggal dalam khusnul khotimah.

Penulis: Rasum Santarwi
Editor: Redaksi

Baca Juga